Gara-gara Statemen Petinggi Demokrat, @IreneViena "Kobarkan Perang" Terhadap SBY

Cuitan @IreneViena di Twitter. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Pemilik akun Twitter @IreneViena mengamuk setelah sebuah media merilis sebuah berita berjudul; "Habib Rizieq Minta Situng KPU Dihentikan, Demokrat: Siapa Dia?" Pendukung pasangan nomor urut 02 Prabowo-Sandi ini bahkan mengobarkan perang terhadap partai yang dipimpin Presiden RI ke-6 Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu.

"Nanti malam saya bahas siapa HRS untuk memuaskan Amir. Saya juga akan ungkap komunikasi HRS-SBY menjelang Pilkada DKI 2017. Amir mana tahu komunikasi rahasia antara SBY-HRS ini," katanya pada Minggu (5/5/2019) sore.

Namun pada Minggu (5/5/2019) malam, akun itu mengklarifikasi cuitannya, dan ditambah serangkaian cuitan yang menyerang dan mengancam SBY, seakan dia mengajak perang mantan Presiden RI itu.

"Mengenai question tag Amir Syamsuddin Kawantim PD: "Habib Rizieq? Siapa dia?" saya tidak etis membuka pembicaraan rahasia SBY-HRS tanpa izin HRS terlebih dulu, namun jika Amir mau tahu siapa HRD, jawab: "HRS adalah orang yang dapat menghancurkan rencana terbesar SBY", katanya.

Inilah cuitan-cuitan yang mengancam SBY itu:

"Apa rencana terbesar @SBYudhoyono? AHY POTRI 2024. HRS punya banyak bukti yg bisa menjadi dasar bagi HRS meyakinkan seluruh ulama untuk menerbitkan fatwa dan mengajak seluruh umat Islam utk TIDAK AKAN PERNAH memilih/mendukung AHY (dan ibas) sebagai pemimpin Indonesia ..."

"Dan jika Bapak @SBYudhoyono terus menzalimi rakyat, mengebiri demokrasi dan menghambat kemenangan Bapak @prabowo pada pilpres 2019, Kami - dan HRS akan mempertimbangkan serius fatwa-itjima ulama yg memastikan impian Pak SBY-Bu Ani tak kan pernah terwujud ..."

"Saya usul 1 rekomendasi utk Itjima Ulama, Dijamin Prabowo langsung jadi presiden; "Mempertimbangkan SBY terlibat langsung/ tidak langsung dalam pencurangan pemilu, ulama mengajak rakyat RI bersumpah tidak akan memilih AHY, Ibas & siapapun kerabat SBY sbg pemimpin Indonesia sampai akhir dunia".

Untuk diketahui, dalam pemberitaan sebuah media yang berjudul "Habib Rizieq Minta Situng KPU Dihentikan, Demokrat: Siapa Dia?", Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat Amir Syamsuddin menyatakan semua pihak tidak memiliki hak untuk menghentikan penghitungan suara nyata atau real count yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU). Amir menyebut yang bisa menghentikan itu hanyalah undang-undang.

Pernyataan itu disampaikan Amir untuk menanggapi permintaan Habib Rizieq Shihab (HRS) kepada Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi untuk meminta KPU menghentikan real count yang saat ini tengah berlangsung. Amir menyebut, Rizieq yang juga pendukung Prabowo-Sandi, tidak punya kapasitas untuk melakukan hal itu.

"Siapa dia itu? Tidak ada siapapun yang berhak menjadi corong undang-undang, kecuali undang-undang itu sendiri," kata Amir saat dihubungi wartawan, Jumat (3/5/2019).

Amir menegaskan, hingga saat ini Partai Demokrat masih menaruh kepercayaan terhadap pelaksanaan real count yang masuk ke Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng) KPU, karena jika dalam penghitungan real count ada kesalahan yang dilakukan KPU, bisa langsung memberikan koreksi dan menyampaikannya kepada penyelenggara pemilu.

"Harus wajib kita ikuti, dan kalau ada kekeliruan selalu terbuka peluang untuk melakukan koreksi disana. Jangan kita menjadikan diri kita sendiri menjadi undang-undang, nggak bener dong," tandasnya.

