Polisi Bedakan Kerumunan Massa di Jakarta dan Solo, Begini Kata Pakar Biomolekular Biologis

Akun Twitter pakar molekular biologis Ahmad Utomo. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Kebijakan polisi yang hanya menindak kerumunan yang terjadi pada penyelenggaraan pesta pernikahan anak bungsu Habib Rizieq Shihab (HRS) dan penyelenggaraan Maulid Nabi Muhammad SAW oleh FPI di Petamburan, Jakarta Pusat, pada 14 November 2020, masih menuai kontroversi. 

Apalagi karena meski kerumunan serupa terjadi juga di Solo, saat putra sulung Presiden Jokowi, Gubran Rakabuming Raka, mendaftar ke KPU Solo sebagai peserta Pilkada Solo 2020, dan di Pekalongan, Jawa Tengah, saat acara Kliwonan Habib Lutffi, Kamis (16/11/2020), kedua kerumunan itu tidak dipersoalkan. 

Bahkan pada Rabu (18/11/2020),  Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono mengatakan, kerumunan di Jakarta dan Solo harus dibedakan. 

"Jangan samakan kasusnya. (di Solo) itu urusan Pilkada, di sana ada pengawasnya (Bawaslu)," kata Awi dalam konferensi pers di Mabes Polri, Jakarta Selatan. 

Ia menegaskan, Pilkada secara konstitusional sudah diatur dalam perundangan-undangan, termasuk turunan-turunannya sampai dengan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) telah disusun sedemikian rupa. Bahkan, maklumat terakhir Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis pun terkait dengan Pilkada.

"Peraturan perundang-undangan sudah mengatur semuanya, penyelenggara pun sudah diatur sedemikian rupa dan ini amanat undang-undang. Jangan disamakan dengan alasan-alasan yang tidak jelas," tutur Awi.

Kendati demikian, Awi mengatakan, sesuai Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 6 tahun 2020 tentang Peningkatan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan dalam Pencegahan dan Pengendalian Covid-19, Polri bersama TNI, pemerintah daerah serta stakeholder lainnya melakukan patroli bersama. Juga melakukan pengawasan, menertibkan. 

Menanggapi hal ini, pakar molekular biologis Ahmad Utomo secara eksplisit mengatakan kalau kerumunan di Jakarta dan Solo sama-sama berpotensi menjadi klaster penularan Covid-19, karena virus hanya tunduk pada fungsi biologisnya dan tak peduli pada peraturan manusia. 

Begini tanggapan Ahmad yang disampaikan melalui akun Twitter-nya, @PakAhmadUtomo, Kamis (19/11/2020). 

"Virus hanya tahu reseptor ACE2 manusia. Ketika manusia berkerumum, virus dengan senang hati menghinggapinya, karena virus tidak peduli peraturan manusia. Virus hanya tunduk kepada fungsi biologisnya. Jadi, sekarang terserah manusianya deh." (rhm)