Mantan Presiden Mesir Meninggal Saat Jalani Sidang Kasus Spionase

Mohamed Morsi. (Foto: CengNews)

Kairo,  Dekannews- Mantan Presiden Mesir Mohamed Morsi,  Senin (16/6/2019) waktu setempat meninggal dunia saat menghadiri persidangan kasus spionase yang membuatnya disidang sebagai terdakwa di sebuah pengadilan di Kairo, ibukota Mesir. 

"Jaksa penuntut umum mengatakan,  pria berusia 67 tahun itu ambruk di kursi terdakwa di dalam ruang sidang,  dan dinyatakan meninggal di rumah sakit pada pukul 16:50 waktu setempat (02:50 GMT), " demikian dilansir Aljazeera,  Selasa (17/6/2019). 

Sebuah laporan medis tidak menunjukkan adanya luka baru di tubuh Morsi. 

Sebelum wafat,  Morsi menjalani sidang dengan normal.  Dia bahkan sempat diizinkan bicara dengan hakim,  namun setelah jeda sidang, Morsi tiba-tiba jatuh pingsan,  dan meninggal.  Jenazahnya lalu dilarikan ke rumah sakit. 

Putra almarhum, Abdullah Mohamed Morsi, kepada Reuters mengatakan,  ia tidak tahu dimana kini jenazah ayahnya berada,  karena pihak berwenang pun menolak untuk mengizinkan Mursi dimakamkan di pemakaman keluarganya. 

Morsi diketahui memiliki sejarah masalah kesehatan.  Dia mengidap diabetes,  penyakit hati dan ginjal. Dia menderita kelalaian medis selama dipenjara, diperparah oleh kondisi buruk di penjara. 

Ada berbagai laporan selama bertahun-tahun bahwa Morsi telah dianiaya dan disiksa di penjara, dengan para aktivis mengatakan pada hari Senin kematiannya harus dilihat dalam konteks isolasi sistematis pemerintah Mesir dan penganiayaan tahanan politik.

Human Rights Watch menyebut berita kematian Morsi "mengerikan",  tetapi "sepenuhnya dapat diprediksi", mengingat "kegagalan pemerintah Mesir untuk memberinya perawatan medis yang memadai". 

"Pemerintah Mesir hari ini memikul tanggung jawab atas kematiannya, mengingat kegagalan mereka untuk menyediakan perawatan medis yang memadai atau hak-hak dasar tahanan," kata kelompok itu dalam sebuah pernyataan kepada Al Jazeera.

Morsi merupakan presiden Mesir pertama yang terpilih secara demokratis pada 2012, satu tahun setelah revolusi yang melanda sejumlah negara di Timur Tengah yany dikenal dengan sebutan Arab Spring. Kemenangannya dalam Pemilu tahun itu mengakhiri masa 30 tahun pemerintahan Presiden Hosni Mubarak. 

Namun Morsi kemudian digulingkan pada Juli 2013 menyusul terjadinya protes massal dan kudeta militer yang dipimpin oleh Presiden Mesir saat ini,  Abdel Fattah el-Sisi, dan ditangkap, dan organisasi tempat dia berasal, Ikhwanul Muslimin, sejak itu dilarang.

Morsi, yang menghadapi setidaknya enam dakwaan dan telah berada di balik jeruji besi selama hampir enam tahun. Salah satu dakwaan itu membuatnya harus menjalani hukuman 20 tahun penjara karena didakwa menjadi penyebab tewasnya demonstran selama aksi protes pada 2012. 

Morsi bahkan dituntut hukuman penjara seumur hidup dengan tuduhan melakukan spionase dalam kasus yang terkait dengan Qatar. 

Tuduhan lain terhadap mantan presiden itu di antaranya jailbreak, menghina pengadilan dan keterlibatan dalam "terorisme". 

Para pendukungnya mengatakan,  tuduhan terhadap Morsi bermotivasi politik. 

Pada November 2016, Pengadilan Kasasi membatalkan hukuman penjara seumur hidup untuk Morsi dan 21 terdakwa lainnya, termasuk beberapa yang telah menerima hukuman mati dalam kasus yang sama.  Pengadilan kasasi juga memerintahkan digelarnya pengadilan ulang. 

Sepanjang penahanannya, Morsi hanya diizinkan tiga kali menerima kunjungan dari keluarga. Yang pertama pada November 2013. Yang kedua, yang hanya diizinkan untuk istri dan putrinya, pada Juni 2017. Kunjungan terakhir di mana seluruh keluarganya diizinkan untuk meemuinya di hadapan pasukan keamanan adalah pada September 2018. 

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan merupakan pemimpin dunia pertama yang memberikan penghormatan kepada Morsi.  Ia menyebut Morsi sebagai "martir." 

"Semoga Allah mengistirahatkan saudara kita, Morsi, jiwa martir kita,  dalam damai," kata Erdogan. (man)