Kemarahan Irene terhadap pernyataan petinggi Partai Demoktrat itu membuat dia untuk kesekian kalinya membongkar dugaan kalau SBY adalah otak di balik kemenangan Jokowi-JK pada Pilpres 2014, dengan mencurangi Prabowo-Hatta.

"Jika ada rakyat yang masih percaya @SBYudhoyono - @PDemokrat dukung Prabowo, mohon segera sadarkan diri. Sejak 2015 sudah saya sampaikan mustahil SBY-PD benar2 dukung Prabowo. SBY konsisten sikap & rencana. Sikap: anti Prabowo sejak 1998. Rencana: AHY RI 1 - 2024. Di luar itu: Tipu daya," katanya.

Cuitan ini dilanjutkan dengan rangkaian cuitan sebagai berikut:

"Pilpres 2014 benar dimenangkan Prabowo bukan Jokowi. Prabowo 53, xx %, Jokowi 46,xx %. Manipulasi QC. (Msh ingat ketika tayangan Live QC di TV mendadak "hang" saat Suara Prabowo melampau Jokowi. Hang selama 2 jam. Setelah dimanipulasi, ditampilkan lagi. Tp tdk LIVE)".

"Data hasil pilpres TPS dan C1 se Indonesia yang asli ada pada Komisioner KPU 2012-2017, Pimp TNI - Polri 2014 (termasuk Kasad Jend Budiman yang dipecat SBY sehari menjelang penetapan KPU, karena beliau protes terhadap manipulasi pilpres 2014 yang rugikan Prabowo)".

"Tanpa pencurangan @SBYudhoyono mustahil Jokowi jadi presiden. Ini fakta! Apa motif SBY khianati Prabowo dan besannya sendiri demi Jokowi, sdh banyak kami jelaskan sejak 2015 lalu".

"Motif SBY khianati P H (Prabowo-Hatta, red), SBY bantu Jokowi menang dengan curangi pilpres 2014. Silakan cari di chirpstory 2015, 16, 17, 18. Ringkasnya; 1. Penuhi komitmen SBY pada Obama; 2. Selamatkan diri & jabatan dari pemakzulan; 3. Tetap berkuasa di balik Jokowi; 4. Demi AHY RI 1- 2024".

Untuk tuduhannya bahwa SBY kembali diam-diam mendukung Jokowi di Pilpres 2019, berikut kicauan Irene.

"Fakta SBY bantu Jokowi di Pilpres 2019; 1. SBY tunggangi KPK (ketua KPK Agus R adalah antek SBY). KPK fokus pada penyidikan BLBI utk ancam Megawati bakal tersangka BLBI jika PDIP tdk usung Jokowi sbg capres 2019. Anda cermati kasus BLBI; 2014 dan 2018 digunakan utk ancam mega".

"Jika anda cermat, Anda temui siklus penyidikan KPK pada korupsi BLBI selalu intensif setahun atau beberapa bulan sebelum pendaftaran capres, dan berhenti seketika setelah pendaftaran capres. Kasus BLBI menyandera Mega sejak 2007 sampai dengan sekarang".

"Mastermind pembentukan KPK bukan Presiden Mega, tapi Menkopolhukam SBY (2001-2004). KPK jadi kuda troya yg bisa menembus apa saja untuk kepentingan politik SBy - kelompok jenderal merah - CSIS. Ga perlu punya partai, cukup dengan kuasai KPK, DPR, MK, MA, partai, kepala daerah tersandera".

"Masih ingatkah ada puluhan ormas, ribuan orang silih berganti melaporkan berbagai korupsi Jokowi (dan ahok) ke KPK sepanjang 2011-2014. Adakah yg dilidik dan disidik KPK? Hotel Maliyawan,
Videotron Manahan, BPMKS, Hibah KONI Solo, dll, dll, BUS Tranjakarta, Taman BMW .. Hasil? Beku".

"Siapa pelindung korupsi Jokowi (dan ahok)? Di KPK, Kejaksaan, Polri ... Namanya Yang Mulia Bapak Presiden RI Jendral DR. H. SBY".

