Ikut Unjuk Rasa, Belasan Mahasiswa Lapor Terancam Didrop Out dari Kampus

Demo mahasiswa. (Foto: Kompas)

Jakarta, Dekannews- Aliansi Masyarakat untuk Keadilan Demokrasi (AMuKK) menerima 39 pengaduan dari mahasiswa dan pelajar, menyusul keterlibatan aksi unjuk rasa pada 23-30 September 2019 untuk menyuarakan sejumlah tuntutan, di antaranya menolak revisi UU KPK. 

"Dari 39 pengaduan itu ada empat kluster: satu yang di-DO, kemudian kedua yang diancam di-DO ataupun sudah diberi peringatan ataupun diberi sanksi, ketiga yang ditangkap dan diberi ancaman kekerasan seksual--ada yang di takut-takutinya diancam mau disodomi. Lalu keempat ancaman lisan saja atau larangan-larangan," jelas Anggota Tim Advokasi AMuKK, Alghiffari Aqsa, seperti dilansir CNN Indonesia, Jumat (4/10/2019). 

Alghiffari yang ditemui usai Aksi Kamisan ke-604 di seberang Istana Negara, Jakarta, Kamis (3/10/2019) malam,  merinci, tiga laporan pengaduan menyatakan pelapor telah di-drop out (DO) dari kampusnya,  sementara 15 pelapor menerima peringatan berupa skorsing dan ancaman DO.

"Kemudian tiga orang yang ditangkap, diancam secara seksual, didatangi oleh polisi. Dan ada 18 yang ancaman lisan ataupun tertulis saat ikut aksi atau sebelum aksi," sambung dia lagi.

Namun begitu Alghiff menambahkan masih perlu memverifikasi berbagai laporan tersebut karena khawatir ada pengaduan yang palsu atau tidak akurat. 

"Kami tidak mau gegabah. Setelah verifikasi rampung,  baru kami ambil langkah lagi," tutur dia.

Alghiffari memastikan telah menyiapkan sejumlah langkah pendampingan seperti akan mengadvokasi proses hukum hingga kemungkinan melayangkan gugatan. 

"Kami akan dampingi ketika drop out betul terjadi, dan KPAI juga akan memanggil kepala Dinas Pendidikan dan kepala sekolah. Bahkan juga mungkin dilakukan gugatan tata usaha negara terkait drop out-nya, bisa juga gugatan perdata untuk kemungkinan kerugian yang dialami," pungkas dia. (man)