Polisi Diminta Usut Kabar Pria Bertopi Dengan Lambang PKI di Debat Capres IV

Pria bertopi dengan lambang PKI yang hadir di debat capres IV. (Foto: Medsos)

Jakarta, Dekannews- Ketua Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) DKI Jakarta, M Rico Sinaga, meminta Polri mengusut tuntas kabar tentang adanya seorang anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) yang menghadiri Debat Capres IV Pemilu 2019 di Hotel Sangri-La di Jakarta, Sabtu (30/3/2019).

"Kabar ini mengejutkan dan menbulkan kegaduhan menjelang hari pencoblosan Pemilu 2019 yang hanya tinggal tiga pekan lagi," katanya di Jakarta, Senin (1/4/2019).

Ia mengingatkan, isu tentang kebangkitan PKI telah lama muncul, terhitung sejak Jokowi-Ahok mengikuti Pilgub DKI Jakarta 2012, dan berlanjut sejak Jokowi-JK memenangkan Pilpres 2014.

Isu PKI ini bahkan telah menimbulkan korban, karena setidaknya tiga orang telah dipenjara karena mendengung-dengungkan bahwa Jokowi anak PKI dan bahwa PKI diduga telah bangkit kembali di era pemerintahan Jokowi.

Ketiga orang tersebut adalah admin akun @TrioMacan2000, Raden Nuh; Ustad Alfian Tanjung; dan penulis buku Jokowi Undercover, Bambang Tri.

"Karena itu tak heran kalau begitu ada kabar di media sosial bahwa ada seorang bertopi dengan lambang palu arit menghadiri debat Capres IV di Hotel Sangri-La, publik pun geger. Apalagi kabar itu disertai foto-foto yang dimaksud," katanya.

Meski demikian Rico juga mengingatkan bahwa tak lama setelah kabar itu muncul, ada klarifikasi bahwa kabar dan foto itu hoaks, karena sesungguhnya di topi pria itu tak ada lambang palu arit, namun direkayasa sedemikian rupa dengan photoshop, sehingga lambang PKI itu ada.

"Karena itu aparat berwajib perlu menyelidiki, sesungguhnya kabar ini hoaks atau sungguhan. Jika hoaks, penyebarnya harus dimintai pertanggungjawaban, namun jika benar, maka pria bertopi dengan lambang PKI itu harus dipidanakan karena melanggar Tap MPR Nomor 25 Tahun 1966 tentang Pembubaran PKI dan Larangan Menyebarkan Komunisme/Marxisme-Leninisme," katanya.

Rico menegaskan, ia menyampaikan hal ini karena selain FKDM.memiliki fungsi deteksi dini dan cegah dini, juga karena Gubernur Anies Baswedan pernah memberi amanat agar FKDM ikut menjaga kondisifitas Ibukota, termasuk menjelang, saat dan setelah Pemilu 2019.

"Kita tak dapat memungkiri kalau isu kebangkitan PKI saja sudah merisaukan. Apalagi jika ada anggota PKI yang hadir di acara debat Capres," pungkasnya.

Untuk diketahui, kabar tentang adanya pria bertopi dengan lambang palu arit menghadiri debat Capres IV, Sabtu (30/3/2019), mulai viral di media sosial sejak Minggu (31/3/2019). Dari empat foto yang beredar, pria bertopi dengan lambang palu arit itu memiliki ciri-ciri berkacamata, brewokan, dan mengenakan jaket hitam yang di punggungnya terdapat tulisan #01 Dwngan tulisan sangat besar, dan nama "Jokowi' di atasnya, serta nama "Amin" di bawahnya.

"Ini yang lagi viral? Min @tni_ad kalau butuh data orang ini bisa kontak saja min. Dia pernah ke Rusia ke St Petersburg," kata akun @JackVardan.

"Saya jadi tidak heran mengapa dari kubu 01 selalu berembus soal khilafah ke 02, rupanya di sana ada PKI-nya," kata Kadiv Advokasi dan Bantuan Hukum Partai Demokrat yang juga Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean, melalui @FerdinandHutah2.

Tak lama setelah foto-foto itu beredar, muncul informasi di Medsos bahwa pria dengan topi berlambang PKI itu memiliki nama dengan inisial HW, anak dari seorang purnawirawan berinisial WN yang merupakan anggota faksi PKI yang melebur ke salah satu partai peserta Pemilu dengan kantor DPD berada di Solo, Jawa Tengah.

Namun kabar ini kemudian disusul kabar bahwa foto-foto hoaks, karena sesungguhnya ketika pria itu datang ke acara debat Capres, di topinya tak ada lambang apa-apa.

Jika foto itu memang hoaks, maka penyebarnya dapat dijerat dengan UU ITE, namun jika bukan hoaks, maka pria yang diduga berinisial HW tersebut dapat dikenakan UU Nomor 27 Tahun 1996 tentang Perubahan Pasal 107 KUHP tentang Makar. (rhm)