Pengamat: Prabowo-Sandi Kalah, Indonesia Chaos

Tony Rosyid (pegang mike). (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Tony Rosyid, mengatakan bahwa jika pasangan calon (Paslon) 02 Prabowo-Sandi kalah, akan terjadi chaos karena rakyat akan melakukan people power.

Pasalnya, kemarahan rakyat terhadap pemerintahan Jokowi-JK sudah sangat luar biasa, dan mereka menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik.

"Jutaan massa dari lintas agama dan etnis yang datang saat kampanye akbar 02 di GBK pada 7 April lalu, juga ratusan ribu massa yang menghadiri kampanye Prabowo di Stadion Sriwedari, Solo, pada Rabu (10/4/2019) ini itu menggambarkan bagaimana kondisi emosi dan psikologi masyarakat saat ini. Dan ini sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi lembaga survei maupun Paslon 01 Jokowi-Ma'ruf Amin bahwa apa benar diehard (pendukung garis keras/fanatik) 02 hanya 10% dan diehard 01 sebanyak 20%?" katanya dalam diskusi bertajuk "Kampanye 02 Kerap Diganggu, Tegakkan Fairplay" di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (10/4/2019).

Ia melihat ada banyak hal yang membuat rakyat tak lagi memginginkan Jokowi sebagai presiden. Pertama, karena perekonomian yang sulit; kedua, kemarahan pada kezaliman dan pressure (tekanan) yang dibiarkan terhadap pendukung 02; ketiga, adanya persekusi terhadap ulama yang hingga kini tak ada tersangkanya; dan janji-janji yang tidak ditepati.

"Akumulasi kemarahan ini terus berakumulasi dari hari ke hari bagaikan bola salju. Apalagi karena mereka melihat, mendengar dan merasakan bagaimana kampanye 02 terus diganggu, dipersulit, dan semua ini mereka tumpahkan di arena kampanye 02. Ini alamiah, dan saya lihat tanpa dikapitalisasi oleh 02 pun, ini berjalan," katanya.

Selain hal tersebut, lanjut dosen UIN Jakarta ini, ia menilai, Pabowo merupakan sosok yang otentik, sosok yang tidak suka merekayasa dirinya agar terlihat jauh lebih hebat dari yang sebenarnya, seorang nasionalis sejati, dan seseorang yang berhati tulus.

Prabowo, lanjut dia, bertemu dengan gelombang yang setipe dengan dirinya, yakni alamiah dan nasionalis, sehingga nyambung.

"Kalau Prabowo tipe presiden selfi, saya yakin tidak akan terjadi seperti yang terlihat saat ini dimana kampanye-kampanyenya dibanjiri massa, karena memang ada indikasi sedang terjadi crossing suara besar-besaran dari 01 ke 02, karena masyarakat juga sadar bahwa Indonesia ini negara besar dan tidak bisa dipimpin oleh Presiden Selfi, melainkan presiden yang mampu memahami substasi permasalahan negeri, dan.apa adanya," kata dia.

Maka, Tony pun yakin jika 02 kalah pada 17 April, akan terjadi chaos.

"Akan terjadi people power karena masyarakat yakin telah terjadi kecurangan secara masif, tersruktur dan sistematis. Apalagi karena saat ini pun publik melihat apa yang dilakukan oleh 01 terhadap 02 dan pendukungnya, telah mendapat informasi tentang adanya 17,5 juta yang bermasalah dalam DPT, dan lain-lain, sehingga 02 melakukan berbagai upaya antisipasi dengan membentuk Laskar TPS, Satgas Rekat Militan dan lain-lain," kata dia.

Meski demikian, Tony juga yakin 02 tidak akan menuntut 01 atas semua yang telah dilakukan 01 dan pendukungnya.

Untuk diketahui, Indonesia pernah mengalami people power, yakni saat mahasiswa menduduki gedung DPR/MPR pada Mei 1998 yang berujung pada runtuhnya rezim Orde Baru.

Bila Pilpres 2019 juga menghasilkan people power, maka ini merupakan yang kedua kali.

Sebelumnya, ekonom yang juga anggota Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Rizal Ramli, juga mengatakan bahwa jika kubu 01 mencurangi Pilpres, maka mereka memancing terjadinya people power. (man)