Netizen Gaungkan Boikot Produk Martha Tilaar

Salah satu adegan dalam film My Flag-Merah Putih Vs Radikalisme. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Ajakan "Boikot Produk Martha Tilaar" bergema di media sosial sejak Selasa (27/10/2020), menyusul dirilisnya film pendek berjudul "My Flag - Merah Putih Vs Radikalisme" di Kanal YouTube Nahdlatul Ulama (NU) ada 23 Oktober 2020 silam.

Film yang didedikasikan untuk merayakan Hari Santri Nasional yang jatuh setiap tanggal 22 Oktober itu mengundang kontroversi karena dinilai memecah belah antarsesama umat Islam.

"BOIKOT PRODUK MARTHA TILAAR," kata pemilik akun @Rahadisaputro, salah satu netizen yang menggemakan ajakan tersebut seperti dikutip dekannews.com, Rabu (28/10/2020).

Pemilik akun itu menyertakan sebuah flayer dengan logo Martha Tilaar Group dan narasi berbunyi "SPONSOR FILM PERUSAK ISLAM, BOIKOT PRODUK MARTHA TILAAR".

Martha Tillaar Group merupakan produsen kosmetik seperti bedak dan lipstik dengan merek Sariayu-Martha Tilaar.  Perusahaan ini juga memiliki salon dan spa yang tersebar di berbagai daerah di Tanah Air.

Data yang dihimpun menyebutkan, ada dua sponsor utama film "My Flag - Merah Putih Vs Radikalisme", yakni Telkomsel dan Martha Tilaar

Sejak teaser film berdurasi 8 menitan itu dipublikasikan di media sosial, film itu telah menuai reaksi negatif dari masyarakat. Terlebih setelah filmnya diunggah ke kanan YouTube NU pada 23 Oktober 2020.

"... Kawan-kawan tolong dibantu dislike video menjijikan ini. Tak usah kalian tonton, langsung dislike aja video pemecah belah umat Islam ini. Gue yang kafir aja merasa jijik melihat cuplikan video ini warawiri di TL sejak kemarin...," kata aktivis buruh Iyut VB melalui akun Twitter-nya, @kafiradikalis, Minggu (25/10/2020).

"Jangan lupa direport juga manteman," imbuh dia.

Permintaan yang sama datang dari pendiri Pepes Official, kelompok emak-emak militan pendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019, Lisa Amartatara.

"Yukkk semua kita dislike dan RAS... Kita gak mau Indonesia diprovokasi antar kita sendiri. Semua Muslim bersaudara!  Jangan mau diadu domba dan diprovokasi. Islam itu rahmatan lil alamin," katanya melalui @LisaAmartatara3.

Film itu menampilkan pemeran yang semuanya digambarkan sebagai santriwan dan santriwati.

Pada awal-awal film ditampilkan sosok empat santriwan yang berkelakuan bandel dan empat santriwati berkelakuan sebaliknya. Para santriwati ini bahkan mengumpulkan barang bekas dan kemudian menjualnya.

Uang penjualan barang bekas itu ditabung dan kemudian dibelikan bendera Merah Putih.

Ada sosok ulama NU yang kontroversial dalam film ini, yakni Gus Muwafiq. Dia berperan sebagai kyai di pondok pesantren yang di sepanjang film pendek ini memberikan tausiyah kepada santriwan dan satriwatinya

Inilah yang dikatakan Gus Muwafiq di awal film:

"Keamanan sebuah bangsa dan negara itu yang akan menjamin kebaikan manusia dan keberlangsungan iman kita. Maka, sejauh mana iman kita, adalah sejauhmana kita menjaga bangsa dan negara. Untukmu benderaku, untukmu tanah airku, cintaku dan umatku".

Film ini dengan sangat jelas ingin mendorong penonton agar mencintai Indonesia dan Merah Putih melebihi apapun, sehingga iman seseorang diukur berdasarkan cinta kepada bangsa, negara dan Sang Saka Merah Putih, bukan kepada Allah SWT. Padahal, iman merupakan kepercayaan dan keyakinan kepada sang Maha Pencipta dengan konsekuensi mematuhi dan menjalankan perintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya.    

Poin krusial pada film pendek ini yang memunculkan tudingan bahwa film ini mengadu domba sesama umat Islam dimulai pada menit ke-2 detik ke-35 kala muncul serangkaian adegan dengan narasi seperti ini:

"Dulu Merah Putih dipertahankan dengan darah dan nyawa, sekarang kita harus pertahankan Merah Putih dengan karya dan cinta.

Selagi bangsa ini tetap berdiri, negara ini tetap berdiri, maka benderanya tetap merah dan putih.

Tapi jangan pernah ditipu oleh pengasong-pengasong bendera yang lain. Silakan mengasong bendera, tapi jangan menandingi Merah Putih".

Mengiringi narasi yang ketiga itu, muncul sekelompok santriwan dan santriwati yang membawa Ar-Rayah  dan Al-Liwa, yakni salah satu dari sekian banyak variasi bendera dan panji dalam Islam dengan ciri bertuliskan kalimat tauhid "Laillahailallhah Muhammadarasulullah" dalam huruf Arab dengan warna dasar putih dan hitam, dan sekelompok santriwan dan santriwati yang membawa  bendera Merah Putih.

Dua kelompok santriwan dan santriwati itu berkelahi, dan kelompok santriwan dan santriwati yang membawa Ar-Rayah dan Al-Liwa kalah.

Atas ajakan @Rahadisaputro untuk memboikot produk Martha Tilaar, warganet bukan hanya mendukung, namun juga membuka fakta kalau produk itu saat ini sudah kurang diminati masyarakat.

Begini komentar beberapa dari mereka:

"Martha Tilaar!! Banned," kata @BebekMlongo.

"Siyap... Insya Allah," sahut @Supriya72540457.

"Dagang dagang aja, gak usah ikut campur urusan agama, apalagi jadi sponsor adu domba," kritik @kaprikurt.

"Merk ngetop di jamannya, tahun 80an... Sekarang sudah kelelep sama wardah...," kata @Ledi1271.

"Gak pernah beli," kata @IraniRistinaa.

"Wardah dong" sahut @Dewiratih_13.

"Pakenya Wardah," @gowryeee. (rhm)