Pemkot Jakut Akan Pasang 4 Alat Pengukur Kualitas Udara di Kelurahan Cilincing

Walikota Jakut Sigit Widjatmoko meninjau usaha pembakaran arang di Kelurahan Cilincing. (Foto: eko/Dekan)

Jakarta, Dekannews- Pemkot Jakarta Utara berencana memasang empat alat pengukur kualitas udara di Kelurahan Cilincing agar indeks standar pencemar udara (ISPU) atau pollutant standard index (PSI) di wilayah itu dapat diketahui. 

Pasalnya, udara di Kelurahan Cilincing diduga telah tercemar limbah asap dari usaha pembakaran batok kelapa dan peleburan alumunium yang berada di Jalan Insfeksi Cakung Drain RW 09.

Saat melakukan Sidak ke kedua lokasi tersebut, Jum'at (13/9/2019), Walikota Jakarta Utara Sigit Widjatmoko mengatakan, pemasangan alat itu dilakukan agar kualitas udara di Kelurahan Cilincing dapat terus dimonitoring. 

"Tadi saya sudah perintahkan kepada Sudin Lingkungan Hidup untuk segera melaksanakan pemasangan alat pemantau, dan ini akan menjadi dasar kebijakan untuk permasalahan yang sama," katanya. 

Mantan Wakadishub DKI Jakarta ini menilai, usaha pembakaran batok dan peleburan alumunium itu memiliki dalam pengolahan limbah sampah menjadi produk yang dibutuhkan masyarakat. 

Untuk itu, katanya, Pemkot Jakarta Utara akan terus memantau dan memberikan pelatihan agar tidak mencemari lingkungan. 

"Jadi, pemerintah tidak hanya memikirkan sanksi, tapi juga memikirkan kebijakan berdampak yang lebih panjang dan kompleks, tapi tentunya dengan tidak menoleransi penurunan baku mutu lingkungan," tegasnya

Kepala Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Utara Slamet Riyadi menjelaskan, alat pengukur udara akan ditempatkan di empat titik, yakni SDN Cilincing 07 Pagi, area sawah SDN Cilincing 07 Pagi, area Taman Pemakaman Umum (TPU) Semper, dan akses jalan menuju TPU Semper.

"Alat pengukurannya dari Dinas LH. Dengan mengukur parameter Nitrogen Dioksida (NO2), akan diketahui sejauh mana baku mutu kualitas udara di lokasi ini," terangnya

Murdin Pati (52, pemilik usaha arang batok , memastikan akan menjalani komitmen bahwa pihaknya hanya berproduksi pada malam hari, karena agar tidak mengganggu kesehatan warga yang melintas maupun warga yang berdomisili di sekitar tempat usahanya.

"Tadi juga Pak Wali menawarkan agar kita semua, pemilik usaha di sini, mendaftar menjadi usaha kecil menengah (UKM). Kalau memang itu bisa, ya kita sih mau saja," tutupnya. (Eko)