Ollies Datau, Perempuan Tangguh dalam Tubuh LIRA

Ollice Datau. (Dok: LIRA)

SEORANG NAHKODA tangguh akan selalu diuji dalam gelombang, dan menjadi besar dalam badai, serta kuat untuk membawa kapal tiba di tujuan. Demikian juga dalam menjalankan perannya sebagai presiden LIRA, OD mendapat guncangan yang tidak pernah ia kira ketika menerima amanah ini.

Oleh: Varhan Abdul Aziz
Wasekjen DPP LIRA

Siapa perempuan tangguh Indonesia? Semua sepakat RA Kartini dan Dewi Sartika sebagai pelopor perempuan tangguh Indonesia. Kita juga sepakat ibu-ibu kita adalah figur wanita tangguh Indonesia. Dan di antara banyaknya wanita tangguh Indonesia, izinkanlah saya mencurahkan kekaguman kepada sosok Ollies Datau, sebagai seorang bunda, aktivis sosial, pengusaha, juga patriot Indonesia.

Saya mengenalnya kali pertama dalam Munas DPP Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) di Jakarta. Secara aklamasi ia menjadi perempuan pertama yang terpilih sebagai Presiden LIRA, tongkat komando LIRA secara sah dan legitimatif diserahterimakan langsung oleh presiden LIRA sebelumnya, Jusuf Rizal. Munas yang dihadiri langsung oleh Mendagri Tjahjo Kumolo menjadi momen bersejarah bagi roda organisasi ini.

Bisa dibilang Ollies Datau, ibu Pres biasa kami memanggilnya, menjadi sangat identik dengan LIRA. LIRA adalah Ollies, Ollies adalah LIRA. Sosoknya begitu santai dan tidak protokoler. Meskipun menjadi sosok yang sukses dalam usaha yang dijalaninya, tidak menjadikan Ibu Pres jumawa dan besar kepala. Ia tidak pernah memberi jarak dengan para anggotanya sebagai seorang presiden LIRA ataupun kader grassroot. Itulah yang membuat kehangatan berkeluarga dalam organisasi LSM LIRA menjadi hidup.

Ia bukan seorang yang sentralistik. Ia tidak berusaha menjadi seorang super woman, terlepas dengan besarnya power yang dapat ia miliki, jaringan luas yang terawat, sahabat-sahabat pejabat tingkat nasional di kementrian, lembaga, eksekutif, legislatif hingga di lingkungan istana dan luar negeri. Ia menjadikan organisasi ini berkembang organik dan memberdayakan kader sesuai dengan tugas dan kemampuannya.

Seringkali kami bingung, apa yang dicari seorang Ollies Datau dari menghidupi organisasi LIRA ini? Dia tidak sama sekali mendapat keuntungan dari amanah yang dijalanan selama hampir empat tahun. Beragam tantangan dan masalah justru ia hadapi. Bisa dikatakan, separuh dari hidupnya habis untuk mengelola gerak nafas kehidupan organisasi LIRA di seluruh Indonesia.

Dalam beberapa kesempatan saya bertanya kepada kader LIRA dari banyak daerah, mereka memberikan tanggapan yang sama tentang sosok keibuan seorang Ollies Datau (OD), seingga tanpa disadarai kawan-kawan di daerah membandingkan kenyamanan mereka berada di bawah komando kekeluargaan OD sangat berbeda dengan saat LIRA masih dipimpin Jusuf Rizal (JR). 

Di masa kepemimpinan OD, daerah tidak sama sekali dibebani kewajiban penyetoran kepada pusat, OD memberikan kebijaksanaan ini agar daerah maksimal menghidupi organisasi di bawah, dan tidak menjadikan LIRA daerah sebagai sumber kehidupan. Ketika melakukan kunjungan ke daerah, OD tidak membebani daerah dengan permintaan yang memberatkan. Seringkali ia membiayai sendiri kepergian dan kepulangan DPP dan seluruh rombongan agar tidak menyulitkan daerah.

Tak heran jika kader-kader LIRA di daerah menjadi sedemikian segan dan memberikan penghormatan yang tinggi kepada OD, dan telah menjadikannya sebafai teladan bagi mereka. Mengutip perkataan pendiri Muhamadiyah: “ Hidup-hidupilah Muhamadiyah, Tapi Jangan Mencari Hidup dari Muhamadiyah".  Agaknya prinsip inilah yang OD tanamkan untuk menjadi panutan seluruh kader.

Jiwa keorganisasian terpatri mendalam di dalam darahnya. Sebagai perempuan yang berjuang sendiri, ia pernah menjadi ketua AMPG Jatim selama 2 periode yang menguji ketangguhan hidupnya. Seringkali ia menerima ancaman dan tekanan dalam menjalankan organisasinya di masa lalu, dan pengalaman itu menempanya menjadi sosok yang kuat. 

Cara bicara OD tidak retorik, namun mengedepankan kejujuran dan pendekatan dari hati ke hati. Ia bukan sosok yang banyak bicara viralisasi di sosial media, namun ia bekerja dan memberikan bukti. Itulah yang membuat sosok OD menjadi figur yang kuat dan senantiasa mendapat hormat, meski tidak harus berkata besar. Ia adalah sosok yang besar karena karya.

Seorang nahkoda tangguh akan selalu diuji dalam gelombang, dan menjadi besar dalam badai, serta kuat untuk membawa kapal tiba di tujuan. Demikian juga dalam menjalankan perannya sebagai presiden LIRA, OD mendapat guncangan yang tidak pernah ia kira ketika menerima amanah ini .

