KG Dan Sinovac Cina Keroyok Vaksin Nusantara

ilustrasi. [ist]

Jakarta, Dekannews – Pemerintah berupaya menghambat pengembangan pembuatan Vaksin Nusantara. Vaksin Nusantara yang digagas mantan Menkes Letjen (Purn) Terawan Agus Putranto digadang-gadang bakal lebih baik dan manjur ketimbang Vaksin Sinovac yang didukung pemerintah dan diakui Pemerintah Cina tidak begitu efektif membasmi Virus Corona-19 kendati bakal mandapat sertifikasi WHO.   

Ketika hambatan politis untuk pengembangan Vaksin Nusantara justru dukungan datang dari sesepuh Partai Golkar Aburizal Bakrie, politisi DPR, mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Mantan Menkes Siti Fadillah Supari serta rakyat Indonesia lainnya. Mereka bersedia menjadi relawan untuk uji klinis Vaksin Nusantara.  

Menilik fenomena tersebut, Pengamat Kebijakan Publi Amir Hamzah menyatakan, ada upaya Konspirasi Global (KG) menghambat pembuatan Vaksin Nusantara yang merupakan produk dalam negeri. “Muncul perbedaan pendapat penggunaan Vaksin Nusantara merupakan bagian konspirasi global menghambat produk vaksin dalam negeri,” ungkap Amir Hamzah, Sabtu (17/4/2021).

Amir mengatakan, KG menggunakan orang-orang tertentu di lembaga pemerintah maupun non pemerintah untuk memainkan strategi mereka. “Orang-orang ini yang menjadi bagian dan melakukan misi konspirasi global untuk menghambat pembuatan Vaksin Nusantara,” jelasnya.

Indonesia lebih memilih vaksin Sinovac, kata Amir, lebih pada pertimbangan hubungan yang dekat dengan Cina, bahkan mungkin tekanan politis Cina. “Kelihatan ada ikatan diplomatik tertentu Indonesia-Cina sehingga pemerintahan Jokowi lebih memilih Vaksin Sinovac,” ujar Amir.

Kata Amir, pejabat Cina sendiri mengakui vaksin sinovac tidak memiliki efikasi atau tingkat kemanjuran yang tinggi terhadap virus Corona.

Kendati mendapat tentangan pemerintah, Amir mengatakan, keberadaan Vaksin Nusantara mendapat dukungan tokoh-tokoh nasional seperti Aburizal Bakrie, Gatot Nurmantyo dan mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari. “Masyarakat tidak meragukan nasionalisme Siti Fadilah Supari saat menghadapi flu burung,” paparnya.

Uji klinis Vaksin Nusantara terhadap tokoh-tokoh nasional itu, kata Amir, menunjukkan ada keseriusan dalam menghasilkan vaksin produk dalam negeri. “Tokoh nasional yang mengikuti uji klinis Vaksin Nusantara sudah memikirkan secara matang, tentunya mereka tidak ingin bunuh diri. Jenderal Gatot mengakui mengikuti uji klinis Vaksin Nusantara demi ibu pertiwi. Mantan Panglima TNI rela mengorbankan nyawanya demi kepentingan nasional terwujud,” tegas Amir.

Amir menambahkan, Komisi IX DPR sudah melakukan tekanan kepada BPOM agar memberikan kesempatan yang sama antara Vaksin Nusantara dengan Vaksin Sinovac. Komisi IX DPR RI bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/BRIN), Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) hingga tim riset Vaksin Nusantara pada 10 Maret 2021 telah membuat kesepakatan untuk segera mengeluarkan Persetujuan Pelaksanaan Uji Klinis (PPUK) tahap II terhadap kandidat Vaksin Nusantara. Tujuannya adalah agar penelitian itu dapat segera dituntaskan. Pelaksanaan PPUK Tahap II pada 17 Maret 2021.

Untuk diketahui, Vaksin Nusantara dikembangkan Tim Peneliti dari Balitbangkes Kementerian Kesehatan, RSPAD Gatot Subroto, RSUP Dr. Kariadi dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. Penelitian ini disponsori PT. Rama Emerald/PT. AIVITA Indonesia bekerja sama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes), Kementerian Kesehatan (Kemenkes). (dbs/kir