Media Sosial Dibatasi, Pedagang Online Menjerit

Ilustrasi. (Dok: dream)

Jakarta, Dekannews- Kebijakan pemerintah membatasi penggunaan media sosial dan aplikasi perpesanan, berdampak merugikan para pedagang online. 

Menurut data Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), kerugian dapat mencapai Rp227 miliar/hari.

Pemilik usaha toko baju anak-anak, Putu Nadya, mengaku kehilangan omzet sekitar 50% dalam tiga hari ini karena sulitnya akses ke media sosial. Setiap harinya, ia mengunggah foto di Instagram untuk melakukan promosi, dan selalu mendapat pesanan. Kondisi ini berbeda dengan yang terjadi dalam tiga hari ini.

"Biasanya (omzet) Rp4 juta/minggu. Jadi sedikit (yang pesan), paling cuma 3-5 orang yang tanya-tanya produk. Beberapa minta foto real produknya, tapi karena tidak bisa kirim foto, customer gak jadi pesan," ujar Nadya, pemilik toko daring @i.kyds,Jumat (24/5/2019).

Tubagus, penjual barang-barang kebutuhan rumah tangga, juga mengeluhkan kebijakan pemerintah ini. Meskipun ia juga menjual produknya melalui aplikasi Tokotalk, namun selama ini fokus pemasarannya melalui Instagram dan Facebook, sehingga dampak pemblokiran sangat berpengaruh.

Dia pun hanya mendapatkan sedikit pesanan dan dalam tiga hari ini lebih banyak promosi ke orang-orang terdekat. 

"Dari biasanya saya closing 15-20 order, setelah diberlakukan blokir cuma 1-2 konsumen yang closing, itupun closing dengan konsumen yang repeat order. Saya rasa dalam hal ini harus mengkaji ulang terkait keputusan pemblokiran, karena banyak jutaan UMKM seperti saya yang menggantungkan penjualan dari Facebook," ujar pemilik toko @familylover.co ini.

Sementara itu, penjualan di marketplace e-commerce tidak terdampak sama sekali.  

"Kegiatan operasional berjalan seperti layaknya, bahkan animo masyarakat untuk berbelanja online meningkat," kata Head of Corporate Communication Bukalapak, Intan Wibisono.

Tokopedia juga mengaku bahwa tidak ada dampak signifikan terhadap transaksi di marketplace .

"Berkaitan dengan pemblokiran, tidak ada dampak signifikan terhadap ekosistem kami. Kami tetap positif," kata VP Corporate Communications Tokopedia, Nuraini Razak.

Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira, sebanyak 66% transaksi jual beli online terjadi di platform media sosial seperti Instagram, Facebook dan WhatsApp. Hanya 16% transaksi lewat marketplace, berdasarkan riset Ideas 2017.

"Nilai transaksi e-commerce berdasar riset Indef di 2019 diperkirakan 8,7 miliar dolar AS atau Rp 126 triliun. Dibagi 365 hari rata rata Rp 345 miliar per hari," jelas Bhima. 

Seperti diketahui, sejak Rabu (22/5/2019), pemerintah memutuskan membatasi aktivitas di media sosial untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Terutama peredaran konten-konten berbau provokasi.

Kebijakan itu ditempuh akibat maraknya aksi demonstrasi menolak Pemilu curang yang diinisiatori Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat (GKKR) yang dimulai Senin (21/5/2019).

"Sementara untuk hindari provokasi kita melakukan pembatasan akses di media tertentu agar tidak diaktifkan. Akses media sosial untuk jaga hal-hal negatif yang disebarkan masyarakat," kata Menkopolhukam Wiranto di Jakarta, Rabu (22/5/2019).

Sejak kebijakan diberlakukan, masyarakat pun mengeluh karena kesulitan mengakses layanan WhatsApp, Instagram, Facebook. (sumber: ROL)