Jika Jokowi Kalah, Ada 3 Orang yang Harus Bertanggung Jawab

Tony Rosyid. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Pengamat politik yang juga dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta, Tony Rosyid, mengatakan, berbagai gangguan yang diduga dilakukan oleh kubu pasangan calon (Paslon) nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf Amin terhadap Paslon nomor 02 Prabowo-Sandi, dinilai justru menguntungkan kubu 02.

"Kalau tak ada gangguan-gangguan itu, saya justru ragu 02 bisa memenangkan Pilpres 2019," katanya dalam diskusi bertajuk "Kampanye 02 Sering Diganggu, Tegakkan Fairplay" di Sekretaris Nasional (Seknas) Prabowo-Sandi, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (10/4/2019).

Ia menilai, gangguan-gangguan itu menunjukkan kalau kubu 01 telah sangat panik karena merasa akan kalah, sehingga kurang percaya diri dan mentalnya telah jatuh.

"Kubu 01 sadar kalau bertarung dengan " tangan kosong" tidak akan menang, maka mereka ambil pisau," katanya menganalogikan.

Menurutnya, kepanikan itu muncul karena meski penyelenggara dan pengawas Pemilu terindikasi tidak netral, namun saksi dan penonton menjadi kontrol permainan, sehingga ruang gerak menjadi sempit dan mereka menjadi tak enak jika akan kebanyakan curang.

Bagusnya, lanjut dia, kubu 02 tidak mengkapitalisasi gangguan-gangguan itu, sehingga mempengaruhi psikologis massa dan 02 pun mendapat angin segar yang membuat elektabilitasnya terus terkerek.

"Saat ini saya bahkan belum menemukan teori yang dapat membuat 01 bisa menang di Pilpres 2019," imbuhnya.

Ia menilai, gangguan-gangguan yang dilakukan kubu 01 terhadap 02 merupakan strategi yang keliru dari timnya, yang justru membuat elektabilitas Jokowi sebagai Capres petahana, ter-down grade.

""Saya melihat ada kesamaan pola antara Pilkada Jakarta 2017 yang mempertemukan Ahok-Djarot dengan Anies-Sandi, dengan pola Pilpres 2019 yang mempertemukan Jokowi-Ma'ruf Amin dengan Prabowo-Sandi, dan melakukan penelitian tentang siapa sebenarnya orang di belakang Ahok-Djarot dan Jokowi-Ma'ruf. Dan saya mendapatkan tiga nama yang sama. Maka, kalau Jokowi-Ma'ruf kalah seperti Ahok-Djarot di Pilkada Jakarta 2017, maka ketiga orang ini pula yang bertanggung jawab," katanya.

Sayang, Tony tak mau membuka nama ketiga orang ini, namun ia memberitahu bahwa ketiga orang tersebut memang dididik dengan patern dan pola seperti yang terlihat pada Pilkada Jakarta 2017 dan Pilpres 2019 ini, dan untuk merubahnya sulit.

Pola-pola dimaksud di antaranya mengklaim hasil pekerjaan orang sebagai pekerjaannya seperti dalam kasus MRT; melebih-lebihkan pembangunan infrastruktur dengan mengabaikan peran Presiden Soeharto dan SBY; mempersekusi ulama seperti yang dialami Ustad Abdul Somad dan Ustad Bastiar Nasir; menuding orang secara serampangan seperti tuduhan bahwa jika Prabowo menang maka Indonesia akan menjadi negara khilafah; dan lain sebagainya.

Menurut dia, kalau ketiga orang tersebut tidak menerapkan pola dan patern yang demikian, maka Jokowi akan sulit dikalahkan karena jika Jokowi tidak mengklaim proyek MRT sebagai kebijakan politik dirinya dan Ahok, para pendukung Sutiyoso dan Anies Baswedan sebagai pihak yang berperan besar dalam pembangunan MRT, tentu akan memilih Jokowi.

"Begitu pula kalau Ustad Abdul Somad dan Ustad Bastiar Nasir tidak dipersekusi, pengikutnya akan memilih Jokowi," katanya.

"Sekarang ini mengapa Prabowo-Sandi berada di atas angin, karena ada kemarahan kolektif di tengah masyarakat atas apa yang dilakukan kubu 01, karena hingga kini preferens psikologi masih sangar mempengaruhi masyarakat Indonesia, termasuk dalam berpolitik, dan setelah itu baru referensi rasional," katanya.

Tony menegaskan, jika kubu 01 tidak mengubah polanya, maka elektabilitas Jokowi akan semakin ter-down grade, namun ia juga memgakui, waktu pencoblosan pada 17 April yang hanya tinggal seminggu, takkan cukup bagi kubu 01 untuk memperbaiki keadaan. Apalagi karena dari susa waktu seminggu itu, ada masa tenang selama empat hari.

"Karena itu saya bilang, saya sama sekali belom menemukan teori kalau 01 akan memenangi Pilpres 2019," tegasnya.

Seperti diketahui, kian dekat dengan hari pencoblosan Pemilu 2019 pada 17 April, gangguan atau hambatan bagi Prabowo-Sandi makin menggila. Saat akan terbang ke Banyumas dari Bandara Halim Perdamakusuma, Jakarta Timur, untuk berkampanye, tiba-tiba tiga pesawat jet tempur melintas saat pesawat carteran yang dinaiki Prabowo akan take off.

Saat kampanye di GBK, Jakarta, pada 7 April lalu, pengelola GBK yang biasanya memperkenankan stadionnya digunakan dari pagi sampai malam, hanya diperkenankan digunakan sejak dinihari hingga menjelang siang. Sementara pendukunya dari berbagai daerah dipersulit menuju GBK oleh kepolisian.

Sebelumnya, saat Ketua DPP PKS Mardani Ali Sera dan Hajjah Neno Warisman mengampanyekan #2019GantiPtesiden, mereka dipersekusi di sejumlah lokasi, di antaranya di Batam. Ustad Abdul Somad dan Ustad Bastiar Nasir juga mengalami hal yang sama. bahkan Bastiar sempat batal berceramah di beberapa lokasi, karena panitia membatalkan jadwal untuknya.

Tony mengatakan, gangguan terhadap kubu 02 telah dimulai sejak Aksi Bela Islam (ABI) pada 2 Desember 2016 yang dikenal dengan aksi 212. (man)