Lanfang: Kisah Sebuah Republik di Belantara Kalimantan

Ilustrasi. (ROL)

Jakarta, Dekannews- Mungkin Republik Lanfang mulai hari ini akan menjadi salah satu bahan pembicaraan rakyat Indonesia, terkait keputusan Presiden Jokowi memindahkan ibukota dari Jakarta ke sebuah lokasi di di Kabupaten Penajam Paser Utara dan Kabupaten Kutai Kertanegera, Kalimantan Timur (Kaltim).

Meski antara republik yang eksis di Kalimantan Barat pada 1777-1884 itu tak ada kaitannya dengan rencana Jokowi memindahkan ibukota, namun minimal wawasan rakyat Indonesia bertambah dengan mengetahui bahwa sebelum Republik Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, di Kalimantan pernah ada sebuah negara yang didirikan oleh seorang warganegara China bermarga Hakka dengan nama Luo Fangbao.

Seperti dilansir republika.co.id, Rabu (28/8/2019), menurut Teguh Setiawan, jurnalis senior penulis buku 'China Muslim: Runtuhnya Republik Bisnis', dalam lebih dari satu dekade lalu sulit bagi siapa pun, kecuali sejarawan pemerhati Tionghoa,  mencari informasi tentang Republik Lanfang.

Kini dengan hanya mengetik kata kunci “Lanfang Republic” di search engine dan diklik, seabrek informasi tentang republik pertama di Asia itu tersedia.

Prof Yuan Bingling, sinolog Universitas Fudan dan peneliti sejarah kongsi di Kalimantan Barat, membebaskan kita untuk mengakses bukunya, Chinese Democracies: A Study of the Kongsis of West Borneo, secara gratis. Sebuah stasiun televisi swasta di Jakarta sempat mendokumentasikan kisah Republik Lanfang, lengkap dengan rekonstruksi suasana 200 tahun lalu.

Belakangan, Choy Ka Fai dari Singapore Art Museum meluncurkan Lanfang Chronicles Projec, sebuah proyek film dokumenter tentang migrasi masyarakat Hakka ke Kalimantan Barat, pendirian kongsi-kongsi pertambangan, dan pembentukan federasi Lanfang. Proyek ini berupaya memberi gambaran jelas tentang sejarah Lanfang dan sepak terjang imigran penambang Hakka.

Menjadi sangat menarik jika mengaitkan sejarah Republik Lanfang dengan komunitas Hakka dan Hoklo di Medan dan Kuala Lumpur. Josef Widjaja, salah seorang penulis sejarah Tionghoa, menyimpulkan, Republik Lanfang di Kalimantan Barat tidak benar-benar musnah setelah orang terakhir mereka meninggalkan pulau itu. Gagasannya dibawa masyarakat Hakka yang lari ke Medan, diwariskan ke generasi berikut yang menyebar dari Kuala Lumpur sampai Singapura. Salah satu keturunan mereka; Lee Kuan Yew, mendirikan Republik Lanfang kedua bernama Singapura.

Adalah Yap Siong-yoen, menantu Liu Asheng presiden terakhir Republik Lanfang yang tergerak menulis sejarah negara dengan judul Langfang Kongsi Lidai Niance, dalam bentuk biografi pendek pemimpin-pemimpin Lanfang, mulai dari Luo Fangbo sampai Liu Asheng.

JJM de Groot, sinolog Belanda, menerjemahkan dan memperkayanya ke dalam sebuah buku berjudul, Jaarboeken Der Voorbijgegane Geslachten Van De Kongsi Lanfong. Ia juga menyuplai informasi dari arsip-arsip kongsi, mereproduksi teks-teks asli, dan membentuk kembali ukurannya.

De Groot pula yang kali pertama berbicara soal republik ketika mengurai karakteristik kongsi-kongsi di Kalimantan Barat dengan pemerintahan Zongting-nya. Kedekatannya kepada Liu Asheng dan sebagai orang pertama yang berinteraksi dengan lingkaran dalam Lanfang, De Groot secara khusus mempelajari federasi kongsi.