Sebagai Presiden LIRA yang sah terpilih dalam hasil keputusan MUNAS LIRA 2015, OD berusaha menempatkan JR dalam posisi terhorma, yakni sebagai seorang Past President, namun sepertinya post power sindrom melanda seorang JR. Ia yang biasa memberikan komando instruksional, kini tidak bisa lagi menjalankan organisasi secara teknis. Posisinya sebagai Past Presiden sebenarnya menempatkan dia dalam posisi yang terbaik, dan dalam posisi itu dia dapat mengarahkan dan memberikan masukan serta saran.

Namun intervensi berlebihan memuncak ketika JR tidak menyetujui pemilihan hasil pleno DPP LIRA yang mengangkat Rizal Di Mavi sebagai Gubernur LIRA Sumut. OD yang sederhana bukanlah sosok yang bisa diintervensi dan keluar dari koridor Tupoksi. Didukung oleh kepengurusan DPP yang kuat yang berisikan figur-figur yang kuat dan kapabel dengan latar belakang keorganisasian dan kapasitas yang tinggi, DPP LIRA mencoba mengkomunikasikan secara baik kepada Past Presiden JR mengenai hal ini.

Namun tidak diduga hanya karena problem perbedaan pandangan yang seharusnya bisa dipersatukan dengan kedewasaan berorganisasi, JR dengan gaya otoriterian menerbitkan surat pemecatan OD sebagai Presiden LIRA dan mengangkat dirinya sendiri untuk kembali menjadi Presiden LIRA. Orang yang paham berorganisasi akan tertawa memandang langkah ini, terbaca, bahwa JR belum siap untuk kehilangan kuasanya di LIRA. Padahal, bila JR ingin memosisikan dirinya tinggi dan terhormat, ia akan menjadi tokoh yang negarawan, legenda yang dihormati oleh kader-kader LIRA, namun pada akhirnya dia tidak lagi dihormati. Bukan hanya DPP yang melawan, kader-kader di daerah pun demikian. Hingga berujung klaim sepihak dari JR sebagai Presiden LIRA yang membelah organisasi ini.

Kematangan dan kedewasaan seorang OD terpancar dalam masa-masa ia menanggapi ujian seperti ini.  Dalam ulah-ulah yang dilakukan JR yang justru merusak dirinya sendiri dalam berorganisasi di LIRA, OD tetap menjalankan LIRA dengan penuh tanggung jawab. Deklarasi demi deklarasi Pengurus LIRA di provinsi/kabupaten/kota ia jalankan. Restrukturisasi hingga pergantian kepemimpinan LIRA yang mati dan tidak berjalan, direalisasikan kembali. Organisasi di bawah kepemimpinan OD menjadi sangat hidup. Ia bukan seorang yang senang mengklaim kemenangan, namun membuktikan dengan kenyataan. 

Dalam setiap kegiatan deklarasi yang dilaksanakan LIRA, OD selalu disupport dan didukung dengan kehadiran dari pejabat tertinggi di daerah asal. Rakernas, Rakornas, sudah berulang kali ia lakukan demi menyolidkan kawan-kawan yang berjuang di daerah. Kehadiran Menkumham dalam Rakernas dan Rakornas di Jakarta 2016 menjadi legitimasi kuat keabsahan LIRA OD.

Di media sosial mereka yang mengatasnamakan LIRA, mulai membuat agitasi dan propaganda, serta fitnah yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Klaim sepihak, hasutan kepada kader di bawah, membuat mereka yang tidak paham dengan kondisi yang sebenarnya, bimbang dan ikut saja dengan ketidakbenaran orang yang mengatasnamakan LIRA.

Yang membuat tertawa, Sekertaris Jenderal LIRA yang diangkat JR, Ahmad Hadari, mengundurkan diri, dan terjadi perpecahan dalam kubu JR sendiri. Dengan seenaknya, JR mengganti Sekjen baru. Gaya JR yang senang mengamputasi kader sangat berbeda dengan OD yang memiliki struktur yang tetap dan solid, tidak berubah dan efektif.

Kader LSO di Pusat maupun kader LIRA di daerah menerima buah pahit dari pembelahan yang dilakukan JR. Pecah belah ini membuat saling klaim LIRA siapa yang sebenarnya sah. Presiden OD banyak mendapat tekanan dari bawa, namun dengan tenang dan pasti, OD bekerja dalam sunyi, tidak teriak-teriak sendiri di Medsos.

Kemudian terbitlah HAKI atas Logo LIRA yang diakui oleh Kemenkumham, LIRA OD terdaftar resmi, memiliki badan hukum dan terlindungi oleh Pemerintah. OD memberikan jawaban dalam nyata kerjanya ia berbuat. 

Saya memahami, pasti tidaklah mudah mengelola dan menghidupi organisasi nasional sebesar LIRA, namun pemerintah pun memberikan apresiasi, menunjukkan LIRA OD bukanlah organisasi abal-abal yang menjadi parasit, namun bergerak menjadi pelengkap dalam menyuport pemerintah merealisasikan program bagi rakyat. Menjadi mitra kritis yang mengawasi dan mendukung mereka. 

Di usianya yang tidak lagi muda, semangat mudanya masih terus ia kobarkan. Tidak ada lagi yang perlu dikerjarnya, karena semua telah ia buktikan dalam satu tahun berselang sebelum genap ia menunaikan amanah Munas 2015. Namun kader LIRA di seluruh Indonesia masih terus membutuhkanya untuk menjadi Presiden LIRA. 

Kami yang tetap bersama LIRA, akan tetap bersama OD. Satu Lira, Satu-satunya presiden LIRA; Ollies Datau Tercinta.

Salam Hormat Kader LIRA Seluruh Indonesia