Persepi Tantang Kubu Prabowo-Sandi Buka-bukaan Data Hasil Pilpres

Persepi tantang Prabowo buka-bukaan soal data hasil Pilpres dalam konferensi pers di salah satu hotel di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Foto: (Dekan)

Jakarta, Dekannews- Ketua Umum Perhimpunan Survei Opini Publik (Persepi), Philips J Vermonte, menantang Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi untuk buka-bukaan data hasil Pilpres 2019.

Tantangan ini diajukan menyusul dilaporkannya lima lembaga survei anggota organisasi ini ke Bareskrim Mabes Polri, Kamis (18/4/2019), dan adanya tudingan kalau kelima lembaga survei tersebut telah melakukan kebohongan publik saat menyelenggarakan quick count (QC) Pilpres 2019 yang ditayangkan sejumlah televisi nasional, di antaranya TVOne, SCTV dan Indosiar.

Kelimanya adalah Indo Barometer, Charta Politica, Center for Strategic and International Studies (CSIS), Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), dan Poltracking.

"Hari ini kita buka datanya, karena itu semua anggota Persepi yang melakukan quick count membuka booth, dan nanti silahkan lihat datanya di situ," katanya dalam jumpa pers di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Sabtu (20/4/2019).

Peneliti senior CSIS ini mengatakan, dari 32 anggota Persepi, yang melakukan QC Pilpres 2018 sebanyak delapan lembaga survei, namun tiga lainnya tidak ikut dilaporkan, yakni Indikator Politik Indonesia, Cyrus Network, dan Konsep Indonesia.

"Nah, karena sekarang data sudah kita buka, silakan BPN (Prabowo-Sandi) juga membuka datanya," tantang dia.

Philip menegaskan, lembaga-lembaga survei yang bernaung di bawah organisasinya merupakan lembaga-lembaga profesional yang melakukan kegiatan sesuai dengan metodologi statistik, bukan lembaga abal-abal.

Kalau hasil QC anggotanya dianggap tidak benar atau tidak akurat, ia menyilakan Prabowo-Sandi dan pendukungnya untuk membuktikan dan tidak mengeluarkan statemen-statemen yang cenderung mendelegitimasi anggotanya, dan bahkan menuding sedang menggiring opini publik.

"Lagipula QC bukan hasil final Pilpres, karena penentu hasil Pilpres adalah real count KPU," katanya.

Hal senada dikatakan Asep Syarifuddin dari Indo Barometer. Ia.mengatakan kalau QC bukan hasil resmi Pilpres, karena hanya merupakan dugaan, proyeksi dan hanya dapat dijadikan referensi.

Ia mengaku sakit hati dengan tuduhan-tuduhan yang muncul, karena katanya, lembaga surveinya melakukan QC sesuai metodologi statistik dan dengan sistem random, serta dipersiapkan cukup lama, beberapa bulan sebelum Pilpres.

"Kalau kita diminta tansparan, kita siap transparan. Kita siap buka-bukaan data," katanya.

Sayangnya ketika wartawan mendatangi delapan booth lembagai survei yang tersedia di lokasi konferensi pers, tak semuanya mau membuka data di TPS mana saja mereka mengambil sampel untuk penghitungan QC-nya, meski diakui rata-rata mereka menggunakan 2000 TPS sebagai sampel.

Salah satu lembaga survei yang tak mau terbuka asalah Indikator Politik Indonesia. Ketua lembaga ini, Burhanuddin Muhtadi, hanya mau memberikan kode QC-nya, seperti SMU016, SMU088 dan sebagainya.

Ketika ditanya bagaimana publik mau percaya jika dia tidak terbuka seperri itu? Jawabannya singkat; "Kami tidak memaksa publik untuk percaya," katanya.

Meski demikian ada juga lembaga survei yang mau terbuka, contohnya CSIS. Lembaga itu antara lain melakukan sampel di TPS 033 Kelurahan Kebon Kosong, Kecamatan Kemayoran, Jakarta Pusat; TPS 030 Kelurahan Jembatan Lima, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat; dan di TPS 3 Kelurahan Tanjung Karang, Kecamatan Enggal, Kabupaten Lampung.

Di TPS 033 Jokowi-Ma'ruf mendapat 139 suara dan Prabowo-Sandi 92 suara; di TPS 030 Jokowi-Ma'ruf mendapat 122 suara dan Prabowo-Sandi 57 suara; dan di TPS 3 Jokowi-Ma'ruf mendapat 53 suara dan Prabowo-Sandi 129 suara.

Seperti diketahui, QC lembaga survei dilaporkan ke polisi karena dianggap membohongi publik dan melakukan penggiringan opini, karena berdasarkan formulir C1 yang dikirim saksi dan relawan dari TPS di 34 provinsi di Tanah Air kepada BPN Prabowo-Sandi, pasangan ini menang dibanyak TPS dibanding Jokowi-Ma'ruf.

Bahkam berdasarkan real count internal BPN, Prabowo mengklaim pihaknya menang dengan 26% suara.

Saking kesalnya kepada lembaga survei, Prabowo bahkan memgatakan kalau mungkin para lembaga survei itu sebaiknya pindah ke Antartika dan menyurvei pinguin-pinguin yang ada di sana.

Saat ke Bareskrim Polri, Ketua Koalisi Aktivis Masyarakat Anti Korupsi & Hoax (KAMAKH), Erra Maniara, sebenarnya melaporkan enam lembaga. Satu lagi adalah Perludem, namun lembaga ini bukan anggota Persepi dan juga bukan lembaga survei. (man)