Namun, Lanfang, dengan ibu kota di Mandor, bukan satu-satunya federasi kongsi pertambangan emas di Kalimantan Barat. Mary Somers Heidhues, dalam Chinese Settlement in Rural Southeast Asia: Unwritten Histories, memperlihatkan bukti Heshun Zongting di Monterado satu tahun lebih tua dari Lanfang. Jika Langfang didirikan pada1777, Monterado berdiri 1776.

Bahkan, menurut Marry Somers, sejarah kongsi pertambangan emas di Kalimantan Barat sebenarnya milik Monterado. Lanfang dan Monterado memiliki karakater berbeda dan ketika menghadapi kolonialisme Belanda, keduanya menempuh pendekatan yang tak sama. Lanfang memilih jalan diplomasi, lebih tepatnya kompromi. Monterado lebih suka angkat senjata.

Monterado mengobarkan perang dengan Belanda antara 1853-1854 dan kalah. Pendekatan diplomasi Lanfang menyebabkan republik ini menjadi negara protektorat Belanda sampai kematian Liu Asheng 1884.

Sejarah adalah milik mereka yang menulis. Lanfang menjadi lebih dibicarakan dalam buku-buku sejarah imigran Cina karena salah seorang generasi terakhirnya membuat catatan-catatan. Meski bukan catatan lengkap, apa yang ditulis Yap Siong-yoen atau Ye Xiangyoen, memberi jalan bagi sejarawan untuk mengadakan penelitian.

Monterado boleh lebih tua dan lebih militan mempertahankan diri dari serangan Belanda, tapi Lanfang tahu bagaiman harus hidup 30 tahun lebih lama agar eksistensinya tercatat dalam sejarah. Lanfang memberi kesempatan peneliti Belanda untuk mencatat sejarahnya, sedangkan Monterado tidak.

Arsip Belanda lebih banyak berisi perlawanan Monterado. Mungkin ini pula yang membuat Marry Sommers sampai pada kesimpulan sejarah kongsi pertambangan emas di Kalimantan Barat adalah milik Monterado, sedangkan Lanfang dikenang masyarakat Hakka sebagai pemersatu kongsi ke dalam federasi.

Terabaikan

Lanfang, Monterado, dan kongsikongsi pertambangan adalah sejarah terabaikan. Kisah mereka luput dari kajian para sejarawan dan hanya sedikit yang tertulis dalam bahasa Indonesia.

Padahal, membicarakan sejarah pertambangan di Indonesia terutama pertambangan emas dan timah tidak bisa mengabaikan peran masyarakat Hakka. Mereka adalah pewaris teknologi pertambangan yang sampai saat ini banyak digunakan penambang di Indonesia.

Mereka adalah agen alih teknologi, tidak hanya pertambangan, tapi juga pertanian dan sistem irigasi. Mereka membangun jalan-jalan, membuka wilayah baru, membuat koneksi antara satu wilayah dan wilayah permukiman lain dengan membangun jaringan jalan.

Di bidang pertambangan, orang-orang Hakka membangun reputasinya di ladang tambang-tambang timah di Bangka. Mereka adalah pekerja pertambangan nomor wahid yang menyumbang keuangan ke kantong Sultan Palembang.

Mereka menjadi rebutan sultan-sultan di Kalimantan Barat: Sultan Mempawah, Sultan Sambas, dan Sultan Pontianak. Di luar Kalimantan Barat, penambang Hakka dikenal sebagai pencari emas bagi Raja Brooke di Sarawak.

Pada tambang-tambang emas Kalimantan Barat, masyarakat Hakka mengembangkan metode serta menemukan inovasi baru untuk menggandakan hasil produksi. Salah satunya dengan membangun dam-dam kecil, mengalirkan air ke selokan. Tanah yang mengandung emas dilemparkan ke dalam selokan. Tanah yang ringan akan mengalir bersama air, sedangkan logam emas yang lebih berat tertinggal di dasar selokan.

