Jatim dan Jabar Kuat, Jakarta Berat Jadi Juara Umum PON Papua

Logo PON Papua. (Foto; Int)

Jakarta, Dekannews-  Pekan Olahraga Nasional (PON) XX yang akan digelar di Papua pada 2020 sudah di depan mata. Beberapa daerah sudah menyiapkan atlet untuk berlaga di Bumi Cendrawasih itu, termasuk Jakarta yang menargetkan untuk kembali menjadi juara umum. 

Masyarakat Pemantau Olahraga Jakarta (MPOJ) Sofwan Sulthan mengatakan, dalam sejarah PON,  yang juara umum adalah daerah dengan dana pembinaan yang dominan, sementara Jakarta hanya mendapatkan dana hibah dari APBD sebesar Rp 271 miliar. 

"Papua itu mahal. Harga pesawat saja berapa? Kan paling murah bisa mencapai Rp 5-6 juta sampai Jayapura," ucapnya kepada wartawan di Jakarta, Kamis (5/12/2019).

Dana hibah untuk KONI awalnya disetujui Rp387 miliar, tapi entah mengapa menjadi Rp271 miliar. 

"Rp387 miliar saja masih kurang, apalagi Rp271 miliar. Ini bahaya dan Jakarta berat menjadi juara umum. Saya harap ada penambahan untuk pembinaan atlet," ungkapnya.

Menurut data, DKI Jakarta akan memberangkatkan sekitar 1.500 atlet, pelatih, aspel dan official kontingen.

Sofwan mengakui, kebutuhan pembinaan prestasi olahraga memang tidak sedikit. Biasanya, induk olahraga provinsi, yakni KONI, selain memberikan honor kepada atlet, pelatih, aspel dan para bibit atlet (Lapis II), juga harus melakukan  training camp (TC) baik di dalam negeri maupun luar negeri. 

Sebelum TC, para atlet biasanya sudah dipusatkan pada pelatihan daerah (Pelatda). Dari hasil kajian MPOJ diketahui, pada PON Riau 2012, KONI DKI Jakarta mendapatkan sekitar Rp321 miliar dan berhasil menjadi juara umum menumbangkan Jawa Timur, Jawa Barat serta Jawa Tengah.  

Saat PON Jawa Barat pada 2016, KONI DKI Jakarta hanya mendapatkan Rp200 miliar dan berada di peringkat ketiga di bawah Jawa Barat dan Jawa Timur. 

"Artinya, dana pembinaan atlet prestasi menjadi dominan. Apalagi kabarnya pesaing Jakarta seperti Jawa Barat dan Jawa Timur dapat dana hibah lebih besar sekitar Rp400 miliar," tegasnya.

Dana jumbo Jawa Barat dan Jawa Timur belum ditambah dengan anggaran hibah di KONI kabupaten dan kota. 

"Ini bahaya, kalau Jakarta hanya dapat Rp271 miliar,  maka paling hebat peringkat empat di bawah Jawa Timur, Jawa Barat dan tuan rumah Papua," ungkap aktivis olahraga Jakarta ini. 

Data dari tiket online pada Kamis (5/12/2019) menyebutkan, untuk penerbangan Jakarta ke Jayapura, Papua, dengan maskapai Lion Air sekitar Rp5,8 juta per orang. Jika naik Garuda Indonesia sekitar Rp10 juta per orang.

"Harga ini pasti akan naik lagi ketika PO, karena akan ada ribuan kontingen dari berbagai provinsi menuju Papua. Belum lagi biaya hotel, makan, kendaraan antar jemput atlet dan posko serta lainnya," beber Sofwan.

Diketahui, sejak Oktober 2019, honor atlet dan pelatih serta aspel di Jakarta sudah naik. Atlet dari Rp 4,5 juta menjadi Rp 7,5 juta; pelatih dari Rp 6 juta menjadi rp 9 juta; dan asisten pelatih atau aspel  dari Rp 4.750.000 menjadi Rp 7.750,000 juta. Kenaikan ini belum terhitung pajak. 

Kenaikan itu juga belum ditambah dengan anggaran ekstra puding atau vitamin yang masing-masing atlet, pelatih dan aspel menerima Rp 1 juta per bulan. (rhm)