Mayoritas Pemilik Kapal Tradisional Putuskan Tetap Bermitra dengan PT SSA

Rapat PT SSA dengan para pemilik kapal tradisional. (Dok: SSA)

Jakarta, Dekannews- Mayoritas pemilik kapal tradisional yang melayani angkutan laut dari Pelabuhan Kaliadem, Jakarta Utara, ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu, menyatakan akan mempertahankan kapal mereka dan tetap bermitra dengan PT Samudera Sumber Artha (SSA).

Mereka tak mau bergabung dengan PT Trans 1000 Jakarta Transportindo.

Keputusan tersebut diambil dalam rapat antara para pemilik kapal tradisional tersebut dengan PT SSA di Restoran Saung Galah, Muara Karang, Jakarta Utara, Minggu (21/9/2019).

"Hasil Rapat, pemilik kapal tetap akan mempertahankan kapal-kapal tradisional yang ada sekarang," kata Manajer Operasional PT SSA, Murthado, kepada dekannews.com melalui telepon, Selasa (24/9/201).

Selain hal tersebut, rapat juga menghasilkan keputusan bahwa para pemilik kapal akan 'merapihkan" kapal mereka dengan cara dicat, dan melakukan doking untuk perawatan.

Dana yang digunakan berasal dari pinjaman yang digelontorkan PT SSA.

Berikut data daftar pemilik kapal yang hadir:
1. Pemilik KM Raja Mas
2. Pemilik KM.Zahro
3. Pemilik KM Bisma 2
4. Pemilik KM Satria Expres
5. Pemilik KM Ratu Serinding
6. Pemilik KM Dolphin
7. Pemilik KM Bima
8. Pemilik KM Garuda Expres
9. Pemilik KM Sena Expres
10. Pemilik KM Merpati Expres 74
11. Pemilik KM Purbaya
12. Pemilik KM Putra Gangga
13. Pemilik  Arjuna

"Ada pemilik kapal yang berhalangan hadir, antara lain pemilik KM Hayatulah dan Cahaya Laut, namun mereka menelepon dan menyatakan menyetujui apapun hasil rapat," jelas Murthado.

Selain hal tersebut, ia juga mengatakan kalau dari semua yang hadir, ada seorang pemilik kapal dan seorang perwakilan pemilik kapal yang diketahui telah bergabung dengan PT Trans 1000. Dalam rapat itu keduanya mengungkapkan bahwa bergabungnya mereka ke Trans 1000 belum final karena masih dalam tahap penjajakan.

"Mereka belum menandatangani MoU (memorandum of understanding/nota kesepahaman) dengan Trans 1000," kata Murthado lagi.

Keduanya adalah Muslim, pemilik KM Purbaya yang melayani rute Pelabuhan Kaliadem-Pulau harapan; dan Amin, perwakilan pemilik KM Bisma 2 yang melayani rute Pelabuhan Kaliadem-Pulau Tidung.

Ketika ditanya apa yang akan dilakukan SSA dan para pemilik kapal tradisional jika pada Oktober 2019 nanti PT Trans 1000 resmi beroperasi?

"Kami akan rapat lagi, tapi yang pasti kami menolak kehadiran Trans 1000," tegas Murthado.

Seperti diketahui, PT SSA dan para pemilik kapal tradisional saat ini tengah berkonflik dengan PT Trans 1000 Jakarta Transportindo, karena perusahaan ini berencana beroperasi di perairan Kepulauan Seribu dan menggunakan rute mereka, yakni rute Pelabuhan Kaliadem ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu.

Saat beroperasi, PT Trans 1000 akan meremajakan kapal-kapal tradisional untuk dijadikan kapal kargo.

PT Trans 1000, menurut direktur utamanya, Nana Suryana, akan mulai beroperasi pada Oktober 2019 setelah RPK (Rencana Pengelolaan Kapal) diterbitkan Kementerian Perhubungan (Kemenhub), dan izin trayek diterbitkan Dinas Perhubungan DKI Jakarta.

Saat mulai beroperasi, Trans 1000 akan mengerahkan dua unit kapal, yakni Kapal Motor Penumpang (KMP) Meranti Express 33 dan KMP Karunia Jaya, dan pada rentang Oktober-Desember 2019 armada ditambah dua unit.

Nana mengklaim, dari 33 kapal tradisional yang saat ini aktif beroperasi, dari total 42 kapal tradisional, sejauh ini sudah  29 kapal tradisional yang telah menyatakan bergabung dengan Trans 1000 dan siap pula diremajakan menjadi kapal kargo.

Dari 29 kapal tersebut, dua pemilik kapal telah menandatangani MoU pada 15 September 2019. (rhm)