Pekerja Seni Minta Anies Buka PSBB

Para pekerja seni unjuk rasa di DPRD DKI, menuntut PSBB dibuka. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Puluhan pekerja seni yang kebanyakan berprofesi sebagai musisi dan penyanyi dangdut, meminta Pemprov DKI Jakarta membuka Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang saat ini diberlakukan. 

Permintaan itu disampaikan dalam aksi unjuk rasa yang digelar di gedung DPRD DKI Jakarta, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Senin (5/10/2020). 

"Kami butuh penghasilan, butuh makan, butuh pekerjaan!  Buka PSBB! Berlakukan kembai New Normal," kata mereka. 

Di antara pekerja seni yang tergabung dalam Pembela Kesatuan Tanah Air (Pekat) Indonesia Bersatu itu terselip penyanyi dangdut Anisa Bahar dan Dewinta Bahar. 

Sekjen Srikandi Pekat Indonesia Bersatu, Aiko, menjelaskan, ia dan teman-temannya terpaksa harus menganggur sejak PSBB mulai diberlakukan pada April 2020, karena pemberlakuan PSBB ini membuat industri hiburan malam tempat mereka bekerja,  ditutup Pemprov DKI. 

"Pernah sih ada yang sempat buka, tapi harus tutup lagi. Dibuka lagi, ditutup lagi. Akibatnya, buat makan saja susah. Padahal di antara kami banyak yang masih punya anak kecil," katanya. 

Dari perbincangan antarsesama pendemo, terdengar keluh kesah kalau di antara mereka ada yang telah menjual barang-barang berharga dan perabot rumah tangga yang dimiliki, demi menyambung hidup. 

Dalam aksinya, para pekerja seni itu menggelar spanduk dan berorasi. Mereka meminta, jika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan tak mau membuka PSBB, DPRD menggunakan hak angket, yaitu hak untuk melakukan penyelidikan terhadap kebijakan Anies memberlakukan PSBB, karena kebijakannya itu berdampak pada kehidupan masyarakat, termasuk kehidupan mereka, dan diduga bertentangan dengan ketentuan perundang-undangan.

Sebab, kata mereka, kebijakan Anies terus memperpanjang pemberlakuan PSBB sangat merugikan rakyat seperti mereka, dan tidak sesuai UUD 1945.

Para pekerja seni ini berjanji, jika PSBB dibuka dan New Normal diberlakukan sehingga industri hiburan dapat kembali beroperasi, mereka akan melaksanakan protokol kesehatan Covid-19 secara ketat dan disiplin. 

Seperti diketahui, Anies Baswedan memberlakukan PSBB untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, karena Jakarta sempat menjadi episentrum penyebaran virus asal China tersebut. 

PSBB yang diberlakukan pada 10 April hingga 4 Juni 2020 ini hanya mengizinkan 11 sektor yang boleh tetap buka, antara lain sektor pangan, kesehatan dan konstruksi, sedang sektor lain harus tutup. Termasuk sektor hiburan malam dan pariwisata. 

Pada 5 Juni 2020, Anies mencabut PSBB karena penularan Covid-19 menurun dan diganti dengan PSBB masa transisi untuk menyongsong pemberlakuan New Normal oleh pemerintah. 

PSBB masa transisi ini membuka kembali sektor-sektor yang ditutup secara bertahap, namun sektor hiburan malam dan pendidikan masih ditutup karena dianggap rawan menjadi klaster penularan Covid-19, karena sektor hiburan malam umumnya melakukan kegiatan di ruangan tertutup. 

Sayang, PSBB masa transisi ternyata kembali membuat penularan Covid-19 di Jakarta tinggi, sehingga Anies mencabut PSBB masa transisi, dan mulai 10 September 2020 kembali memberlakukan PSBB yang pertama, sehingga sektor-sektor yang telah dibuka, kecuali yang 11 sektor, ditutup kembali. (rhm)