Hasil Pileg 2019 Untungkan Anies Baswedan

Anies Baswedan. (Foto: Tagar)

Jakarta, Dekannews- Ketua Koalisi Rakyat untuk Jakarta Baru (Katar), Sugiyanto, menilai, hasil Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 memberikan berkah bagi Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, karena Pemilu ini menghasilkan komposisi fraksi-fraksi di DPRD DKI Jakarta yang menguntungkan dirinya.

Sebab, partai-partai pengusung dan pendukung Anies di Pilgub Jakarta 2017, yakni Gerindra, PKS dan PAN, mendapatkan tambahan kursi di DPRD DKI Jakarta melalui Pileg 2019. Sementara partai-partai pengusung Ahok yang juga merupakan partai-partai pendukung pemerintahan Jokowi-JK dan kini menjadi oposisi bagi Anies, yakni PDIP, Hanura, Nasdem, PPP, PKB dan Golkar, mayoritas mengalami penurunan perolehan jumlah kursi di DPRD DKI.

Meski oposisi bagi Anies bertambah dengan masuknya PSI ke Parlemen, namun Demokrat yang pada Pilpres 2019 bergabung dengan Gerindra, PKS, PAN dan Berkarya untuk mengusung Prabowo-Sandi, tidak mengalami penurunan perolehan kursi di DPRD. Partai SBY ini tetap memperoleh 10 kursi seperti pada Pileg 2014.

"Dari data hasil rekapitulasi KPUD di tingkat kabupaten/kota yang telah diekspos media, saya hitung perolehan kursi PAN, PKS dan Gerindra naik dari 28 pada Pileg 2014, menjadi 44 pada Pileg 2109. Ditambah Demokrat 10 kursi menjadi 54," kata Sugiyanto di Jakarta, Selasa (14/5/2019).

Di sisi lain, lanjutnya, perolehan kursi oposisi  turun dari 68 pada Pileg 2014, menjadi 45 pada Pileg 2019. Ditambah PSI yang diperkirakan mendapat tujuh kursi, menjadi 52.

"Jika komposisi ini tidak banyak berubah saat KPUD DKI Jakarta nanti mengumumkan hasil rekapitulasinya, maka ini akan menguntungkan Anies karena jumlah kursi oposisi lebih sedikit," katanya.

Aktivis yang akrab disapa SGY ini menjelaskan, selama ini, dengan jumlah kursi oposisi yang lebih banyak, Anies mengalami banyak kendala dalam melaksanakan program-programnya, karena program-program itu banyak yang dijegal. Contohnya program pelepasan saham Pemprov DKI Jakarta di PT Delta Jakarta, perusahaan yang memproduksi minuman beralkohol.

Karena ditolak fraksi-fraksi oposisi, sampai sekarang program itu mangkrak.

Contoh lain adalah kebijakan Anies untuk mengoperasikan kembali becak di kawasan tertentu di Ibukota. Kebijakan ini juga mangkrak karena oposisi menolak merevisi pasal soal larangan pengoperasian becak yang tercantum dalam Perda Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum.

"Sekarang, dengan komposisi 52 kursi untuk oposisi dan 54 kursi untuk pendukung, Anies aman," tegas SGY.

Seperti diberitakan sebelumnya, dari hasil rekapitulasi KPUD di tingkat kabupaten/kota, Senin (13/5/2019), dengan posisi dimana KPUD Jaktim belum tuntas melakukan perhitungan, dari 10 Dapil di DKI Jakarta Gerindra mendapat 19 kursi, PKS 16 kursi, Demokrat 10 kursi, dan PAN 9 kursi. Perolehan ini bagi Gerindra, PKS dan PAN naik, karena pada Pileg 2014 ketiganya masing-masing mendapat 15, 11 dan 2 kursi. Sementara Demokrat stabil di 10 kursi.

Di sisi lain, dari enam partai oposisi, lima di antaranya mengalami penurunan perolehan jumlah kursi di DPRD, karena PDIP mendapat 25 kursi,  Golkar 6 kursi, PKB 5 kursi, dan PPP serta Hanura masing-masing mendapat 1 kursi.

Pada Pemilu 2014, PDIP mendapat 28 kursi, PPP 10 kursi, Hanura 10 kursi, Golkar 9 kursi dan PKB 6 kursi.

Perolehan kursi Nasdem naik dari 5 kursi pada Pileg 2014, menjadi 7 kursi pada Pileg 2019.

Partai pendatang baru yang telah mendeklarasikan diri sebagai sekutu PDIP cs, yakni PSI, mendapat 7 kursi.

PSI satu-satunya partai pendatang baru yang mendapat kursi di DPRD, karena partai baru lainnya, seperti Perindo, Garuda dan Berkarya, tumbang.

SGY menilai, perolehan sementara hasil Pileg ini yang menempatkan PDIP, Gerindra, PKS, Demokrat dan PAN sebagai partai dengan kursi terbanyak di DPRD DKI, juga menguntungkan Anies, karena meski ketua DPRD dari oposisi (PDIP), tapi empat wakilnya semua dari partai pendukung.

"Mudah-mudahan sampai KPUD DKI Jakarta mengumumkan hasil rekapitulasi, komposisi tak berubah," tegas SGY. (man)