Maluku Jangan Mau Dijadikan Tumbal

Adhy Fadhly, Koordinator Paparisa Perjuangan Maluku

DEMONSTRASI di depan Balaikota DKI Jakarta oleh sekelompok orang yang mengatasnamakan masyarakat Indonesia Timur adalah kekonyolan berpikir dan tidak mendasar. Tidak ada korelasi yang tepat antara Habib Rizieq Shihab (HRS) atau Front Pembela Islam (FPI) dengan Ambon Maluku yang perlu disikapi.

Alangkah lebih baik, mereka - mereka itu hadir disaat kejahatan kedzhaliman negara terhadap rakyat Maluku terjadi, disaat keadilan selalu tidak berpihak pada rakyat Maluku, segala bentuk diskriminasi yang terjadi, inilah moment - moment dimana mereka harus hadir. Bukan malah hadir mengatasnamakan Maluku pada persoalan yang tidak memiliki hubungan apa - apa dengan masyarakat Maluku.

Perlu digaris bawahi, mereka yang melakukan aksi bukan representasi dari masyarakat Maluku, baik yang ada di Jakarta maupun di daerah. Malah yang kami khawatiran Maluku sengaja dimasukan dalam skenario besar untuk pengalihan berbagai persoalan yang terjadi saat ini. Sebab saya sangat yakin, sebagian besar orang Maluku tidak merasa memiliki persoalan dengan HRS maupun FPI, baik langsung maupun tidak langsung.

Satu pertanyaan yang mendasar yang kiranya harus dijawab oleh mereka yang mengatasnamakan rakyat Maluku adalah apakah semua orang Maluku tidak menyukai HRS atau FPI? Apakah semua rakyat Maluku rela orang yang mereka anggap sebagai ulama mereka atau habaib dicaci maki seperti itu?
Ini yang harus mereka jawab!

Saya juga ingin sampaikan kepada saudara - saudara saya di Ambon Maluku, jangan mau dibodohi, jangan mau terprovokasi, sebab bisa saja kita masuk dalam bagian skenario besar yang berakibat pada kehancuran kita sendiri. Maluku jangan mau jadi tumbal. Kita pernah lewati fase kebodohan itu.

Dalam hal ini, tidak ada persoalan yang perlu di tindaklanjuti dan tidak ada sedikitpun hubungan Ambon - Petamburan yang perlu disikapi.

Bagi teman - teman yang telah melakukan aksi, saya sangat apresiasi jika itu dilakukan secara serius dan konsisten disaat hak - hak orang Maluku dirampas, didzhalimi. Bukan tampil mengatasnamakan Maluku dalam persoalan yang tidak memiliki sangkut paut sedikitpun dengan kemaslahatan orang Maluku. Malah sangat berpotensi membuat gap antara sesama orang maluku. Saya yakin tidak semua orang Maluku yang sepakat dengan kata - kata yang terucap dari para demonstran saat itu.

Untuk itu, marilah kita lebih bijak, satukan kekuatan orang Maluku untuk lebih melihat persoalan - persoalan yang lebih mendasar yang berhubungan dengan kesejahteraan, kemaslahatan rakyat Maluku secara universal. Bukan hal - hal konyol yang tidak membawa dampak positif pada hidup orang Maluku.

Bukan soal like and dislike tapi lebih pada substansi persoalan, agar kita semua lebih bijak dalam menyikapi persoalan. Prinsipnya Maluku jangan mau jadi Tumbal!

*Koordinator Paparisa Perjuangan Maluku
PPM_95 DJAKARTA

Tuhulele, Adhy Fadhly