Plaza Ummat, Pasar Digital Berbasis Syariah

Chief of Executive Officer (CEO) Plaza Ummat Marketplace Getta Leonardo Arisanto

Jakarta, Dekannews - "Plaza Ummat, merupakan pasar digital berbasis syariah pertama di Indonesia dan dunia. Plaza Ummat mengusung konsep 100% halal dan non ribawi," ungkap Chief of Executive Officer (CEO) Plaza Ummat Marketplace Getta Leonardo Arisanto kepada wartawan saat Softlaunching di Jakarta, Rabu (29/8/2019).


Menurut Getta, soft launching pada 28 Agustus sampai akhir September 2019, Plaza Ummat (PU)  akan lebih menggenjot pada kegiatan sosialisasi  dan publikasi melalui communities, media massa, sosial media, dan sebagainya.  Dengan berbagai langkah tersebut, pada kuartal 2019 (Oktober–Desember 2019) diharapkan bisa terjadi quantum loop atas transaksi ataupun jumlah toko/outlet yang terdaftar  dengan mencermati data pengguna  internet saat ini yang sudah sampai ke pelosok tanah air dan masih terkonsentrasi di daerah Pulau Jawa dan Sumatera. "Selanjutnya, kami berencana ekspansi di luar Jawa dan Sumatera. Pada 2019, PU menargetkan volume transaksi bisa menembus diatas Rp 1 triliun," terang Getta.


Dalam kesempatan tersebut Getta menjelaskan, Plaza Ummat (PU) hadir dengan tujuan untuk pemberdayaan ekonomi umat di segala bidang, termasuk barang dan jasa. "Melalui PU, kami menyediakan wadah seluas-luasnya untuk umat berniaga, menawarkan produknya baik barang ataupun jasa. Selain itu, kehadiran PU untuk mengantisipasi trend masyarakat yang serba digital,  termasuk cara pemenuhan kebutuhan hidupnya.  Kami berkeyakinan, E-commerce akan menjadi bisnis masa depan yang cerah dan akan berkembang di tengah persaingan global guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan membantu mewujudkan cita cita luhur bangsa Indonesia masyarakat adil makmur dan sejahtera," tekad Getta. 


PU, lanjut Getta,  hadir dengan tag line 100 % halal dan non ribawi serta memiliki fitur kontrol sosial masyarakat atas semua toko/barang/jasa yang ditawarkan kepada pelanggan atau customer. "Dalam fitur  pencarian produk halal, tersedia daftar produk halal yang telah terdaftar di Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM MUI), mengontrol pelaporan bila ada produk-produk yang tidak sesuai untuk kaum muslim. Sekaligus yang membedakan dengan Market Place lain yaitu halal dan non ribawi menjadikan PU Platform  sesuai bagi sebagian mayoritas kaum muslim," beber pria bertubuh subur ini.


Dalam PU, semua produk barang ataupun jasa, baik itu produk kebutuhan dasar (pangan, sandang dan papan) sampai dengan kebutuhan aktualisasi diri (mobil, gadget dan lainnya). Bahkan kebutuhan akan urusan ibadah bisa terlayani dengan baik seperti program tahfidzul Qur’an atau ustad ke rumah dengan membantu penjadwalan kajian oleh ustad yang mendaftar  atau terdaftar di PU. Syaratnya  lolos seleksi dari team kurator/advisor kami. Semua produk harus didaftarkan dan bersertifikasi halal dari LPPOM MUI ataupun Lembaga Halal lainnya.


Selain berbelanja produk halal di PU, umat juga menikmati kemudahan dan kecerdasan bertransaksi melalui transaksi non ribawi. Keuntungan lainnya dengan melalui ekspedisi cash on delivery (COD) dan Giro Pos yang memiliki pelayanan dan kemudahan bertransaksi secara baik dan non riba. "Ke depannya kami kembangkan ke arah yang lebih besar lagi sesuai dengan perkembangan jaman yang terus berubah dan bergerak dan kami tetap akan pegang teguh 100 % halal dan non ribaw," ujar Gettai.


