Parah! Triwulan II-2020 Pertumbuhan Ekonomi Jakarta -8,22 Persen

Aktivitas di pasar tradisional di Jakarta. (Foto: Kompas)

Jakarta, Dekannews- Pertumbuhan ekonomi Jakarta pada triwulan II-2020 terkontraksi sangat dalam akibat pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya untuk menahan laju penyebaran Covid-19.

Rilis PS DKI Jakarta, Kamis (6/8/2020), menyebutkan, pada triwulan II-2020 pertumbuhan ekonomi Jakarta kontraksi -8,22% (y-o-y).  

"Angka ini adalah yang terendah selama kurun waktu 10 tahun terakhir, meskipun tidak sedalam saat krisis ekonomi tahun 1998," jelas lembaga itu. 

Dijelaskan, rontoknya perekonomian Jakarta ini diakibatkan pemberlakuan PSBB sebagai upaya untuk menahan laju penyebaran Covid-19, sehingga hampir menghentikan seluruh aktivitas masyarakat dan berdampak demikian besar pada kinerja ekonomi, bahkan merambah hingga kegiatan sosial. 

"Pariwisata menjadi sektor yang pertama kali terdampak atas kebijakan tersebut. Hal ini terlihat dari nilai tambah sektor hotel, restoran, transportasi, dan jasa lainnya yang terkontraksi sangat dalam. Setelah itu diikuti oleh sektor industri pengolahan dan konstruksi yang juga turut mengalami kontraksi," kata BPS DKI lagi. 

Melemahnya kinerja pada sektor-sektor tersebut berimbas pada terkontraksinya kinerja sektor perdagangan akibat turunnya permintaan bahan baku dan penolong.

"Penurunan kinerja perekonomian tersebut telah melemahkan daya beli masyarakat dan menyebabkan menurunnya konsumsi rumah tangga," imbuh BPS DKI.  

Tingkat inflasi terkendali dengan baik, namun tidak cukup mampu untuk mengimbangi penurunan pendapatan masyarakat, sehingga pengeluaran konsumsi rumah tangga (PKRT) terkontraksi cukup dalam sebesar -5,23% (y-o-y), dan tidak mampu lagi menjadi penggerak perekonomian Jakarta.

Melemahnya agregat permintaan secara total menginspirasi pelaku usaha untuk menunda investasi, sehingga menyebabkan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) terkontraksi dalam sebesar -10,36% (y-o-y). 

Selain itu, sebagai bagian dari masyarakat global yang terdampak Covid-19, tekanan kepada perekonomian DKI Jakarta juga datang dari luar terkait menurunnya arus barang dan jasa yang keluar masuk Jakarta.

Pada triwulan II-2019 pertumbuhan ekonomi Jakarta tercatat sebesar 5,71% (y-o-y). 

Pada triwulan I-2020, ekonomi Jakarta turun ke level 5,06% (y-o-y), dan sempat naik pada triwulan IV-2019 yang mencapai  5,96% (y-o-y). 

Kontraksi yang dialami DKI Jakarta pada triwulan II-2020 lebih parah dari nasional yang berada di level -5,32% (y-o-y). (rhm)