Jika sungai kering atau di penambangan tidak dialiri sungai, mereka menggali sumur dan mengangkat airnya dengan pompa hidrolik Cina. Hal serupa juga dilakukan di tanah-tanah pertanian. Sistem pompa inilah sumbangan berharga masyarakat Hakka bagi penduduk Kalimantan Barat.

Khusus di sektor pertanian, adalah masyarakat Hakka yang memperkenalkan double-cropped wet rice, atau panen ganda beras. Mereka memenuhi kebutuhan akan gula dengan menanam tebu dan mengolahnya. Bahkan, mereka pula yang merintis penanaman karet.

Mereka memperkenalkan sistem institusi demokrasi di tanah kesultanan Melayu lengkap dengan sistem peradilan, perundang-undangan, sistem pendidikan, dan perbankan sendiri. Mereka mengembangkan institusi militer yang membuat mereka bisa mengalahkan Sultan Mempawah saat menjadi sekutu Sultan Pontianak.

Lou Lan Fak, presiden pertama Lanfang, menolak keinginan rakyat dan orang-orang Melayu di daerah kekuasannya yang hendak menjadikannya sultan. Ia lebih memilih menjadi apa yang saat ini disebut presiden. Ia membuat undang-undang pemilihan presiden, sebelum ajal menjemput.

Belum ada sistem pemilu. Presiden dipilih oleh anggota zongting atau majelis permusyawaratan. Para nggota zongting berasal dari setiap kongsi yang tergabung dalam republik federasi Lanfang. Sistem pemilihannya adalah satu orang satu suara (one man one vote).

Mereka adalah sejarah. Rezim boleh saja mengabaikannya, tapi sejarawan akan selalu mengkaji dan menuliskan eksistensi mereka di republik bernama Indonesia.

Kalimantan Barat pada paruh pertama abad ke-18 adalah wilayah tak tereksplorasi dan tak terjamah pengunjung Eropa. Padahal, kontak diplomatik pertama antara VOC dan orang-orang Kalimantan Barat terjadi pada1698 ketika penguasa Landak terlibat perang dengan Sukadana. Landak meminta bantuan Kesultanan Banten yang merupakan vassal state VOC. Otoritas VOC memutuskan membantu Landak. Sukadana dihancurkan.

Sejak saat itu, sampai paruh pertama abad ke-18, penguasa Kalimantan Barat menjalin hubungan dengan VO, namun hubungan keduanya sebatas pembelian berlian, bukan hubungan diplomatik. Juga tidak ada pendudukan militer atas wilayah Kalimantan Barat.

Memasuki paruh kedua abad ke-18, VOC mendirikan kantornya di Sukadana, Landak, dan Pontianak. Pada saat hampir bersamaan, tepatnya tahun 1750, sekitar 10 tahun setelah pembantaian Tionghoa di Batavia, Sultan Mempawah mendatangkan penambang Cina, menurut PJ Veth dalam Borneo’s Wester-afdeeling, dari Brunei dan Bangka.

Kelompok penambang pertama sukses. Panembahan Mempawah mengundang lebih banyak penambang Cina. Omar Akamaddin, sultan Sambas, tak mau ketinggalan. Ia ikut mendatangkan pekerja Cina, lalu terjadilah persaingan.

Muncul klaim tumpang-tindih atas cadangan emas di Selakau yang diselesaikan lewat perang antarsultan. Konflik itu memakan banyak korban dan menurunkan populasi Melayu. Sedangkan populasi Cina, terutama etnis Hakka dan Hoklo, mencapai 40 ribu, melampaui populasi Melayu.

Sukses awal penambang Hakka dan Hoklo dicatat Lou Fangbo dalam sajak You Jinshan Fu dan ditegaskan dalam peta maritim Cina yang dipublikasikan pada 1806. Dalam peta, Mandor disebut dengan nama Jinshan atau gunung emas. Pendatang berikut bukan sekadar penambang, melainkan juga petani. Juga bukan hanya Hakka dan Hoklo, tapi Hokkien.

