Istri Nyinyiri Kasus Penusukan Wiranto, Serda J Ditahan

Kejadian saat SA menusuk Wiranto di Alun-alun Menes, Pandeglang, Banten. (Sumber: Medsos)

Jakarta, Dekannews-- Seorang bintara di Detasemen Kavaleri Berkuda Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD, Sersan Dua (Serda) J, dihukum 14 hari penahanan fisik akibat komentar istrinya, L, di media sosial yang menyindir insiden penusukan yang dialami Menkopolhukam Wiranto di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019). 

Kepala Penerangan Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD, Letnan Kolonel Kavaleri Christian Rambu, mengatakan, hukuman penahanan fisik itu sudah berjalan sejak Sabtu (12/10), di dalam kompleks Markas Komando Detasemen Kavaleri Berkuda Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD, di Kabupaten Bandung, Jawa Barat. 

"Ini masuk hukuman pidana ringan dalam hukum militer. Tidak ada pemberhentian (kepada Serda J)," kata Rambu, seperti dilaporkan Antara, Minggu (13/10/2019).

Menurut Rambu, J dinilai tidak memerhatikan etika penggunaan media sosial di lingkungan TNI AD walau itu dilakukan istrinya, yang merupakan anggota "korps" Keluarga Besar TNI. Maka, J dianggap aturan dinas TNI AD perlu bertanggung jawab atas aktivitas istrinya tersebut.

"Karena keluarga, suami harus tanggung jawab atas apa yang diperbuat istrinya," kata dia.

Sementara itu untuk sang istri, L, kata dia, harus berurusan dengan polisi karena dia seorang sipil. Hukum militer dan aturan-aturan militer tidak berlaku atas L.

"Berkas istri (Serda J) sudah dilimpahkan ke Polres Cimahi. Sementara waktu istrinya tinggal dan menunggu di asrama Detasemen Kavaleri Berkuda Komando Pendidikan dan Latihan TNI AD," kata Rambu.

Ia mengimbau kepada prajurit TNI beserta keluarganya untuk bijak dalam menggunakan media sosial.

Sebelumnya, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Andika Perkasa pada Jumat (11/10/2019) mencopot jabatan dua tentara angkatan darat lantaran istri mereka diduga melanggar Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) terkait penusukan Wiranto.

Dua istri tentara berinisial IPDN dan LZ, diduga melanggar UU ITE dan menyerahkan keduanya ke peradilan umum. Keduanya merupakan istri dari Kolonel HS dan Sersan Dua J.

HS yang baru menjabat sekitar tiga bulan sebagai komandan Distrik Militer 1417 Kendari, Sulawesi Tenggara, menggantikan Letkol Fajar Lutvi Haris Wijaya, diberhentikan karena dinilai melanggar UU Nomor 25 Tahun 2014 tentang Hukum Disiplin Militer.

Selain dijatuhi hukuman disiplin pemberhentian dari jabatan Kodim 1417 Kendari, HS juga diganjar sanksi militer berupa penahanan ringan selama 14 hari.

Istri Kolonel HS berinisial IPDN yang melakukan postingan melalui media sosial,  berkonsekuensi menjalani proses peradilan umum atas dugaan melanggar UU Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Tak hanya itu, TNI-AU juga mencopot jabatan salah satu anggota dari Satuan Polisi Militer TNI AU (Satpomau) Lapangan Udara Muljono, Surabaya, yakni pembantu letnan satu (Peltu) berinisial YNS.

Hal itu lantaran sang istri diduga telah menulis sindiran di media sosial terkait peristiwa penusukan yang dialami Wiranto di Pandeglang, Bante. (sumber: CNN Indonesia