"Presiden SBY juga yg memerintahkan Jaksa Agung TUNDA (selamanya?) Penyidikan Korupsi Bus TJ yg melibatkan Jokowi sebagai calon tersangka pada April 2014. Alasannya: Menjelang Pilpres. Sampai sekarang kasusnya beku. Laporan BPK jelas kerugian negara Rp105 miliar, pelaku al: jokowi".

"Jadi, kalau anda pikir SBY itu oposan dengan Jokowi, artinya pengelabuan (deception) SBY memang luar biasa. Emangnya Mobnas Esemka itu siapa punya? Pemerintah SBY (BPPT/Diknas/Deperind). Dikasih ke Jokowi untuk ditunggangi pada Jan 2012 agar popularitas Jokowi naik bisa kejar Foke".

"Tapi, jangankan anda rakyat biasa, PRABOWO aja tertipu SBY dan Jokowi. Banyak tokoh nasional korban deception SBY pada 2011-2014. Celakanya, masih banyak yang tetap jadi korban tipu daya SBY sampai sekarang".

"Ingat ga pasca Pilkada DKi 2012 Megawati teriak2 "Banyak penumpang gelap Jokowi!" Teriakan itu keliru, Mega yang kena tipu SBY. Mega baru sadar pasca pilpres 2014. Setelah menang, Mega ga bisa temui Jokowi, harus izin SBY .. hihi. Mega nangis cina!!"

"Pasca Jokowi dimenangkan pilpres 2014 oleh SBY (22 Juli), Megawati sumringah keliling Indonesia, membayangkan dirinya jadi penguasa Jokowi. Apa kata SBY? She thought had won but got nothing .."

"Jika anda masih ingat, ada twit misteri Triomacan2000 sehari setelah pilpres 2014; "Pemenang Pilpres 2014 sesungguhnya adalah SBY ..." Publik ga mudeng apa maksudnya. TM ga jelaskan, dia keburu dijebloskan ke penjara seminggu Jokowi berkuasa".

"Jokowi jadi presiden tanpa disadari rakyat siapa penguasa sebenarnya di balik Jokowi. Orang asing malah lebih cepat paham. Mereka melihat Tim Ekonomi Jokowi = Tim Ekonomi SBY. Mereka langsung sadar rezim Jokowi = rezim SBY jilid III".

"Menko Ekonomi =Darmin (Gub Bi, DirjenPajak) SBY, Menkeu = SMI,
Gub BI = AM/PW, Men Agraria/BPN= SD, Ketua OJK= WS, Menlu= RM,
Menkes = NM, Sesneg = P, Menag= LHS (ex menag SBY), KSP= Moel (Panglima SBY), Mentan= AS (antoni salim/SBy), Ka BNPT= SA, Ka BNPB = DM, Panglima TNI (sesmil SBY)".

"Bahkan, yang lebih seru tapi publik tidak tahu; Paban (perwira bantu utama, red) Sespri Presiden Jokowi dan Paban Sespri SBY adalah sama. 1 dibagi 2. Artihya komunikasi SBY-Jokowi setiap saat 24 jam sehari, 7 hari seminggu. Melalui Mayor Kav MMIS".

"Nah, masih ada yg betah dungu? Menyangka SBY dan Jokowi adalah oposan? Jokowi SBY itu kembar siam, dua orang dengan 1 entitas eh kebaliknya; 1 entitas dengan dua tubuh? Hihihi .. Think! Berpikirlah ...jangan malas berpikir".

Dalam salah satu cuitannya, Irene menebar ancaman untuk SBY, Jokowi dan KPU:

"Jika dalam 2 - 3 minggu ke depan tidak ada kepastian hukum @Prabowo sebagai pemenang pilpres 2019, insya Allah akan kami tindaklanjuti dgn menciptakan kondisi mustahil bagi AHY jadi presiden 2024. Bukan demi saya pribadi, Bukan demi kami, tapi demi negara tercinta".

Hingga pagi ini belum ada tanggapan dari para kader Demokrat maupun dari SBY sendiri yang terekam di Twitter @IreneViena, meski akun ini termasuk salah satu akun influencer di Indonesia, karena memiliki pengikut mencapai 90.300 orang. (man)