Mantan Karyawan Berencana Laporkan Trans 1000 ke Disnakertrans

Indra menunjukkan SK pengangkatan sebagai asisten manajer transportasi dari PT Trans 1000. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Mantan karyawan PT Trans 1000 Jakarta Transportindo berencana melaporkan perusahaan itu ke Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) DKI Jakarta karena tidak membayarkan gaji sesuai yang dijanjikan. 

"Waktu diterima bekerja sebagai asisten manajer transportasi, saya dijanjikan gaji sebesar Rp16 juta per bulan, tapi nyatanya tiap bulan saya hanya menerima gaji Rp1-2 juta," kata Indra, mantan karyawan PT Trans 1000, kepada wartawan di Pelabuhan Kaliadem, Jakarta Utara, Minggu (8/9/2019). 

Indra mengaku bekerja di perusahaan itu pada Oktober 2018 hingga April 2019.

Ia melamar ke Trans 1000 karena tertarik pada rencana perusahaan itu yang akan membuka bisnis angkutan penumpang laut dengan rute Pelabuhan Kaliadem ke pulau-pulau di Kabupaten Kepulauan Seribu. 

"Menurut saya waktu itu; "wah, keren nih perusahaan",  karena kebetulan basic pendidikan saya manajemen transportasi darat," katanya. 

Indra mengaku, yang hanya menerima gaji Rp1-2 juta/bulan bukan hanya dirinya, tapi juga 13 karyawan lain yang saat ini juga sudah resign dari Trans 1000 seperti dirinya. 

"Di antara mereka ada dua orang nahkoda, namanya Syahriful dan Ivan Laode," jelasnya. 

Pemuda berkulit putih ini menilai, PT Trans 1000 merupakan perusahaan yang misterius, karena banyak hal yang ganjil dan menjadi tanda tanya dirinya selama bekerja di sana. 

Misalnya, ia pernah diajak ke Tanjung Burung, Tangerang, untuk menemui sebuah perusahaan pemilik Kapal Discovery I dan II. Kapal ini, katanya, akan dioperasikan dari Pelabuhan Kaliadem ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu. 

"Tapi kapal itu tidak jadi dibeli," katanya. 

Hal yang paling mengagetkan, kata Indra, meski Trans 1000 berniat berbisnis angkutan penumpang laut, perusahaan ini ternyata tak punya kapal. 

"Investornya pun berganti-ganti. Satu mundur, masuk perusahaan lain. Perusahaan ini mundur, masuk lagi perusahaan lain. Terakhir yang saya dengar investornya yang punya kapal Meranti Express, kapal yang pada Sabtu sampai Senin lalu (31 Agustus-2 September 2019, red) digunakan buat sosialisasi," katanya. 

Pemuda lajang ini mengaku ia dan teman-temannya sempat mempertanyakan mengapa gaji mereka hanya dibayarkan Rp1-2 juta/bulan, tapi jawaban pihak Trans 1000 tak pernah memuaskan. 

"Karena tak tahan, saya dan teman-teman akhirnya memutuskan keluar," sambungnya. 

Indra mengaku berniat melapor karena ingin haknya diberikan. 

"Teman-teman juga sebenarnya ingin melapor, tapi mereka masih ragu. Apalagi karena di antara mereka sudah ada yang bekerja lagi di perusahaan lain," katanya. 

Indra mengatakan, ia kemungkinan akan melaporkan Trans 1000 ke Disnakertrans dan polisi. 

Seperti diketahui, PT Trans 1000 Jakarta Transportindo adalah perusahaan yang akan membuka usaha angkutan penumpang laut dari Pelabuhan Kaliadem ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu. 

Perusahaan ini semula akan memulai usahanya pada Oktober 2018 dengan menerjunkan 16 kapal, namun urung karena belum memiliki izin dan belum memiliki kerja sama dengan Pemprov DKI Jakarta. Pada 31 Agustus-2 September lalu, perusahaan ini melakukan uji coba dengan satu unit kapal Meranti Express. 

Kemunculan perusahaan, menurut Koordinator Forum Solidaritas Untuk Rakyat (FostuR) Kepulauan Seribu, Tobaristani, meresahkan para pemilik kapal tradisional yang selama puluhan tahun melayani penyeberangan dari Pelabuhan Kaliadem ke pulau-pulau di Kepulauan Seribu, karena Trans 1000 berencana meremajakan kapal mereka menjadi kapal kargo. (rhm)