Lolos Seleksi DTKJ, Prayudi Komit Realisasikan Program Anies Benahi Transportasi Dalam 3 Tahun

Prayudi. (Foto; Dekan)

Jakarta, Dekannews- Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta pekan lalu telah selesai menyeleksi peserta seleksi anggota Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) periode 2020-2023. Dari 48 peserta, 17 di antaranya dinyatakan lolos di mana seorang di antaranya adalah Kasubdit Rekayasa dan Peningkatan Perkeretaapian Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Prayudi.

"Saya bersyukur, Alhamdulillah, karena dapat menyelesaikan beberapa tes, termasuk tes wawancara dan psikologi yang lumayan menguras energi dan pengetahuan, sehingga kita semua, peserta seleksi, harus mengeluarkan semua potensi yang ada," katanya kepada dekannews.com di Jakarta, Minggu (18/12/2019) malam.

Ia menyebut, dari pimpinan dan anggota DTKJ periode 2017-2020 yang kembali mendaftar, termasuk ketuanya (Iskandar Abubakar), hanya seorang yang lolos, yakni Sudaryanto yang pada periode tersebut menjabat sebagai anggota Komisi Hukum dan Hubungan Masyarakat DTKJ dari unsur LSM. Selebihnya merupakan orang baru.

Prayudi menilai, dari semua yang lolos seleksi ada beberapa yang punya potensi bagus, namun beberapa lainnya belum pernah ia lihat perananannya dalam komunitas transportasi.

"Tapi secara keseluruhan semuanya punya kapasitas menurut saya," imbuhnya.

Ketika ditanya apa yang akan dilakukan jika pada April 2020 nanti dilantik menjadi anggota DTKJ, apalagi jika terpilih menjadi ketua lembaga itu? Prayudi menjawab bahwa dia akan menjalankan amanah yang diberikan dengan sebaik-baiknya.

"Gubernur memiliki program pengembangan transportasi yang sangat bagus, dan itu perlu kita dukung dan kita bantu tuntaskan karena program itu tak hanya akan membuat sarana transportasi di Jakarta menjadi nyaman, tapi juga menjadi moda transportasi yang terintegrasi, sehingga memudahkan masyarakat dalam berpergian dan berbiaya murah. Jika saya dipilih menjadi ketua, saya yakin dalam tiga tahun program itu telah terealisasi dengan baik, sehingga Jakarta pun tidak lagi menjadi semacet sekarang," katanya.

Alumni Universitas Trisakti ini menilai, program pengembangan transportasi Gubernur Anies Baswedan tersebut sangat visioner, mengindikasikan bahwa Anies tak hanya telah melihat bagaimana transportasi di negara-negara maju dibangun, namun juga telah menganalisasnya dan yakin bahwa strategi yang sama dapat diterapkan di Jakarta.

"Gubernur Anies memulai penataan transportasi antara lain dengan merevitalisasi trotoar. Di negara-negara maju seperti di Eropa maupun Singapura, trotoar didahulukan dalam pengembangan transportasi. Karena itu di sana trotoarnya lebar-lebar seperti yang dibuat Gubernur Anies saat ini, dan bagus. Masyarakat pun terlindungi dari kendaraan yang berlalu lalang," katanya.

Ketika ditanyakan soal adanya kontroversi terhadap revitalisasi trotoar, karena dinilai hanya membuat jalanan menjadi menyempit dan semakin macet? Prayudi menjawab bahwa yang mengkritik adalah orang-orang yang tak paham tentang trotoar.

"Lagipula kemacetan disebabkan karena jumlah kendaraan yang lebih banyak dibanding kapasitas jalan. Itu antara lain disebabkan karena kebiasaan masyarakat yang lebih senang naik kendaraan pribadi dibanding naik angkutan massal. Meskipun jarak tempuhnya pendek, tidak sampai 1 kilometer. Di negara-negara maju sebaliknya; lebih banyak orang yang berjalan di trotoar dibanding kendaraan yang berlalu lalang," katanya. 

