Penangkapan 2 Dus Formulir C1 Boyolali di Menteng Dinilai Janggal

Yupen Hadi (pegang mike) dan M Taufik saat memberi keterangan pers. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- CEO Sekretariat Nasional (Seknas) Prabowo-Sandi, M Taufik, menduga tengah terjadi pembalasan oleh pihak tertentu untuk menjatuhkan citra pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi, menyusul temuan 02 bahwa telah terjadi kecurangan yang terstruktur, sistematis san masif (TSM) pada penyelenggaraan Pemilu 2019.

Dugaan itu muncul setelah adanya kabar tentang penangkapan terhadap sebuah mobil taksi online yang berisi dua dus formulir C1 Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, di Jalan Basuki, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu (5/5/2019) malam.

"Ada orang-orang yang sedang membuat skenario yang luar biasa, karena banyak sekali kejanggalan dalam penangkapan itu yang mengindikasikan kalau para pembuat skenario tersebut sedang berupanya untuk menimbulkan kesan bahwa 02-lah yang curang pada Pemilu 2019," kata Taufik di Seknas Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (6/5/2019).

Taufik menyebut, kejanggalan-kejanggalan dimaksud adalah:
1. Dalam kedua dus tersebut terdapat surat yang menyebutkan kalau formulir-formulir tersebut dari Taufik dan ditujukan kepada Direktur Satgas BPN PS Toto Utomo Budi Santoso di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, namun surat tersebut tidak ber-kop.

Padahal, kata Taufik, Seknas memiliki kop surat dan setiap surat menyurat menggunakan kertas berkop tersebut.

2. Pada surat tersebut disebutkan jabatan dirinya adalah ketua Seknas, padahal jabatannya adalah CEO Seknas.

3. Seknas tidak mengumpulkan formulir C1 dari wilayah lain selain dari DKI Jakarta.

4. Formulir-formulir C1 itu langsung dinyatakan palsu sebelum diselidiki atau diklarifikasi ke KPU Boyolali.

"Hal lain yang perlu diketahui adalah bahwa Seknas tidak punya sarana untuk melakukan kecurangan. Jadi, bagaimana bisa kami punya formulir C1 dari Boyolali?" imbuhnya.

Ia pun meminta kepada pihak-pihak yang merekayasa kasus ini agar kalau ngibul pakai tata krama.

"Ngibul dengan cara begini sudah tidak model lagi," tegasnya.

Untuk diketahui, sejumlah media mengabarkan bahwa pada Minggu malam, saat polisi melakukan Operasi Patuh Jaya di Jalan Basuki, Menteng, Jakarta Pusat, sebuah taksi online ditangkap karena membawa dua dus formulir C1 Kabupaten Boyolali.

Ketua Divisi Hukum dan Penanganan Pelanggaran Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) DKI Jakarta, Puadi, menjelaskan, atas tangkapan itu, polisi berkoordinasi dengan Bawaslu Jakarta Pusat, dan Bawaslu Jakarta Pusat melaporkan temuan ini kepada Bawaslu DKI Jakarta,.

"Kami bersama Bawaslu DKI Jakarta akan melakukan investigasi dan menelusuri serta mendalami keberadaan C1 tersebut," katanya.

Media juga mengabarkan kalau ribuan formulir C1 dalam kedua dus itu memiliki keterangan, “Dari Moh Taufik Seknas Prabowo Sandi beralamat di Jalan HOS Cokro Aminoto, Menteng, Jakarta Pusat. ditujukan kepada Toto Utomo Budi Santoso Direktur Satgas BPN PS di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan”, dan formulir-formulir itu diduga palsu.

Yupen Hadi, salah seorang anggota Tim Advokasi Seknas Prabowo-Sandi yang dikirim Taufik untuk mengecek kabar ini ke Bawaslu, mengakui, bahwa memang banyak kejanggalan dalam kasus ini.

Dalam kronologis yang didapat Bawaslu, katanya, taksi online itu ditelepon dari Seknas, kemudian ke dalamnya dimasukkan dua dus formulir C1, dan diperintahkan dibawa ke BPN Prabowo-Sandi di Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, tapi di Jalan Basuki dirazia polisi.

'Janggalnya adalah, karena pada saat kejadian Seknas tidak memesan taksi online dan tidak melakukan pengiriman apa pun. Selain itu, sejak kapan di Jalan Basuki ada Operasi Patuh Jaya? Kok tiba-tiba saja ada operasi di situ? Lagipula kalau memang kena razia, kenapa yang diperiksa isi mobil, bukan STNK?" katanya.

Yupen memastikan bahwa surat pengantar pada kedua dus itu memang tidak berkop surat, dan ia berharap Bawaslu menginvestigasi kasus ini secara jujur dan transparan.

"Libatkan kami dalam investigasi itu. Jangan ada upaya menjebak dan mendiskreditkan Pak Taufik," tegasnya. (man)