Pemprov DKI Diminta Ganti Nama Museum Fatahillah dan Masjid Fatahillah

Ridwan Saidi (kanan). (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Budayawan Betawi Ridwan Saidi meminta Pemprov DKI Jakarta agar mengganti nama Museum Fatahillah dan Masjid Fatahillah yang berada  di kompleks Balaikota DKI Jakarta,  dengan nama lain.

Pasalnya, Fatahillah atau Falatehan, menurut dia, bukanlah seorang pahlawan dan juga bukan warga negara Indonesia.

"Pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah, yang menyebutkan bahwa Falatehan atau Fatahillah adalah pahlawan, keliru! Dia bukan pahlawan. Dia Yahudi!" tegas Ridwan dalam diskusi bertajuk 'Diskusi Ketahanan Budaya' yang diselenggarakan Yayasan Kharisma Budaya Nusantara di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Rabu (25/9/2019).

Ridwan menegaskan, Falatehan dalam bahasa Armenia berarti pembakar api, dan pada 1540, Falatehan atau Fatahillah membakar Pasar Pisang.

"Saya bersedia berdebat secara ilmiah dengan sejarawan yang mana pun soal ini," tegas anggota DPR pada 1977-1987 itu.

Ridwan menegaskan, sejarah Indonesia memang ditulis dengan data yang tidak seluruhnya benar. Selain Falatehan atau Fatahillah, Ridwan menyebut kesalahan data juga terjadi pada asal usul nama Betawi dan tentang Panglima Cheng Hoo yang disebut-sebut sebagai salah seorang penyebar agama Islam di Indonesia.

Ridwan menegaskan, bahwa asal usul nama Betawi bukan berasal dari kejadian saat warga pribumi melawan VOC dengan melemparkan ta* (kotoran manusia, red), melainkan dari bahasa Samarkand yang berarti gapura.

"Kalau ada yang bilang bahwa Laksamana Cheng Hoo menyebarkan agama Islam di Indonesia, itu bohong!  Dia tidak menyebarkan agama Islam di Indonesia!" tegasnya.

Ridwan menilai, sejarah Indonesia perlu ditulis ulang dengan data yang sebenarnya, bukan yang didongeng-dongengkan, karena sebenarnya Indonesia memiliki sejarah yang patut dibanggakan.

"Agama dan sejarah merupakan dua unsur penting dalam pertahanan budaya. Jika sejarah kita banyak yang tidak benar, apa yang bisa dibanggakan? Bagaimana kita punya ketahanan budaya?" tanyanya.

Karena hal ini, Ridwan juga meminta agar Pemprov DKI segera mengganti nama Museum Fatahillah dan Masjid Fatahillah.

"Masak museum kita dan masjid dinamai dengan nama orang Yahudi?" tegasnya.

Seperti diketahui, selama ini sejarah Indonesia menggambarkan Fatahillah atau Falatehan sebagai tokoh yang mengusir Portugis dari pelabuhan perdagangan Sunda Kelapa dan yang pada tempo dulu memberi nama 'Jayakarta' yang berarti Kota Kemenangan, bagi Kota Jakarta.

Meski demikian, hingga kini sejarawan Indonesia masih belum dapat menjelaskan asal usul Fatahillah, sehingga ada beberapa pendapat tentang hal ini

Menurut HJ de Graaf, Fatahillah berasal dari Pasai, Aceh Utara, yang kemudian pergi meninggalkan Pasai ketika daerah tersebut dikuasai Portugis. Fatahillah pergi ke Mekah, lalu ke tanah Jawa, Demak, pada masa pemerintahan Sultan Trenggono.

Ada pula yang mengatakan bahwa Fatahillah adalah putra dari raja Makkah (Arab) yang menikah dengan putri kerajaan Pajajaran.

Pendapat lain menyebutkan, Fatahillah dilahirkan pada 1448 dari pasangan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda, pembesar Mesir keturunan Bani Hasyim dari Palestina, dengan Nyai Rara Santang, putri dari raja Pajajaran, Raden Manah Rasa.

Namun ada juga sumber sejarah yang mengatakan bahwa sebenarnya Falatehan lahir di Asia Tengah, lalu menimba ilmu ke Baghdad, dan mengabdikan dirinya di Kesultanan Turki, sebelum bergabung dengan Kesultanan Demak.

Hingga kini tak satu pun dari pendapat-pendapat itu yang dapat dibuktikan kebenarannya. (rhm)