Kontestasi Dianggap Selesai, Emak-emak Masih Berada di Gugus Depan

Para emak-emak saat mendemo KPU. (Foto: Int)

LEBIH dari satu setengah tahun membuka cakrawala baru di kancah perpolitikan dunia.

Mungkin itu pengibaratan kecil dari hadirnya golongan baru dalam era politik di dunia pada saat ini.

Indonesia mendapat mandat dari Allah SWT untuk membuka deruan gendang perjuangan dari mereka yang tidak pernah disangka sebelumnya akan menjadi garis depan barisan perlawanan.

Mereka yang dalam tanda kutip dulu hanya dikategorikan sebagai 'pelengkap', kini muncul sebagai aktor, produser dan sutradara dalam barisan perjuangan menuju keadilan.

Mereka yang dalam tanda kutip dulu hanya dijadikan bahan lawakan untuk sebagian orang, kini bermanuver menjadi bahan ketakutan baginya yang diserang. 

Mereka yang kita sebut adalah Barisan Emak-emak.

Dalam salah satu pembuktiannya, saat pengawalan sidang Mahkamah Konstitusi (MK) tanggal 24  – 27 Juni 2019, sejak malam hari sebelumnya, tanpa kenal nama, tanpa kenal umur, tanpa kenal status, emak-emak bahu-membahu menyiapkan segala keperluan untuk keesokan harinya demi kepentingan perjuangan menuju keadilan.

Dan pada Senin 24 Juni  hingga kamis 27 Juni 2019 ribuan emak-emak dari berbagai status, baik pedagang, ibu rumah tangga, pekerja kantoran, dosen dan status-status mulia lainnya tumpah ruah, berkumpul menjadi satu, dalam satu komando yaitu Barisan Emak-emak. 

Emak-emak tersebut bukan hanya sebagai pelengkap, mereka adalah aktor, Mereka bergulat secara intelektual dengan Mereka yang dalam tanda kutip mencoba menghambat hak emak-emak tersebut untuk menyerukan keadilan dalam barisan perjuangan.

Dalam fenomena tersebut, dunia bahkan memusatkan perhatiannya kepada golongan emak-emak di Indonesia dan mulai bertanya "Siapakah emak-emak dan seberapa hebatnya tagline The power of emak-emak?" Bahkan di beberapa universitas bergengsi di dunia,  golongan emak-emak menjadi topik terhangat dalam pembuatan karya tulis dan penelitian karena fenomena tersebut baru kali ini terjadi di dunia, dimana emak-emak pada umumnya hanya menjadi pelengkap, tetapi di Indonesia emak-emak muncul sebagai aktor utama sampai sutradara dalam sebuah Konsorsium Perjuangan.

Lantas setelah beberapa pihak menyatakan kontestasi politik telah selesai, apa emak-emak tersebut surut perjuangannya? Tentu saja tidak! 

Perjuangan emak-emak tetap berada di Gugus Depan (avant garde), tetap memperjuangkan keadilan,  terutama untuk mereka yang keadilannya masih dihambat oleh tirai-tirai kepentingan. 

Emak-emak masih berada di garis perlawanan, tetap melawan untuk kepentingan umat, untuk kepentingan rakyat, untuk kepentingan bangsa dan negara serta untuk kepentingan agama.

Dengan izin  Allah SWT,  sebagian besar emak-emak saat ini telah melebur bersama para pejuang demokrasi lainya, serta telah bersatu dalam kesatuan Ikatan Keluarga Relawan , relawan untuk rakyat, relawan untuk kebenaran, relawan untuk menghancurkan ketidakadilan dan merekapun telah berikrar akan membangun kekuatan untuk terus memperjuangkan dalam konteks keadilan dan tetap terus berikhtiar berada di gugus depan barisan perjuangan. 

HIDUP EMAK-EMAK!!!
HIDUP EMAK-EMAK!!!!
HIDUP EMAK-EMAK!!!!!

Masih berani bilang emak-emak cuma bisa ngasih lampu sein kanan, belok ke kiri???

Oleh : Ibnu R.
Akademisi dan Petani