PKWT Tak Betah Dikaryakan di CV CMA, UP Parkir Lepas Tangan

Fadi Halimi. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Unit Pengelola (UP) Parkir DKI Jakarta dinilai telah melakukan tidakan yang tidak bertanggung jawab karena lepas tangan atas permasalahan yang dihadapi pegawai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)-nya yang dikaryakan di CV Cahaya Muara Angke (CMA).

Tindakan UP Parkir tersebut bahkan telah dilaporkan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, DPRD, dan kepada Dinas Perhubungan pada 11 Oktober 2019.

"Agustus lalu saya dan lima teman saya dikaryakan di CV CMA, perusahaan yang mengelola parkir di Pos Pelabuhan Ikan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, tapi kebanyakan dari kami tidak betah dan keluar, sehingga saat ini yang masih bekerja di CMA hanya dua orang," jelas Fadil Halimi, PKWT yang melapor tersebut kepada dekannews.com di Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Lebih jauh pria 40 tahunan ini menjelaskan,  ia dan kelima rekannya dikaryakan di PT CMA karena masa kontrak di UP Parkir akan habis. Ia sendiri saat dikaryakan di CV CMA pada Agustus 2019, hanya memiliki sisa masa kontrak selama lima bulan.

"Kami tidak betah kerja di CMA karena selain sistem kerjanya tidak jelas, juga karena janji yang diberikan saat kami akan dikaryakan, tidak benar. Di situ kami kerja 12 jam sehari, padahal katanya dengan menggunakan sistem shift. Saat saya keluar setelah 14 hari kerja, ternyata saya hanya diberi Rp1,5 juta. Padahal katanya gaji disesuaikan dengan UMP DKI yang tahun ini sebesar Rp3,9 juta," katanya.

Fadil mengakui, setelah tidak lagi bekerja di CMA, ia dan teman-temannya sempat dua kali ke UP Parkir untuk mengadukan nasib, namun tak digubris, sehingga meski masa kontraknya dengan UP Parkir baru habis pada Januari 2019, sejak ia keluar dari CMA pada Agustus, hingga kini masih menganggur.

"Karena itu tanggal 11 Oktober saya menulis surat kepada pimpinan UP Parkir dan surat itu saya tembuskan kepala Gubernur, DPRD dan kepala Dishub. Dalam surat itu saya jelaskan apa yang kami alami dan mengutarakan keinginan kami untuk kembali bekerja di UP Parkir," katanya.

Kendaraan yang diparkir di halaman parkir Pelabuhan Ikan Muara Angke. 

 

Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebagai pengelola parkir di Pos Pelabuhan Ikan Muara Angke, CV CMA memang terkesan tidak profesional.

Seorang warga mengatakan, saat parkir di Pos Pelabuhan Ikan Muara Angke masih dikelola UP Parkir, situasi di Pelabuhan Ikan Muara Angke lumayan tertata, namun setelah dikerjasamakan dengan CV CMA, kondisinya berubah. Pasalnya, CMA hanya mengutip retribusi parkir di pos pelabuhan, namun tidak melakukan pengaturan terhadap kendaraan-kendaraan yang masuk. Akibatnya, tak sedikit kendaraan yang diparkir secara sembarangan di tepi jalan sehingga menimbulkan kesan semrawut, dan di beberapa titik terdapat kendaraan yang parkir di kiri dan kanan jalan, sehingga luas ruas jalan menyempit.

Selain hal tersebut, menurut Fadil, sesuai perjanjian dengan UP Parkir, CMA seharusnya memasang gate di pintu masuk sebagai salah satu bentuk profesionalisme dalam pengelolaan parkir, namun hingga kini gate itu tidak ada.

Pos Pelabuhan Ikan Muara Angke tidak dilengkapi gate. 

 

Seorang sumber yang enggan menyebutkan namanya mengatakan, jika CMA dapat mengelola parkir di Pelabuhan Ikan Muara Angke dengan baik dan profesional, pemasukan parkir dari kawasan ini dapat mencapai Rp300 juta/bulan.

"Tapi dari info yang saya dapat, pemasukan saat ini hanya Rp170 juta," katanya. (rhm)