Pemilik Kapal Tradisional Masih Terikat Kontrak dengan PT SSA

Murthado (kiri) dan Juwanto Bayu Setia. (Dok: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Ambisi PT Trans 1000 Jakarta Transportindo untuk menjadi operator kapal angkutan penumpang dari Pelabuhan Kaliadem ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu dengan 'mengkudeta' PT Samudra Sumber Artha (SSA), agaknya tak semudah membalikkan telapak tangan. 

Pasalnya, 29 pemilik kapal tradisional yang telah menandatangani memorandum of understanding (MoU) dengan perusahaan itu, ternyata masih terikat kontrak dengan PT SSA. 

"MoU antara pemilik kapal dengan SSA ditandatangani tahun 2015, dan hingga kini masih berlaku," kata Direktur PT SSA Juwanto Batu Setia di Jakarta, Rabu (9/10/2019). 

Ia menambahkan, ada sekitar 41 pemilik kapal tradisional yang saat itu menandatangani MoU, termasuk 29 pemilik kapal yang dikabarkan telah menandatangani MoU dengan PT Trans 1000, dan hingga kini belum ada satu pun dari pemilik kapal itu yang memutus perianjian kerjasama tersebut, baik secara lisan maupun tertulis. 

"Saat kami kembali mengumpulkan mereka pada 5 Oktober 2019, sebagian besar dari mereka memang hanya mengirimkan perwakilan, tapi perwakilan-perwakilan itu kembali menegaskan sikap para pemilik kapal yang disampaikan dalam pertemuan pada 22 September 2019, bahwa mereka tetap bersama SSA," imbuhnya. 

Hal senada disampaikan Manager Operasional PT SSA Murthado. Ia bahkan mengatakan, di antara para pemilik kapal tersebut ada yang masih memiliki utang kepada SSA untuk keperluan docking dan perpanjangan surat kapal. 

"Jadi, saat akan docking dan memperpanjang surat, mereka ada yang mengajukan pinjaman Rp10-30 juta, dan dibayar dengan cara dicicil. Sampai sekarang masih ada yang belum lunas," katanya. 

Bayu menambahkan, dari informasi yang ia terima, para pemilik kapal tersebut mau bergabung dengan Trans 1000 karena tergiur janji akan mendapat Rp35 juta/bulan dari kapal mereka yang nantinya diremajakan Trans 1000 menjadi kapal kargo (kapal pengangkut barang), dan mendapatkan Rp5.000/penumpang dari kapal cepat milik Trans 1000 yang akan menggantikan fungsi kapal tradisional mereka dalam mengangkut penumpang, setelah dijadikan kapal kargo. 

Menurut Direktur PT SSA ini, janji pemberian Rp35 juta/bulan itu seharusnya dikritisi oleh pemilik kapal tradisional yang telah menandatangani MoU dengan Trans 1000, karena selama ini barang yang diangkut kapal tradisional dari Pelabuhan Kaliadem ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu adalah barang-barang kebutuhan sehari-hari yang dikonsumsi rumah tangga maupun yang dijual lagi oleh para pedagang di pulau. Jumlahnya pun tidak banyak. 

"Kalau Trans 1000 beranggapan bahwa barang-barang yang diangkut dari Pelabuhan Kaliadem ke pulau adalah bahan material seperti semen dan lain-lain, berarti perusahaan itu kurang survei, karena barang-barang seperti itu diangkut melalui Pelabuhan Sunda Kelapa, Pelabuhan Rawa Saban atau barangkali juga dari Tanjung Priok!" tegasnya. 

Seperti diberitakan sebelumnya, PT Trans 1000 berencana membuka bisnis angkutan penumpang laut dengan rute Pelabuhan Kaliadem, Muara Angke, Jakarta Utara, ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu. Untuk itu, perusahaan ini akan meremajakan semua kapal tradisional yang selama ini dikoordinir dan bermitra dengan PT SSA, untuk dijadikan kapal kargo, dan kemudian menggantikan fungsi kapal-kapal itu yang selama ini berfungsi sebagai kapal angkutan penumpang, dengan kapal-kapal cepatnya. 

Dirut PT Trans 1000 Nana Suryana mengatakan, dari 42 pemilik kapal tradisional, yang telah menyatakan bergabung dan bersedia mengikuti program peremajaan kapal yang digagas perusahaannya sebanyak 33 pemilik kapal. 

Dari jumlah itu, 29 pemilik kapal telah menendatangani MoU, namun yang akta MoU-nya sudah terbit baru 20 pemilik kapal. Sisanya masih dalam proses legalisasi.

Inilah nama ke-20 pemilik kapal yang sudah memiliki akta MoU dengan Trans 1000:
1. Ikromul Azhmi - KM Islani
2. H. Suriyat Saruri - KM Anterja
3. Sanwari - KM Napoleon 12
4. Saluri - KM Harapan Ekspres
5. Safrudin - KM Miles 2
6. Sahrani - KM Srikandi Z2
7. Tajeni - KM Rindu Alam
8. Moch. Sukri - KM Dolphin Ekspres
9. Moh. Yusuf - KM Bahtera 2
10. Abdul Jalal - KM Karisma Anugera
11. Tintus Apriyanto Zulfikar - KM Miles
12. Rayudi - KM Batavia
13. H. Nurjali - KM Satria Tirta 2
14. H. Nurjali - KM K'satria 1
15. Mustawa - KM Zahro
16. Zaenudin - KM Diamond 21
17. Anwar - KM Hasbi Jaya
18. Herman Pelani - KM Raksasa
19. Hidayat - KM Colombus
20. Suryana - KM Kurnia 1

Bayu tegas mengatakan, tindakan Trans 1000 mengambil alih pemilik kapal dari PT SSA merupakan tindakan 'kudeta', akan tetapi ia menegaskan bahwa pihaknya tak akan tinggal diam. 

"Dulu, angkutan penumpang di Pelabuhan Kaliadem ini berantakan dan tidak tertata, lalu sejak 2015 kami melakukan terobosan. Kami koordinir para pemilik kapal itu, kami buatkan jadwal keberangkatan, dan kami buatkan tiket sistem online. Setelah menjadi seperti sekarang, ada perusahaan yang tiba-tiba mau mengambil alih dan mendepak kami dari sini. Etis tidak itu?" tegasnya. 

Ia dan Murthado meminta pemilik kapal tradisional yang telah meneken MoU dengan Trans 1000 untuk berpikir ulang dan merenungkan baik-baik janji-janji yang diberikan perusahaan itu agar tidak menyesal di kemudian hari. 

"Sekarang ini misi kami tegas dan jelas, yakni mempertahankan kapal tradisional karena selain merupakan kearifan lokal, juga telah menjadi ikon bagi warga Kepulauan Seribu. Kalau ada yang mengatakan bahwa kapal-kapal tradisional ini tak laik operasi, silakan buktikan karena faktanya selama ini penumpang fine-fine saja. Mereka dapat pergi dan pulang ke dan dari pulau dengan aman dan selamat," pungkas Bayu. (rhm)