Jika UBN Ditangkap, Pendukung 02 Nyatakan Siap Berjihad

Cuitan pengurus Pepes, Lisa Amarta Tara, di Twitter. (Foto: Twitter)

Jakarta, Dekannews- Perasaan umat Islam pendukung 02 Prabowo-Sandi campur aduk mendengar kabar Ustad Bachtiar Nasir (UBN) telah dijadikan tersangka kasus tindak pidana pencucian uang (TPPU) oleh Polri, dan akan diperiksa pada Rabu (8/5/2019) besok.

Di antara mereka malah menyatakan telah siap berjihad untuk membela ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GBPF)-Ulama itu.

"Kalau semua orang dicari-cari kesalahannya, dan aparat penegak hukum hanya bertindak melayani kekuasaan, maka siap-siaplah dengan amukan massa," politisi PBB Ahmad Yani mengingatkan melalui @Ayaniulva, Selasa (7/5/2019).

"Astaghfirullah, sekarang ustad @bachtiarnasir mau kalian tangkap!!!! Oke gaes ... Kita persiapkan diri lahir, batin dan harta kita buat jihad. Wamakaru wamakaru wallahi khorul makirin ... La hawla wala quwwata illa billah ...," kata Lisa Amarta Tara, salah satu pengurus Partai Emak-Emak Pendukung Prabowo-Sandiaga (Pepes), melalui @LisaAmartaTara.

Cuitan perempuan yang berprofesi sebagai dokter ini disambut para folliwernya dengan riuh.

"Nanti tahajud. Seluruh umat Islam kita baca Hizb Nashr .... Sepanjang Ramadan ini kita baca shalawat dan Hizb Nashr," kata @Hanjar08.

"Tadinya nggak mau komen sama segala keributan penghitungan ini .... Sabar menunggu sampai 22 Mei ... Tapi kalau UBN ditangkap ... Nggak perlu nunggu apa-apa lagi .... Jihad ...," kata @AhnafMirza1.

"Hahahaha ... Senang aku lihat berita ini. Tambah kencang kode people power akan terjadi. Lanjut saja pak polisi. Kami siap dengarkan komando ulama," kata @AlphaBWI.

Para tokoh yang bergabung di 02 menilai, penetapan UBN sebagai tersangka merupakan bentuk kriminalisasi terhadap ulama.

"Polri tetapkan Bachtiar Nasir jadi tersangka pencucian uang ... Innalillahi ... Kasus lama tahun 2017 tiba-tiba setelah Ijtima Ulama 3, muncullah penetapan sebagai tersangka. Kembali lagi kriminalisasi ulama. Semoga Allah menangkan keadilan, jaga dan selamatkan UBN," kata Wakil Ketua MPR dari Fraksi PKS, Hidayat Nur Wahid melalui @hnurwahid.

"Kriminalisasi Ijtima Ulama III," kata Wakil Ketua DPR Fadli Zon singkat melalui @fadlizon.

Seperti diketahui,UBN ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pencucian uang dengan tindak pidana asal pengalihan kekayaan Yayasan Keadilan Untuk Semua.

Dalam kasus yang mencuat pada Februari 2017 itu UBN dituduh menyelewengkan donasi masyarakat yang masuk ke rekening yayasan tersebut secara tidak sah, dan dijerat dengan pasal berlapis-lapis, yakni pasal 70 jo pasal 5 ayat (1) UU Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 28 Tahun 2004 atau pasal 374 KUHP jo pasal 372 KUHP atau pasal 373 KUHP jo pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau pasal 56 KUHP atau pasal 48 ayat (2) huruf b UU Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perbankan atau pasal 63 ayat (2) UU Nomor 21 Tahun 2008 tentang Perbankan Syariah dan pasal 3 dan pasal 5 dan pasal 6 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.

Ketua GNPF-MUI itu akan diperiksa sebagai tersangka pada Rabu (8/5/2019).

Saat diperiksa sebagai saksi untuk tersangka Islahudin Akbar pada 12 Februari 2017, UBN telah membantah tuduhan ini.

Ia menjelaskan, donasi yang masuk ke Yayasan Keadilan Untuk Semua mencapai Rp3 miliar. Dana itu digunakan untuk kepentingan Aksi Bela Islam (ABI) pada 4 November 2016 (Aksi 411) dan ABI pada 2 Desember 2016 (Aksi 212).

"Dana itu dialokasikan untuk konsumsi peserta aksi dan untuk mengobati korban luka-luka saat aksi 411," katanya.

Selain hal itu, UBN juga mengatakan kalau dana tersebut digunakan untuk biaya publikasi seperti pemasangan baliho, spanduk, dan sumbangan lainnya seperti sumbangan untuk korban bencana Aceh sebesar Rp500 juta dan di Sumbawa sebesar Rp200 juta.

"Jadi, tidak ada dana dari donasi masyarakat ke yayasan yang mengalir ke pihak lain yang tak sesuai peruntukannya," tegas ustad yang juga berprofesi sebagai dosen itu. (rhm)