Di Kalimantan Barat, penambang membentuk asosiasi berdasarkan kesamaan pemujaan, klan, marga, atau penguasaan modal. Awalnya, asosiasi ini disebut hui. Sedangkan unit-unit pertambangan disebut shansha, fen, bali, jiawei, dan jinhu.

Tidak ada aturan baku siapa anggota mereka. Penambang bisa membentuk asosiasi berdasarkan klan atau desa asal, keluarga, atau kesetaraan modal. Shanha dan Bali adalah unit-unit kecil pertambangan. Nan dan fen agak lebih besar.

Tidak ada yang tahu berapa banyak Hui di Kalimantan Barat sepanjang 1750 sampai 1776. Yang banyak diketahui para peneliti, ada 14 organisasi penambang dan dua asosiasi petani di Monterado sebelum pembentukan Heshun Zongting pada 1776.

Terjadi evolusi organisasi. Beberapa Hui beraliansi untuk membentuk organisasi yang lebih besar yang disebut kongsi agar bisa berekspansi. Kongsi tidak hanya memainkan peran ekonomi, tapi juga politik dan militer. Banyak sarjana Barat memperkirakan masyarakat rahasia Tiandihui memainkan peran dalam pembangunan struktur politik kongsi.

Di dalam kongsi, terdapat pembagian kerja, seperti manufaktur, pertanian, dan perdagangan. Setiap kongsi memiliki tentara dan mempersenjatai diri dengan apa saja, dan wilayah kekuasaan dengan batas-batas yang jelas. Persaingan antarkongsi tak terhindarkan.

Upaya untuk meminimalisasi konflik antarkongsi ditempuh. Di Monterado dan Sambas, sebanyak 14 kongsi; Dagang, Lao Bafen, Jiu Fentou, Shisanfen, Jielian, Xin Bafen, Santiaogou, Manhe, Xinwu, Kengwei, Shiwufen, Taihe, Lao Shisifen, dan Shi’erfen, membentuk Heshun Zongting di Monterado. Salah satu alasan aliansi ini adalah melindungi diri dari pemerasan Tiandihui, mafia Triad, atau gerakan sektarian Bumi dan Langit.

Pemimpin pertama Heshun Zongting adalah Xie Jiebo. Namun, tidak ada informasi pasti apakah pemimpin-pe mimpin Heshun Zongting dipilih atau tidak. Yang pasti, Dagang Kongsi paling powerfull di dalam Heshun Zongting.

Setahun kemudian, Luo Fangbo mendirikan Lanfang. Tidak diketahui berapa jumlah kongsi yang tergabung di dalamnya. Ada yang bilang 17, ada pula yang menyebut 24. Yang pasti, pembentukan Lanfang terjadi setelah Luo Fangbo dan organisasi Lanfanghui-nya menghimpun sejumlah kongsi untuk merangi Tiandihui dan menang.

Federasi Lanfang beribukota di Mandor. Luo Fangbo membentuk Zongting, semacam general assembly yang anggotanya terdiri atas perwakilan setiap kongsi. Mereka membangun kota dengan segala aktivitas ekonominya. Mengembangkan kawasan pertanian, perdagangan, sampai perjudian.

Sepanjang 1777-1839, Monterado dan Lanfang menikmati masa keemasan. Di Monterado, pemimpin tertinggi dipanggil paman. Pusat pemerintahan federasi keduanya disebut Ting dengan masing-masing memiliki ciri khasnya. Yang pasti, ada altar pemujaan untuk dewa yang mereka sembah.

Di Monterado, ada Pemilu untuk memilih wakil dari setiap kongsi yang disebut Tingzhu. Di Lanfang, setiap desa memilih wakilnya untuk duduk di Zongting dan biasanya orang yang dituakan atau secara usia memang paling tua.

