Nana Sebut 20 Pemilik Kapal Tradisional Sudah Punya Akta MoU dengan Trans 1000

Nana Suryana. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- PT Trans 1000 Jakarta Transportindo mengaku tak terganggu dengan adanya pertemuan antara PT Samudra Sumber Artha (SSA) dengan pemilik kapal tradisional pada hari Minggu (22/9/2019).

"Wajar, Pak, apa yang disampaikan mereka (PT SSA, red)  di artikel itu," kata Dirut PT Trans 1000, Nana Suryana, melalui pesan WhatsApp, Rabu (25/9/2019).

Ia menegaskan, dari 42 pemilik kapal tradisional yang selama ini melayani transportasi laut di perairan Kepulauan Seribu, 33 di antaranya telah menyatakan bergabung untuk mengikuti program Trans 1000.

Dari jumlah itu, 29 pemilik kapal telah menendatangani memorandum of understanding (MoU), namun yang akta MoU-nya sudah terbit baru 20 pemilik kapal. Sisanya masih dalam proses legalisasi.

Berikut nama ke-20 pemilik kapal yang sudah memiliki akta MoU dengan Trans 1000:
1. Ikromul Azhmi - KM Islani
2. H. Suriyat Saruri - KM Anterja
3. Sanwari - KM Napoleon 12
4. Saluri - KM Harapan Ekspres
5. Safrudin - KM Miles 2
6. Sahrani - KM Srikandi Z2
7. Tajeni - KM Rindu Alam
8. Moch. Sukri - KM Dolphin Ekspres
9. Moh. Yusuf - KM Bahtera 2
10. Abdul Jalal - KM Karisma Anugera
11. Tintus Apriyanto Zulfikar - KM Miles
12. Rayudi - KM Batavia
13. H. Nurjali - KM Satria Tirta 2
14. H. Nurjali - KM K'satria 1
15. Mustawa - KM Zahro
16. Zaenudin - KM Diamond 21
17. Anwar - KM Hasbi Jaya
18. Herman Pelani - KM Raksasa
19. Hidayat - KM Colombus
20. Suryana - KM Kurnia 1

Seperti diberitakan sebelumnya,  pada Minggu (22/9/2019), PT SSA rapat dengan pemilik kapal tradisional di sebuah restoran di kawasan Muara Karang, Jakarta Utara.

Sebanyak 13 pemilik kapal hadir, sementara yang berhalangan, menurut Manajer Operasional PT SSA Murthado,  mengabarkan lewat telepon dan menyatakan akan menyetujui hasil rapat.

Berikut data pemilik kapal tradisional yang hadir:
1. Pemilik KM Raja Mas
2. Pemilik KM.Zahro
3. Pemilik KM Bisma 2
4. Pemilik KM Satria Expres
5. Pemilik KM Ratu Serinding
6. Pemilik KM Dolphin
7. Pemilik KM Bima
8. Pemilik KM Garuda Expres
9. Pemilik KM Sena Expres
10. Pemilik KM Merpati Expres 74
11. Pemilik KM Purbaya
12. Pemilik KM Putra Gangga
13. Pemilik  Arjuna

Menurut Murthado, hasil rapat menyepakati bahwa para pemilik kapal tradisional akan tetap bermitra dengan PT SSA. Sementara yang sudah menyatakan bergabung dengan PT Trans 1000, sifatnya masih penjajakan, belum final, dan bahkan mengaku belum melakukan MoU dengan Trans 1000.

Menanggapi hal ini Nana mengatakan wajar saja jika ada pemilik kapal yang terkesan main dua kaki.

"Barangkali mereka gak enak, (sehingga) sudah gabung (dengan Trans 1000l, tapi bilang belum gabung. Atau mereka main aman," katanya.

Nana menegaskan, bagi pemilik kapal yang sudah memegang akta MoU dan sudah memiliki rekening Bank DKI, dianggap sudahb sudah sah dan confirmed bergabung dengan Trans 1000.

"Tinggal tunggu realisasi dari kami untuk eksekusi dan membuktikan MoU kami dengan pemilik kapal," tegasnya.

Seperti diketahui, Trans 1000 dengan PT SSA dan pemilik kapal yang belum bergabung dengan Trans 1000, saat ini berada pada posisi berseberangan, karena PT SSA dan pemilik kapal yang masih bermitra dengannya, tak setuju Trans 1000 membuka bisnis transportasi angkutan laut dengan rute Pelabuhan Kaliadem ke pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu, karena menurut mereka, mereka lah yang merintis rute ini sejak bertahun-tahun lalu.

Jika Trans 1000 memasuki rute tersebut, menurut Direktur PT SSA Juwanto Bayu Setia, perusahaannya akan tersingkir karena Trans 1000 akan meremajakan semua kapal tradisional yang selama ini menjadi mitra SSA, menjadi kapal kargo.

Semula rencana masuknya Trans 1000 juga ditolak semua pemilik kapal tradisional, namun karena Trans 1000 menjanjikan akan memberi Rp35 juta/bulan dari kapal mereka yang dijadikan kapal kargo, dan Rp5.000/penumpang dari kapal motor penumpang (KMP) milik Trans 1000 yang akan dioperasikan di perairan Kepulauan Seribu, para pemilik kapal melunak.

Nana mengatakan, perusahaannya kemungkinan akan mulai beroperasi pada Oktober 2019, sementara sikap PT SSA tidak berubah; tetap menolak kehadiran Trans 1000 di perairan Kepulauan Seribu. (rhm)