Mengacu PU berbasis digital,  apabila toko belum memiliki sertifikat halal, maka toko tersebut bisa mengajukan permohonan sertifikat halal dari LPPOM MUI dengan cara klik icon link yang disediakan di Website Market Place. "Jika dibutuhkan,  kami bersedia memberikan advis atau konsultasi terkait hal ini. Siring berkembangnya waktu kami berniat memfasilitasi kebutuhan mayarakat untuk dapat mendaftarkan produk-produk sertifikasi halal melalui PU," jelas Getta.


PU merupakan pelopor market place yang menampilkan fitur halal sesuai dengan data produk yang terdaftar di LPPOM MUI. Sertifikat halal MUI adalah fatwa tertulis MUI yang menyatakan kehalalan suatu produk sesuai dengan syari’at Islam. Sertifikat halal MUI ini merupakan syarat untuk mendapatkan ijin pencantuman label halal pada kemasan produk dari instansi pemerintah yang berwenang. 


"Kami yakin, prospek PU ke depan sangat cerah. Terlebih lagi produk halal kini menjadi prioritas mayoritas muslim.  Kami berkeyakinan dapat meraih sukses karena peluangnya masih sangat terbuka lebar. Hal ini mengingat kebanyakan E-Commerce yang ada di Indonesia dalam cara bertransaksi masih belum memperhatikan unsur halal dan masih banyak yang terkait riba. Oleh sebab itu, kehadiran PU ini sekaligus untuk menjawab tantangan tersebut," kata Getta.


Dengan jumlah penduduk muslim Indonesia yang demikian besar, merupakan pasar utama/keunggulan platform PU yang berbasis keumatan.  Hal ini diperkuat dengan adanya Undang-Undang Nomor 34 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal (JPH) yang mengharuskan  seluruh produk, termasuk hasil produksi Usaha Mikro, kecil dan Menengah (UMKM) wajib bersertifikat halal mulai 17 Oktober 2019, yang sebelumnya sifatnya sukarela. 


Berdasarkan data Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Kementerian Agama, saat ini baru sekitar 2 persen dari total produk yang beredar di pasaran bersertifikasi halal. Dengan demikian, kehadiran PU ini selain memiliki peluang besar sekaligus juga untuk merespon secara positif dan nyata dari pemberlakuan UU tersebut.


Mengenai anggaran awal PU, pada tahun pertama dibutuhkan anggaran sekitar Rp20 Milyar. Dana tersebut dialokasikan untuk IT System, kantor, research dan sebagainya. Dengan berkembangnya sistem dan seiring  berjalannya waktu,  kami  menyadari adanya keterbatasan dalam perkembangan.  Pada satu titik tertentu, sangat mungkin  kami akan membuka peluang investor untuk berinvestasi di Plaza Ummat Market Place sepanjang memiliki kesamaan tujuan yakni: meningkatkan pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraaan umat dan masyarakat.


"Sejak soft launching yang dilaksanakan pada 28 Agustus sampai akhir September 2019, kami akan lebih menggenjot pada kegiatan sosialisasi,  dan publikasi PU melalui communities, media massa, sosial media, dan sebagainya. Selain juga silaturahmi, konsultasi dan audiensi dengan pejabat pemerintah (pusat dan daerah), organisasi keagamaan seperti MUI, DMI, NU, Muhammadiyah, organisasi bisnis serta tokoh agama, tokoh masyarakat, pelaku dunia usaha dan lain sebagainya," beber Getta. 


Dengan berbagai langkah tersebut, pada kuartal 2019 (Oktober–Desember 2019),  PU sangat yakin bisa terjadi quantum loop atas transaksi ataupun jumlah toko/outlet yang terdaftar  dengan mencermati data pengguna  internet saat ini yang sudah sampai ke pelosok tanah air dan masih terkonsentrasi di daerah Pulau Jawa dan Sumatera. Selanjutnya, PU berencana ekspansi di luar Jawa dan Sumatera. Sementara pada 2019, PU menargetkan volume transaksi bisa menembus di atas Rp1 triliun. 

Sejumlah kegiatan konkrit yang dilakukan pada 2019 oleh PU diantaranya: (1) bekerja sama dengan LPOM MUI Jakarta tentang sertifikasi halal, (2) berkerjasama dengan eks  Banker Indonesia, (3) berkerjasama dengan komunitas yang ada, (4) berkerjasama dengan Indonesia Marketing Association, (5) berkerjasama dengan Asosiasi E-commerce Indonesia. (kir)