Insiden Off Oceanic Music Jakarta, Toba: Tindakan Bupati Hentikan Tarian Samba, Tepat

Pertunjukan tari Samba di Off Oceanic Folk Music Jakarta di Pulau Tidung, Kabupaten Kepulauan Seribu, Sabtu (21/9/2019). (Foto: RRI)

Jakarta, Dekannews- Koordinator Forum Solidaritas Untuk Rakyat (FostuR) Kepulauan Seribu, Tobaristani, meminta SKPD-SKPD (satuan kerja perangkat daerah) di lingkungan Pemprov DKI Jakarta untuk saling meningkatkan kordinasi untuk mencegah terulangnya insiden pada penyelenggaraan Off Oceanic Folk Music Jakarta di Pulau Tidung, Kabupaten Kepulauan Seribu, Sabtu (21/9/2019).

Seperti diketahui, dalam event yang diselenggarakan oleh Sudin Patiwisata dan Kebudayaan (Parbud) Kepulauan Seribu tersebut ditampilkan tarian Samba yang membuat penonton heboh, karena selain para penarinya mengenakan kostum setengah telanjang (bikini), juga menampilkan gerakan-gerakan yang dinilai erotis. 

"Saya mendukung kemarahan Bupati Kepulauan Seribu dengan langsung menghentikan tarian seronok  itu, karena memang tidak sesuai dengan norma dan budaya warga pulau yang agamis. Langkah itu tepat," katanya melalui pesan WhatsApp, Selasa (24/9/2019). 

Ia pun menyesalkan sikap Sudin Parbud yang tidak memberitahukan akan adanya tarian itu kepada Bupati, sehingga Bupati menjadi pihak yang ketempuan karena dipersalahkan atas adanya tarian seronok itu di Off Oceanic Music Jakarta. 

"Saya berharap ke depan semua organisasi plat merah dapat berkoordinasi dengan baik agar hal-hal seperti ini tak terulang di masa depan. Protes warga yang ditujukan kepada Bupati terkait insiden itu menurut saya tidak tepat, karena selain Bupati tidak tahu menahu, juga karena Bupati Kepulauan Seribu Husein Murad selama ini dikenal sebagai pejabat yang teliti dan responsif," katanya. 

Meski demikian, Toba meminta agar ke depan Sudin Parbud dapat meningkat kordinasi agar hal-hal yang tak diinginkan, dapat dihindari, karena Sudin Parbud dan SKPD lain di Kabupaten Kepulauan Seribu punya tanggung jawab untuk menjaga ketenangan dan kenyamanan warganya, serta mencegah masuknya budaya yang dapat merusak tatanan masyarakat di Kepulauan Seribu. 

Sebelumnya, media mengabarkan kalau masyarakat Kepulauan Seribu mengecam penampilan tarian Samba dalam acara Off Oceanic Folk Music Jakarta di Pulau Tidung itu. 

"Ini bikin masyarakat gempar dan geger. Masyarakat resah karena tidak sesuai dengan etika dan norma agama yang berlaku di sini. Jangan sampai acara ini jadi mengundang bala (bencana)," kata warga bernama Soleh, Minggu (22/9/2019).

Soleh heran karena Disparbud dapat menyelenggarakan acara seronok seperti itu, karena sebelumnya, saat berkunjung ke Kepulauan Seribu, Gubernur Anies Baswedan selalu bicara tentang konsep Halal Tourism. 

"Eh, yang Halal Tourism saja belum jadi-jadi,  masyarakat malah dikasih yang begini," imbuhnya.

Soleh juga membeberkan kalau Bupati Kepulauan Seribu agaknya tak tahu kalau Sudin Parbud menampilkan tarian Samba, sehingga langsung distop olehnya. 

"Itu tandanya nggak ada koordinasi antara jajaran pemerintahan," tegasnya. 

Menyikapi kehebohan ini, Kepala Sudin Parbud Kepulauan Seribu, Cucu A Kurnia, seperti dilansir sebuah media online, meminta maaf jika ada pertunjukan di Off Oceania Music Jakarta yang tidak sesuai norma masyarakat.

Meski demikian, kata Cucu, animo pengunjung ke Pulau Tidung saat perhelatan OFF cukup tinggi. Jumlah wisatawan yang dicatatnya mencapai 1.500 orang selama dua hari perhelatan itu.

"Ya, kami akan membuat permintaan maaf nanti secara tertulis bahwa kami mungkin melakukan kelalaian. Tapi Alhamdulillah acara berlangsung lancar dan yang hadir di tempat acara bertahan sampai tengah malam. Dan tidak ada niat kami selain untuk mempromosikan Kepulauan Seribu agar lebih dikenal khususnya bagi wisatawan manca negara," kata Cucu saat dihubungi, Minggu (22/9/2019). (rhm)