Pengamat Transportasi Sarankan Anies Konsep Ulang Moda Transportasi Busway

Jim Lomen Sihombing. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Pengamat transportasi Jim Lomen Sihombing menilai, selama tiga tahun memimpin Jakarta, Anies Baswedan miskin inovasi dalam pelayanan publik di bidang transportasi, dan pembangunan yang dilakukan di bidang ini cenderung hanya bersifat kosmetik belaka. 

"Saya membaca di media sosial Anies dipuji-puji karena dia membangun kawasan Sudirman-Thamrin menjadi kawasan yang tertata apik seperti di kota-kota besar di luar negeri dengan trotoar yang lebar dan JPO (jembatan penyeberangan orang) yang dibuat sedemikian rupa sehingga menjadi sangat indah di malam hari dan menjadi spot instagramable," katanya di Jakarta, Kamis (22/10/2020). 

Menurut alumnus Universitas Trisakti itu, semua yang dilakukan Anies tersebut hanya kosmetik belaka, karena pada era gubernur-gubernur Jakarta sebelumnya, kawasan Thamrin-Sudirman sudah ditata demi kepentingan perekonomian, karena kawasan Thamrin-Sudirman merupakan salah satu kawasan pusat bisnis di Jakarta, meski dengan gaya yang berbeda.

Jika bicara tentang layanan transportasi, jelas Jim, yang dibahas tak hanya masalah trotoar dan JPO, tapi juga kewajiban pemerintah dalam menyediakan sarana transportasi publik yang aman, nyaman dan murah untuk menunjang mobilitas warga, karena pajak yang dibayarkan warga digunakan untuk pembangunan di segala bidang, termasuk di bidang transportasi. 

Trotoar dan JPO, juga halte, tegas Jim, hanya lah sarana penunjang. Selebar apapun trotoar dan sebagus apapun JPO dan halte, jika sarana transportasi yang disediakan pemerintah tidak seperti yang diharapkan masyarakat, tetap saja takkan dapat menyelesaikan permasalahan transportasi di Jakarta yang menjadi penyebab kemacetan parah dan polusi udara. 

Jim mengakui, fokus Anies untuk memaksimalkan moda transportasi busway dan mengintegrasikannya dengan moda transportasi yang lain dengan sistem Jak Lingko, sudah benar, karena sistem itu memungkinkan masyarakat melakukan perjalanan dengan biaya yang murah dan dengan moda transportasi yang berganti-ganti. 

Namun, tegas dia, dari apa yang ia cermati selama bertahun-tahun ini, pengelolaan moda transportasi busway yang menjadi andalan Pemprov DKl tidak mengalami perkembangan atau perubahan yang berarti alias begitu-begitu saja, sehingga Jakarta tetap macet dan banyak masyarakat yang tetap enggan meninggalkan kendaraan pribadinya di rumah, dan naik busway ke tempat kerja. 

"Tak ada inovasi dalam pengelolaan busway," tegas Jim. 

Pengamat yang tinggal di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, ini melihat ada ketidaktepatan konsep sejak moda transportasi bus rapid transit (BRT) itu diterapkan Gubernur Jakarta Sutiyoso pada 2004, yang membuat tujuan penerapan busway untuk mengatasi kemacetan dan mengurangi polusi udara, belum tercapai. 

Menurut Jim, sumber ketidaktepatan penerapan moda transportasi busway itu terletak pada pembuatan jalur dan halte yang berada di jalur tengah jalan, sehingga untuk mencapai halte itu atau meninggalkannya, orang harus melalui jembatan yang panjang, berliku dan tinggi. 

"Kondisi jembatan itu membuat banyak pemilik kendaraan pribadi yang enggan naik busway," jelas Jim. 

Selain berdampak pada psikologi masyarakat, jalur dan halte busway yang berada di tengah jalan juga membuat pohon yang semula berada di jalur hijau dimana kini halte berada, ditebang, dan jembatan penyeberangan yang dibuat sangat panjang dan berliku di setiap perempatan jalan yang berfungsi untuk menghubungkan satu halte dengan halte yang lain agar pengguna dapat transit dan berpindah ke busway dengan koridor yang berbeda, membuat estetika kota menjadi rusak. 

"Saya sarankan agar Gubernur mempertimbangkan untuk merekonsep  moda transportasi busway dengan memindahkan halte busway ke jalur lambat atau ke jalan yang berada di sebelah kiri seperti dulu sebelum halte busway dibangun di tengah jalan oleh Sutiyoso," jelas Jim. 

Menurut dia, ada beberapa keuntungan jika halte dibangun di sebelah kiri jalan atau di jalur lambat:
1. Halte busway lebih mudah dijangkau masyarakat dan tidak melelahkan;
2. Tidak merusak estetika kota karena tak ada lagi halte dan jembatan busway yang panjang dan berliku di tengah jalan;.
3. Lahan di jalur tengah jalan eks halte busway dapat kembali ditanami pepohonan agar Jakarta lebih hijau;
4. Lebih safety karena masyarakat tak perlu lagi meniti jalan yang tinggi dan berisiko menimbulkan kecelakaan;
5. Jika terjadi musibah seperti armada busway terbakar di halte sebagaimana pernah terjadi, penumpang tak perlu melompat ke jalanan yang berisiko menimbulkan kecelakaan;
6. Biaya maintenance jauh lebih rendah karena tak ada lagi jembatan busway yang panjang, berliku dan tinggi. 

Jim meyakini, jika halte busway dipindah ke jalur kiri, jumlah penumpang moda transportasi BRT ini akan meningkat tajam. Apalagi jika kualitas pelayanan terus ditingkatkan. 

Peningkatan jumlah penumpang ini, kata Jim, perlahan tapi pasti akan mengurangi kemacetan di Jakarta, karena peningkatan jumlah penumpang mengindikasikan bahwa semakin banyak pemilik kendaraan pribadi yang beralih ke busway. 

"Apalagi kalau di halte-halte busway tertentu, terutama di perbatasan wilayah Jakarta dan sekitarnya, disediakan lahan parkir untuk kendaraan bermotor maupun sepeda," tutup Jim. (rhm)