Menurut dia, syarat utama pengembangan dan penataan transportasi adalah membenahi trotoar, karena angkutan massal berhenti di titik-titik tertentu. Jika tak ada trotoar, masyarakat harus langsung memasuki jalanan, dan itu sangat berbahaya bagi mereka.

"Coba bayangkan jika pernumpang MRT atau Commuter Line yang berjumlah ratusan, bahkan ribuan orang, ingin berganti moda transportasi. Begitu keluar dari stasiun, ternyata di situ tak ada trotoar. Apa mereka takkan celaka?" tanyanya.

Selain hal tersebut, menurut Prayudi, UU Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menyatakan, trotoar merupakan salah satu fasilitas pendukung penyelenggaraan lalu lintas, sama seperti zebra croos dan jembatan penyebrangan orang (JPO). Bahkan pasal 114 PP Nomor 79 Tahun 2013 menyatakan, trotoar pun dapat digunakan sebagai tempat bersepeda.

"Trotoar yang saat ini dibangun Gubernur sudah bagus, karena juga telah mengakomodir kepentingan kaum difabel dan juga dipasangi bollard agar tidak diokupansi pengemudi kendaraan bermotor. Tinggal ditingkatkan dan dikembangkan lagi, misalnya dengan ditambah sarana keran air siap minum di titik-titik tertentu agar pejalan kaki yang kehausan dapat minum dari situ," katanya.

Prayudi melihat fungsi lain yang juga tak kalah penting dari trotoar, yakni sebagai sarana bagi masyarakat untuk berjalan-jalan menikmati keindahan kota.

Maka, kata dia, setelah dirinya dilantik menjadi anggota DTKJ, apalagi jika dipercaya memimpun lembaga ini, ia akan mendukung Gubernur mengembangkan pembangunan trotoar, karena selain dapat mendorong masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi, juga akan membuat masyarakat sehat dengan berjalan kaki.

"Kalau masyarakat sehat, klaim BPJS Kesehatan akan berkurang, dan orang yang mengalami over weight (kelebihan berat badan) akan dapat menurunkan bobot tubuhnya dengan rajin berjalan di trotoar. Ini artinya, kebijakan Gubernur merevitalisasi trotoar sebenarnya juga bertujuan untuk menyehatkan warganya," kata dia.

Selain mendukung revitalisasi trotoar, setelah dilantik menjadi anggota DTKJ 2020-2023, apalagi jika dipercaya menjadi ketua, Prayudi telah menyiapkan sejumlah kebijakan demi mendukung program gubernur dan menjadikan DTKJ sebagai lembaga multi stakeholder yang mengurus pengembangan masalah transportasi di Jakarta yang efektif dan efisien.

Kebijakan dimaksud di antaranya:
1. Mendukung program pembangunan jalur sepeda
2. Mengintegrasikan layanan berbasis transportasi massal, seperti mengintegrasikan busway dengan KRL, dengan LRT, dengan MRT, dengan Jack Lingko dan Kereta Bandara menjadi satu kesatuan.

"Kalau perlu (bus) Damri pun dibuat satu integrasi," katanya.
 
3. Sistem pembayaran yang terintegrasi. 

"Dengan metode satu tiket untuk semua moda transportasi, ini jauh lebih menarik karena membuat masyarakat merasa menjadi murah untuk bertransportasi massal, dan mereka pun menjadi malas untuk menggunakan kendaraan pribadi," katanya.

Prayudi meyakini, jika ia memimpin DTKJ, semua program ini telah terealisasi dalam tiga tahun, karena pada dua tahun pertama DTKJ akan bekerja keras mengintegrasikan semua moda transportasi dan menyiapkan layanan sistem pembayaran yang terintegrasi, dan di tahun ketiga atau tahun terakhir adalah evaluasi, supervisi dan perbaikan.

"Setelah itu program siap melayani masyarakat," tutupnya. (rhm)