Ketua DPD Demokrat DKI Jakarta Berpotensi Jadi Tersangka Penggelapan Suara

Santoso. (Foto: Int)

Jakarta, Dekannews- Ambisi Ketua DPD Partai Demokrat DKI Jakarta, Santoso, untuk berkantor di Senayan agaknya bakal terhambat, karena politisi yang saat ini menjabat sebagai ketua Komisi C DPRD DKI Jakarta itu berpotensi menjadi tersangka kasus penggelapan suara hasil Pileg 2019.

Berdasarkan surat bernomor B/1714/VII/RES.1.11./2019/Reskrim tentang Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan yang dikirimkan Illal Ferhard kepada dekannews.com melalui pesan WhatsApp, Jumat (2/8/2019), diketahui kalau Santoso dilaporkan dengan tuduhan melanggar pasal 372 KUHPidana dan atau pasal 378 KUHPidana jo pasal 55 ayat (1) ke-1e KUHPidana. Pasal 372 dan 378 KUHP tentang Pwnggelapan dan Penipuan dengan ancaman penjara paling lama empat tahun.

Pelapor kasus ini adalah Ketua DPC Demokrat Jakarta Utara Sulkarnaen,  dan Ilal adalah kuasa hukum pelapor.

Berdasarkan surat bernomor B/1714/VII/RES.1.11./2019/Reskrim itu juga diketahui kalau Sulkarnaen tak hanya melaporkan Santoso, tapi juga seorang pria bernama Asep Suhenda.

Kasus dilaporkan pada 1 Juni 2019 dan diregistrasi dengan nomor LPB/478/K/VI/2019/PMJ/Resju dan naik ke penyidikan pada Juli 2019.

"Bersama ini diberitahukan bahwa proses penyidikan terhadap perkara yang saudara laporkan,  penyidik telah melakukan pemerikaaan terhadap saksi-saksi dan terlapor sebagai saksi serta melakukan penyitaan terhadap barang bukti," demikian tertera dalam surat pemberitahuan yang ditujukan kepada pelapor,  dan ditandatangani penyidik pada 30 Juli 2019.

Dalam surat tersebut, penyidik juga mengatakan bahwa rencana tindak lanjut dari penyidikan perkara ini adalah menetapkan tersangka kepada kedua terlapor.

Menurut informasi,  Sulkarnaen menuduh Santoso melakukan penipuan dan penggelapan karena ditengarai menggelembungkan suara untuk lolos ke DPR RI pada Pileg 2019 melalui Dapil DKI Jakarta 3 yang meliputi Jakarta Barat, Jakarta Utara dan Kepulauan seribu. Penggelembungan itu membuat perolehan suara Sulkarnaen untuk lolos ke DPRD DKI Jakarta, menyusut dan dia gagal menjadi wakil rakyat.

Konon,  penggelembungan suara itu dilakukan antara lain dengan cara mencuri foto kopi hasil rapat Pleno KPU Jakarta Utara.

Saat kasus masih dalam penanganan Gakkumdu (Penegakkan Hukum Terpadu), melalui kuasa hukumnya,  Mery, Santoso mengatakan kalau tindakan Sulkarnaen melaporkan dirinya merupakan bentuk pembunuhan karakter.

"Menurut pandangan kami, konstruksi hukumnya sangat lemah. Bahkan Gakkumdu Jakut sudah menyatakan kasus ini tidak memenuhi unsur pelanggaran pemilu, sehingga tidak perlu dilakukan proses penyidikan," kata Mery pada Juni 2019.

 

Ilal mengatakan, kliennya melaporkan Santoso tak hanya ke Polda Metro Jaya, tapi juga Polres Jakarta Utara.

'Status tersangka ini oleh Polres," kata Ilal.

Sejumlah kalangan menilai, Santoso termasuk politisi yang namanya kurang diperhitungkan dalam kancah perpolitikan Ibukota, namun secara mengejutkan meraih kursi di DPR. Dia mengalahkan nama-nama beken di Dapil DKI Jakarta 3 seperti Rahayu Saraswati (keponakan Prabowo Subianto) dan Ketua Umum PSI Grace Natalie. (rhm)