Mantan Pegawai Kontrak UP Perparkiran Tolak Teken Perjanjian Damai dengan CV CMA

Fadil Halimi. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Mantan pegawai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) atau pekerja kontrak UP Perparkiran Dinas Perhubungan DKI Jakarta yang pada Agustus 2019 lalu dikaryakan di CV Cahaya Muara Angke (CMA), Jumat (22/11/2019), menolak berdamai dengan perusahaan pengelola parkir di Pelabuhan Ikan Muara Angke, Jakarta Utara, tersebut.

Penolakan dilakukan dengan tidak menandatangani perjanjian damai yang disiapkan UP Perparkiran.

"Sesuai undangan, saya datang ke kantor UP Perparkiran di Jalan Perintis Kemerdekaan, Pulogadung, Jakarta Timur, sekitar pukul 13:30 WIB,. Saya ditemani mantan pegawai PKWT UP Perparkiran yang dulu juga dikaryakan di CV CMA bareng saya. Namanya Mahfud dan Ikbal," kata Fadil Halimi, pegawai kontrak tersebut, kepada dekannews.com di Jakarta, Jumat (22/11/2019) sore.

Ia menambahkan, saat ia datang, yang berada dalam ruang rapat UP Perparkiram hanya pegawai UP, tak ada bos CV MCA Tri Waluyo yang seharusnya ikut hadir untuk menandatangani surat perjanjian damai itu.

"Tapi dari keterangan Pak Ivan (Humas UP Perparkiran, red) saya mendapat informasi kalau Pak Tri telah datang pagi hari, dan menandatangani surat itu. Saya heran, kalau dia setuju damai, mengapa tidak menandatangani surat itu bersamaan dengan saya?" imbuh Fadil.

Pria 40 tahunan ini pun kemudian mengatakan bahwa ia menolak menandatangani surat itu.

"Saya sakit hati, Pak. Dulu pun saya dipekerjakan dengan sistem yang tidak jelas, bahkan diperkerjakan selama 12 jam sehari. Saya pikir kalau saya kerja kembali di CMA, hasilnya juga nggak akan baik. Jadi, daripada terus berkonflik dengan perusahaan itu, saya lebih baik tidak bekerja lagi di sana," tegasnya.

Fadil mengaku, pihak UP Perparkiran sempat membujuknya agar menandatangani perjanjian damai tersebut dan kembali bekerja di CMA, namun ia menolak.

"Saya yakin nggak akan pernah nyaman kerja di CMA," tegas pria itu.

Sebelumnya, Fadil mengatakan kalau pada Agustus 2019 ia dan lima orang rekannya dikaryakan UP Perparkiran di CV MCA, namun tak betah karena selain sistem kerja yang tidak jelas, mereka juga digaji tidak sesuai UMP DKI.

"Kami di situ harus kerja 12 jam per hari, tidak ada shift, dan saat saya keluar setelah 14 hari kerja, saya hanya dibayar Rp1,5 juta. Padahal UMP DKI 2019 sebesar Rp3,9 juta," katanya kepada dekannews.com, Jumat (15/11/2019).

Fadil mengaku, dari enam pegawai kontrak UP Perparkiran yang dikaryakan di CMA, saat ini hanya dua orang yang masih bekerja di sana, karena empat di antaranya, termasuk dia, telah keluar.

Pada 11 Oktober 2019, Fadil menulis surat kepada pimpinan UP Perparkiran dan surat itu ditembuskan kepada Gubernur, DPRD dan kepala Dishub. Dalam surat itu, dia menjelaskan apa yang ia dan rekan-rekannya alami selama dikaryakan di CV CMA, serta mengutarakan keinginannya untuk kembali bekerja di UP Perparkiran, karena sejak keluar dari CMA pada Agustus 2019, setelah 14 hari kerja, dia masih menganggur.

Pada Rabu (20/11/2019), UP Perparkiran mempertemukan Fadil dan Bos CV MCA Tri Waluyo di kantornya, Jalan Perintis Kemerdekaan, Pulogadung, Jakarta Timur, agar mendapatkan informasi yang berimbang. Hasilnya, UP Perparkiran meminta CMA agar menghormati perjanjian kerjasama (PKS) yang ditandatangani dengan pihaknya, dan meminta agar
CMA merekrut kembali para pegawai kontrak yang telah keluar, serta mengelola parkir di Pelabuhan Ikan Muara Angke dengan baik.

UP Perparkiran kemudian menyiapkan surat perjanjian damai untuk Fadil dan CV MCA, dan mengundang kembali kedua pihak hari ini, untuk menandatangani surat itu. Jika Fadil menandatangani surat tersebut, maka secara otomatis dia krmbali menjadi karyawan MCA.

 

Fadil membantah keterangan Bos CV MCA

Sebelumnya, melalui keterangan tertulis, Bos CV MCA Tri Waluyo membantah semua keterangan Fadil kepada dekannews.com. Dia mengatakan, jumlah pegawai kontrak UP Perparkiran yang dipekerjakan di perusahaannya bukan enam, tapi tujuh orang.

Ia juga membantah kalau Fadil bekerja selama 14 hari di perusahaannya, sebelum keluar.

"Berdasarkan absensi perusahaan saya, dia cuma absen 8 hari," katanya, Kamis (21/11/2019).

Fadil menegaskan, ia bekerja di CMA selama 14 hari.

'Mengapa absensi saya cuma 8 hari? Hal itu karena pada hari pertama hingga hari keenam saya kerja di sana, absensi dengan sistem finger print belum ada,"/katanya.

Hal itu dibenarkan Mahfud,  mantan PKWT UP Perparkiran yang juga telah keluar dari CV CMA.

"Ya, pada awal-awal kami kerja di sana, absen dengan finger print belum ada," katanya.

Fadil menyesalkan keterangan Tri itu, karena menurutnya, jika apa yang ia sampaikan kepada dekannews.com. keliru, seharusnya sudah dikomplain saat pertemuan di UP Perparkiran pada Rabu lalu, bukan dibantah melalui keterangan tertulis yang dikirimkan kepada dekannews.com melalui pesan WhatsApp.

"Waktu pertemuan hari Rabu dia nggak ngomong apa-apa kok. Malah lebih banyak menunduk!" sungut Fadil.

Humas UP Perparkiran Ivan Valentino saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, membenarkan kalau Fadil tidak menandatangani perjanjian damai dengan CMA yang disiapkan oleh pihaknya.

"Ya," katanya.

Namun ketika ditanya lebih lanjut, dia tidak menjawab.

Bos CV MCA Tri Waluyo belum memberi komentar karena konfirmasi yang dikirim melalui WhatsApp-nya hingga berita ini ditayangkan hanya dibaca. (rhm)