Gibran Maju Pilwalkot Solo, Publik Ingatkan Soal Dinasti Poltik

Presiden Jokowi bersama istri, anak, mantu dan cucunya. (Foto: Int)

Jakarta, Dekannews- Tindakan DPP PDIP memberikan rekomendasi kepada putra sulung Presiden Jokowi, Gibran Rakabuming Raka, untuk maju di Pemilihan Walikota (Pilwalkot) Solo pada Desember 2020, menuai kritik dan cemooh publik. 

Pasalnya, Gibran dan partai-partai serta buzzer pendukung Presiden Jokowi pernah mengkritik dan mencemooh Presiden SBY yang dinilai melakukan politik dinasti dengan mencalonkan putra sulungnya, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017.

Kini, bahkan bukan hanya Gibran yang maju di Pilwalkot Solo 2020, tapi menantu Jokowi, Bobby Nasution, juga akan maju di Pilwalkot Medan, Sumatera‎ Utara; sementara ipar Jokowi, Wahyu Purwanto, berencana maju di Pemilihan Bupati (Pilbub) Gunung Kidung; dan besan Jokowi, Doli Sinomba Siregar, berniat maju di Pilbup Bupati Tapanuli Selatan.

Gibran dan pendukung Jokowi dinilai munafik dan tidak konsisten dengan pernyataannya. 

"Keengganan terhadap dunia politik ini disampaikan oleh putra sulung Jokowi, Gibran. Ia menyampaikan tidak mungkin ayahnya membentuk dinasti politik karena Jokowi tidak memiliki partai. Ini duluuu (Maret 2018)," kata @LisaAmartatara3 seperti dikutip, Sabtu (18/7/2020),  seraya menyematkan link berita berjudul "Gibran: Kasihan Rakyat Kalau Ada Dinasti Politik". 

"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya," sindir @DukeCondet seraya menyematkan tangkapan layar dari berita bejudul 'Jokowi: Saya Bodoh, Biar Yang Pintar-pintar Saja', yang dipublikasikan media pada 7 Oktober 2011, atau setahun sebelum Jokowi mengikuti Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2012, dan tangkapan layar dari cuitan Gibran melalui akun Twitter-nya, @Chili_pari yang diunggah pada Maret 2018.

Begini bunyi cuitan Gibran: "Iya saya tahu diri saya ini bodoh dan gak punya prestasi apa2. Gak pernah sekolah politik. Orang tua gak punya partai sendiri. Modal buat maju ke dunia politik juga gak ada. Tampang pas2an dan gak punya kharisma. Kalo terjun politik malah malu2in". 

"Kicep!  @psi.id: Saatnya Bergerak, Tolak Politik Dinasti yang Membunuh Demokrasi," kata @K1ngPur4 seraya menyematkan sebuah link berita dengan judul yang sama yang ditayangkan media pada 23 Juni 2015.

"Nampar muka sendiri twit lama Dumdum. Terus pura-pura2 pingsannya komen lagi begitu Jokowi yang main politik dinasti hahaha," kata @panca66 seraya menyematkan tangkapan layar dari cuitan salah satu buzzer pemerintah, @yusuf_dumdum, yang diposting pada 4 Juni 2017.

Begini cuitan @yusuf_dumdum itu; "Raja-raja kecil tampaknya ingin dibangun melalui politik dinasti ala SBY dan AHY. Waspadalah #GuritaCikeasFPI semakin mewabah". 

Seperti diketahui, saat akan mengikuti Pilgub DKI Jakarta 2012, Jokowi yang saat itu masih menjabat sebagai walikota Solo selalu mengatakan dirinya tak layak dan tak pantas untuk maju di Pilkada yang dihelat di Ibukota negara itu. Ketika akan mengikuti Pilpres 2014, Jokowi yang kala itu sudah mememangkan Pilgub Jakarta 2012 dan sedang menjabat sebagai gubernur Jakarta periode 2012-2017, berkali-kali mengatakan tidak mikir untuk nyapres di Pilpres 2014.

Saat mantan Presiden SBY masih menjabat sebagai ketua umum Partai Demokrat, dia memajukan AHY di Pilgub Jakarta 2017 dan dipasangkan dengan pensiunan PNS Sylviana Murni, untuk bersaing dengan pasangan Ahok-Djarot yang diusung PDIP dan partai-partai yang berkoalisi dengannya seperti NasDem, Hanura, PSI, dan PKPI; dan bersaing dengan pasangan Anies-Sandi yang diusung koalisi PKS-Gerindra. 

Kala itu para buzzer dan kader partai-partai pendukung Jokowi-Ahok, menyerang SBY dan Demokrat karena dianggap memainkan politik dinasti. 

Kini, para penyerang itu menelan perkataannya sendiri karena ternyata kelompok mereka lah yang memainkan politik dinasti. 

Gibran mulai bicara tentang politik dinasti pada 2018, setelah sejumlah media menyebut-nyebut kalau dirinya calon potensial untuk maju di Pilwalkot Solo 2020, dan komentar Gibran tentang hal ini seperti yang dilansir media dan dicuitkan di akun Twitter-nya itu. 

Yang lebih memprihatinkan, Gibran maju dengan 'menyingkirkan' Wakil Walikota Solo Ahmad Purnomo yang lebih dulu dicalonkan DPC PDIP Solo sebagai bakal calon walikota (Cawalkot) di Pilwalkot Solo 2020. Purnomo tersingkir karena kebijakan DPC PDIP Solo digugurkan DPP PDIP yang lebih memilih Gibran untuk maju di Pilwalkot Solo. 

Lebih parah lagi, rekomendasi DPP PDIP untuk Gibran disampaikan sendiri oleh Presiden Jokowi kepada Purnomo di Istana Negara, Jakarta, Kamis (16/7/2020).

Saat kabar itu disampaikan, Jokowi menawarkan Purnomo jabatan sebagai timbal balik atas rekomendasi yang diberikan DPP PDIP untuk Gibran, namun Purnomo menolak. (rhm)