Ledakan Dahysat Guncang Pelabuhan Beirut, Puluhan Orang Tewas

Momen saat ledakan terjadi. (Foto: Aljazeera)

Beirut, Dekannews- Puluhan orang tewas dan ribuan lainnya luka-luka setelah sebuah ledakan maha dahsyat mengguncang Pelabuhan Beirut, Libanon, Selasa (4/8/2020) pukul 17:25 waktu setempat. 

Belum jelas apa penyebab ledakan ini, karena menurut Aljazeera, Kepala Keamanan Umum Libanon, Jenderal Abbas Ibrahim, saat mengunjungi lokasi ledakan mengatakan, ledakan itu sepertinya disebabkan oleh bahan peledak yang disita sejak bertahun-tahun lalu dan disimpan di gudang pelabuhan. Sedang Menteri Dalam Negeri Libanon mengatakan, ledakan itu kemungkinan dipicu oleh ledakan beberapa ton amonium nitrat yang disimpan di gudang tersebut. 

Meski demikian Aljazeera melaporkan, ledakan itu menciptakan awan berbentuk jamur yang membumbung tinggi ke udara seperti ledakan nuklir, dan mengeluarkan gelombang kejut yang menyebabkan kerusakan luas pada bangunan di sejumlah wilayah di Beirut yang berada di sekitar pelabuhan. 

Di sisi lain, pelabuhan yang menjadi titik ledakan rata dengan tanah dan terbakar. 

Beberapa menit setelah ledakan yang suaranya terdengar hingga seantero Beirut itu, menurut BBC,  sedikitnya 27 orang diketahui tewas, sementara sekitar 2.500 orang lainnya terluka. 

Jumlah ini kemungkinan akan bertambah melihat dampak ledakan yang terjadi. 

"Pemerintah Libanon telah mengerahkan ambulans dari seluruh negara itu untuk membantu mengevakuasi para korban dan memadamkan api yang masih berkobar, dengan dibantu helikopter yang berputar-putar di atas lokasi kejadian sambil menyiramkan air," lapor Aljazeera lagi. 

Koresponden Aljazeera Timour Azhari menggambarkan, dahsyatnya ledakan membuat sejumlah mobil terlempar hingga ke lantai tiga pabrik di dekat pelabuhan, dan membuat pelabuhan itu menjadi tampak seperti "tanah kosong". 

"Layanan penyelamatan belum dapat mencapai titik lokasi ledakan itu karena api masih berkobar, sementara Helikopter mengitari area sambil berusaha memadamkan api," kata Azhari. 

Kapten kapal sipil Italia, Ratu Orient, yang saat kejadian kapalnya sedang merapat di dekat lokasi ledakan, terlempar hingga ke salah satu kamar di dalam kapal itu. Dia terluka parah dan berlumuran darah. Begitupula dengan beberapa orang lain yang juga berada kapal itu. 

"Para saksi mengatakan, ini benar-benar ledakan yang luar biasa. Mereka bahkan mengatakan belum pernah melihat ledakan yang sedahsyat ini," imbuh Azhari. 

Banyaknya korban tewas dan luka-luka membuat rumah sakit-rumah sakit di Beirut kewalahan menerima para korban, sehingga RS Hotel-Dieu bahkan secara resmi mengumumkan tak dapat lagi menampung para korban, dan menolak lusinan korban yang dibawa ke situ. 

Suasana rumah sakit-rumah sakit di Beirut saat ini sangat mencekam, karena kamar-kamar perawatan, IGD dan lorong dipenuhi orang-orang yang menangis dan merintih kesakitan akibat terluka dan berlumuran darah. 

"Rumah Sakit  Hotel-Dieu pun sebenarnya tidak aman karena ledakan itu membuat eternitnya rusak dan sewaktu-waktu bisa ambruk," kata Azhari. 

Perdana Menteri Libanon Hassan Diab menyerukan hari Rabu (5/8/2020) sebagai hari berkabung nasional, sementara Presiden Libanon Michel Aoun, menurut akun Twitter kepresidenan, akan segera menggelar pertemuan darurat Dewan Pertahanan Tertinggi untuk menyikapi kejadian ini. (rhm)