KPU Banyak Salah Input Data C1, BPK dan DPR Diminta Action

Ferdinand Hutahaean. (Foto: TagarNews)

Jakarta, Dekannews- Jubir Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Ferdinand Hutahaean, meminta DPR dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI bertindak, menyusul terungkapnya kesalahan yang dilakukan KPU dalam meng-input data dari formulir C1 ke sistem informasi penghitungan suara (Situng) di laman pemilu2019.kpu.go.id. 

Politisi Partai Demokrat ini tak percaya kalau kesalahan tersebut hanya karena human error semata, mengingat input tersebut tidak menyertakan formulir C1 sebagai pelengkap data.

"Wahai tuan @KPU_ID mengapa banyak data diinput akan tetapi form C1-nya tidak ter-up load? Maunya kalian apa sih? Sangat penting sekarang @DPR _RI dan @bpkri melakukan angket an audit atas sistem KPU. Jangan sampai KPU mengumumkan hasil Pemilu yang bersumber dari kekeliruan (kecurangan)," katanya, Sabtu (20/4/2019), melalui akun @FerdinandHutah2.

Sebelumnya diberitakan, pendukung Prabowo-Sandi mengkritisi kinerja KPU dalam melakukan perhitungan manual (real count) hasil Pilpres 2019 yang digelar Rabu (17/4/2019), yang melalui Situng-nya, karena input itu mengandung banyak kesalahan.

Kesalahan terfatal adalah input data yang bersumber dari C1 itu memotong perolehan suara Prabowo-Sandi di berbagai TPS di Indonesia, namun menambah perolehan suara pasangan nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin.

Hal seperti ini antara lain terjadi dalam peng-input-an peroleh suara di TPS 10 Kelurahan Laksamana, Kecamatan Dumai Kota, Kota Dumai, Provinsi Riau. Di Situng, KPU menulis kalau di TPS tersebut DPT terdiri dari 230 pemilih, dan yang menggunakan hak suara sebanyak 173 orang. Pasangan Jokowi-Ma'ruf memperoleh 26 suara, dan Prabowo-Sandi 41 suara.

Namun berdasarkan formulir C1 yang dimiliki relawan Prabowo-Sandi, di TPS itu pasangan nomor urut 02 itu memperoleh 141 suara, sehingga dengan demikian KPU menghilangkan 100 suara yang diperoleh Prabowo-Sandi.

Hal yang sama terjadi untuk input data dari TPS 25 Kelurahan Banjarnegoro, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Dalam Situng-nya, KPU menulis kalau di TPS ini pasangan 01 memperoleh 170 suara dan 02 mendapat 65 suara. Padahal formulur C1 Plano menunjukkan, pasangan 01 mendapat 100 suara dan pasangan 02 mendapat 76 suara. Artinya, perolehan suara 01 digelembungkan 70 suara dan suara 02 dihilangkan 11 suara.

"Salah in put data kembali dilakukan @KPU_ID. Arah keberpihakan kalian sangat terlihat. Jangan curang dong," kritik akun @do_ra_dong, Jumat (19/4/2019).

Para pendukung Prabowo-Sandi juga mempersoalkan karena dalam meng-input data, KPU hanya memasukkan angka-angka, tanpa menyertakan foto atau scan formulir C1, sehingga validitas data yang diunggah dipertanyakan, dan rawan manipulasi atau kecurangan.

Menanggapi hal ini, Komisioner KPU Pramono Ubaid Tanthowi mengakui, pihaknya telah salah menginput data karena adanya kelalaian dari petugas.

Ia memgaku, kesalahan input data yang viral di media sosial itu bukan karena diretas oleh pihak manapun.

"Kita pastikan itu sama sekali bukan karena serangan hack atau serangan cyber. Itu betul-betul semata-mata kesalahan entry yang kami sangat terbuka untuk melakukan koreksi," kata nya di Kantor KPU, Jakarta Pusat, Jumat (19/4/2019).

Dia memastikan KPU akan melakukan upaya perbaikan jika ada kesalahan data dan akan melakukan pengecekan terhadap data-data dari masing-masing provinsi yang telah dimasukkan ke Situng KPU.

"Jadi, nanti kalau ada yang keliru, itu langsung kita informasikan di daerah setempat, kemudian di daerah setempat yang akan melakukan seleksi, karena scan, upload dan entry data situng itu tersebar di KPU Kabupaten/Kota, bukan dilaksanakan oleh KPU RI," ujarnya.

Pramono meminta kepada masyarakat agar tak terpaku pada hasil situng KPU, karena Situng KPU hanya untuk transparansi kepada publik dan tak ada kaitannya pada penetapan hasil akhir Pemilu. (man)