Sebanyak 14 Tingzhu dan Laoda (kepala desa yang dipilih) bersama pemegang saham dari setiap pertambangan memilih bos pemimpin Heshun Zong Ting, Xiansheng (sekretaris Zongting), Junshi (komandan militer), Jiulang (kepala kantor pajak), Fushou (kepala kuil utama).

Di Lanfang, tidak ada Tingzhu. Yang ada adalah Futouren atau asisten orang nomor satu. Pemimpin yang menerima mandat dibatasi hanya pada orang-orang yang berasal dari Jiaying, tempat asal Luo Fangbo. Sayangnya, tidak ada informasi rinci bagaimana pemerintahan itu berjalan.

Monterado kerap diwarnai konflik internal dan perang antarkongsi anggota Heshun Zongting. Dagang yang terlalu kuat mendominasi kepemimpinan Heshun. Santiagou berusaha melawan dan musnah.

Di Lanfang, konflik relatif hanya dengan pihak luar, berkenaan ekspansi pertambangan. Ekspansi harus dilakukan ketika cadangan emas di area pertambangan lama mulai menipis. Ekspansi adalah perang dengan Dayak dan sultan-sultan Melayu, berlangsung lama dan melemahkan.

Kongsi Periode Peristiwa Politik menurut buku Chinese Democracies: A Study of the Kongsis of West Borneo:
1. Xie Jiebo   1776- Pembentukan Heshun Zongting
2. Wen Sancai   1807- Konflik Jielian-Dagang Kongsi
3. Liu Guibo Xinwu 1814- Konflik Kangwei-Dagang
4. Liu Zhengbao Dagang -1818 Awal Konflik dengan Belanda
5. Hu Yalu Santiaogou 1818-1819 Berkuasa tiga bulan, dikudeta.
6. Zhu Fenghua Santiaogou 1819-1820 Konflik Santiaogou-Dagang
7. Liu Zhengbao Dagang 1822-1826 Ekspansi ke Lara, Sepang, Seminis, Pemangkat, dan lainnya
8. Luo Pai Dagang 1826-1836 Pemindahan Menhe ke Landak
9. Li Debo Kengwei 1836-1837  
10. Wen Guanshou Dagang 1837-1839 Konflik segitiga; Kangwei, Dagang dan Xinwu
11. Xie Xiang Dagang 1839-1843 Perang dengan Dayak di Landak
12. Zhu Lai Dagang 1843-1845 Tumbuhnya kekuatan penambang
13. Wen Guanshou Dagang 1846-1848  
14. Guan Zhiyin Dagang 1848-1849 Normalisasi dengan Sultan Sambas
15. Zheng Hongren Dagang 1850-1851 Perang Kongsi
16. Xu Qibo Shiwufen 1851-1853  
17. Huang Jinao Dagang 1853-1854 Akhir Heshun Zongting

Nama Periode Peristiwa Politik menurut buku The Chronicle of the Lanfang Kongsi and A History of Pontianak:
1. Luo Fangbo 1777-1795 Pembangunan Lanfanghui dan pembentukan Federasi Lanfang
2. Jiang Wubo 1795-1799 Perang dengan Sultan Mempawah
3. Jue Sibo 1799-1803 Konflik dengan Dayak di Landak.
4. Jiang Wubo 1803-1811  
5. Song Chabo 1811-1823 Ekspansi pertambangan ke Landak.
6 Liu Tai’er 1823-1837 Di bawah pengaruh Belanda.
7. Gu Liubo 1837-1842 Konflik dengan Penembahan Landak. Lanfang mulai melemah
8. Xie Guifang 1842-1843  
9. Ye Tenghui 1843-1845  
10. Liu Qianxing 1845-1848 Pertempuran dengan Dayak di Landak.
11. Liu Asheng 1848-1876 Ekspansi pertambahan ke Landak
12. Liu Liangguan 1876-1880  
13.Liu Asheng 1880-1884 Liu Asheng meninggal, Belanda mencaplok
(sumber: ROL)