MD Kahmi Kepulauan Seribu Nilai Dishub DKI Tak Profesional Kelola Pelabuhan Kaliadem

Suasana Pelabuhan Kaliadem, Jakarta Utara, Sabtu (17/8/2019). (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Ketua Penasehat Majelis Daerah Korps Alumni Himpuman Mahasiswa Islam (MD Kahmi) Kepulauan Seribu, Tobaristani,  mengkritik kondisi Pelabuhan Kaliadem, Kelurahan Muara Angke,  Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara, yang dinilai semrawut dan jauh dari layak.

Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta dinilai tidak profesional dalam mengelola pelabuhan yang melayani penyeberangan ke pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu tersebut.

"Saat ini Pelabuhan Kaliadem memang sedang dalam tahap pembenahan, tapi dalam tahap yang memakan waktu bertahun-tahun itu, melalui 2018, hendaknya pelabuhan ditata dan masyarakat yang akan menyeberang ke Kepulauan Seribu diberi fasilitas yang lebih baik, sehingga masyarakat pun punya kesan yang baik pula terhadap pelabihan ini," katanya kepada dekannews.com. di Jakarta, Sabtu (17/8/2019).

Toba menyebut, dari keluhan masyarakat dan dari hasil pengamatannya, sedikitnya ada empat hal yang harus diperhatikan benar oleh Dishub

Pertama, akses jalan menuju Pelabuhan Kaliadem dari gapura Muara Angke hingga pelabuhan macet parah akibat banyak pedagang di tepi jalan, serta angkot, odong-odong, motor dan mobil pribadi yang ngetem serta parkir di pinggir jalan, sehingga jalanan menyempit.

Kemacetan semakin parah pada akhir pekan dan hari libur nasional dimana jumlah masyarakat yang akan menyeberang ke Kepulauan Seribu membuldak hingga mencapai 5.000 orang,  bahkan lebih.

"Dishub seharusnya bisa mengatasi ini dan tidak cenderung seperti membiarkannya begitu saja, karena kemacetan yang selalu terjadi dapat mengganggu kepentingan masyarakat yang akan menyeberang ke pulau. Mereka bisa ketinggalan kapal, sehingga banyak yang terpaksa berjalan kaki agar dapat terbebas dari kemacetan itu," katanya.

Kedua, Dishub kurang mampu merespon membludaknya masyarakat yang akan ke pulau, karena saat penumpang mencapai ribuan orang,  tidak semua kapal milik Dishub yang berjumlah sekitar 12 unit, dioperasikan, sehingga masyarakat mau tak mau harus memadati kapal tradisional yang selalu setia melayani masyarakat.

"Di hari-hari biasa dimana masyarakat yang akan ke pulau tidak membludak hingga ribuan orang, tak masalah tidak semua kapal Dishub dioperasikan,  tapi ketika penumpang membludak,  ceritanya seharusnya sudah lain. Jadi, tolonglah Dishub responsif," katanya.

Ketiga, tanggul yang memisahkan dermaga dengan fasilitas lain di Pelabuhan Kaliadem dibuat sangat tinggi, sehingga menyusahkan lansia dan pedagang yang membawa banyak barang untuk dijual di pulau.

Tanggul itu, jelas Toba, dibangun untuk mencegah luapan air laut dari dermaga menggenangi area pelabuhan.

"Tingginya tanggul inilah yang paling banyak dikeluhkan. Pedagang yang tak sanggup menaiki tanggul itu sambil membawa barang, terpaksa menggunakan jasa kuli angkut,  sehingga pengeluarannya bertambah," jelas Toba.

Keempat, loket terlalu sederhana karena terbuat dari kayu, dan berdebu.

Untuk sekelas pelabuhan, kata Toba, loket di Pelabuhan Kaliadem sangat tidak layak.

"Meski sedang dalam tahap penataan atau pembenahan, loket seharusnya diprioritaskan karena di sinilah pemasukan pelabuhan berasal. Masak pelabuhan di Jakarta loketnya seperti itu? " kata dia.

Berdasarkan keempat persoalan tersebut, Toba menyimpulkan kalau kinerja Dishub tidak maksimal. Padahal potensi Pelabuhan Kaliadem sangat luar biasa karena dari pelabuhan ini pula, juga dari Dermaga Marina Ancol dan Pelabuhan Kamal Muara, sektor pariwisata Kepulauan Seribu berdenyut.

"Karena itu saya berharap DPRD, terutama Koordinator Presidium Kahmi Jaya Bapak M Taufik yang saat ini menjabat sebagai wakil ketua DPRD,  terus memeloti Dishub dan menegur jika kinerjanya jauh dari harapan," katanya.

Dari pantauan Dekannews, Sabtu (17/8/2019), kondisi Pelabuhan Kaliadem yang sedang dalam tahap penataan atau revitalisasi, jauh dari layak. Selain kondisi loket yang minus serta tanggul yang tinggi, pedagang pun terlihat bertebaran memberi kesan semrawut

Tak hanya itu, di salah satu sisi pelabuhan yang berbatasan dengan pintu air, sampah menumpuk dan bau kotoran manusia menusuk hidung. Di antara sampah yang menumpuk terdapat puluhan jaket keselamatan berwarna oranye yang telah rusak. (man)