Perumda PSJ Beli Lahan 70 Ha Kurun Dua Tahun

Ketua Komisi B DPRD DKI Jakarta Abdul Aziz memberikan keterangan kepada wartawan usai memimpin rapat dengan Perumda Pembangunan Sarana Jaya, Senin (15/3/2021). [dekannews/kirman]

Jakarta, Dekannews – Rapat antara Komisi B DPRD DKI Jakarta dengan Perumda Pembangunan Sarana Jaya dengan agenda Evaluasi Terhadap Program Kerja Perumda Pembangunan Sarana Jaya Tahun 2020 dan Rencana Kerja Tahun 2021, memunculkan data lainnya, Peruma PSJ telah membeli lahan seluas 70 hektar dalam kurun dua tahun anggaran.

“Karena ada info dari Sarana Jaya bahwa selama ini mereka sudah membeli 70 hektare tanah. Selama ini, dua tahun terakhir,” ungkap Ketua Komisi B Abdul Aziz, usai memimpin rapat kepada wartawan, di Gedung DPRD DKI Jakarta, Senin (15/3/2021).

Terkait pembelian lahan seluas 70 hektar tersebut, Abdul Aziz mengaku pihaknya tidak mengetahui lokasi maupun peruntukan lahan yang telah dibeli. Bahkan ia tidak pernah menerima permasalahan pengadaan lahan oleh perusahaan properti milik Pemprov DKI tersebut. Hingga akhirnya, kasus dugaan korupsi pengadaan lahan yang menjerat Dirut Perumda Pembangunan Sarana Jaya Yoory Corneles muncul ke permukaan.

“Kami ingin tahu lebih detail 70 hektare ini di mana lokasinya dan untuk apa. Selain itu, apakah ada permasalahan dengan tanah-tanah itu. Selama ini kan tidak pernah dibuka. Kita tahunya ini lancar lancar saja. Ternyata setelah kasus ini kita lihat ini ada potensi penyalahgunaan dan sebagainya. Karena itu kami minta Sarana Jaya untuk 70 ha ini datanya dibuka kepada kami,” pinta Abdul Aziz.

Sebagai mitra kerja, Aziz meminta agar ke depannya Perumda PSJ terbuka dalam menyampaikan data kepada komisinya. Termasuk, peruntukan lahan 70 hektare yang dibeli oleh Sarana Jaya. Hal ini, sebutnya, merupakan bagian dari pengawasan DPRD DKI Jakarta terhadap kinerja BP BUMD. “Kalau memang ada masalah dibuka kepada kami, kami tidak ingin kejadian di masa depan yang kami tidak tahu, dilimpahkan ke kami. Seperti juga kejadian ini. Kejadian ini ada di masa sekarang,” pungkas Abdul Aziz. (kir)