Ditinjau Dari Segi Kesadaran Berkendara, Warga Jakarta Belum Siap Bersepeda di Jalan Tol

Ketua Komisi Kelaikan dan Keselamatan DTKJ Prayudi. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Ketua Komisi Kelaikan dan Keselamatan Dewan Transportasi Kota Jakarta (DTKJ) Prayudi menilai, warga Jakarta belum siap untuk mengendarai sepeda di jalan tol, karena tingkat kedisiplinannya dalam berkendara masih rendah. 

"Di luar negeri, ada negara yang menyediakan jalur sepeda di jalan tol. Contohnya Australia, tepatnya di New South Wales, dimana di situ jalur sepeda bercampur dengan kendaraan roda empat," katanya di Jakarta, Rabu (9/9/2020). 

Namun, jelas insinyur profesional berkualifikasi ASEAN ini, tingkat kesadaraan warga di New South Wales dalam berkendaraan sudah tinggi, karena untuk mendapatkan SIM di sana sangat susah, sehingga jika di lajur sepeda sebelah kiri hanya boleh berkecepatan 60 kilometer/jam, mereka akan mengayuh dengan kecepatan itu. Begitupula jika di lajur sepeda yang tengah hanya boleh 80 kilometer/jam dan di lajur yang kanan hanya boleh 100 kilometer/jam, mereka tidak akan melanggarnya. 

"Kalau di sini, meski ada ketentuan seperti itu, mereka seperti sedang balapan," tegasnya. 

Dari hasil temuan DTKJ di lapangan juga menunjukkan kalau rendahnya tingkat kesadaran warga Jakarta dalam berkendara terlihat dari adanya pengemudi sepeda yang melaju di luar jalur sepeda yang telah disediakan. 

"Bahkan kami juga menemukan adanya jalur sepeda yang diokupansi parkir mobil, parkir sepeda motor, dan bahkan diokupansi pedagang kaki lima," jelasnya. 

Dengan adanya temuan-temuan ini, Prayudi menilai bahwa belum saatnya warga Jakarta diberi jalur sepeda yang memasuki atau yang berada di jalan tol, karena risikonya sangat besar. Apalagi kalau jalur sepeda di jalan tol tersebut hanya dibatasi safety cone (kerucut lalu lintas) yang dapat hancur jika tertabrak kendaraan roda empat. 

Tak hanya itu, berdasarkan masukan dari sejumlah komunitas, diketahui kalau banyak faktor yang dapat memicu pengendara sepeda mengalami kecelakaan, sehingga sangat berisiko jika berada di jalan tol. 

Faktor-faktor tersebut adalah dehidrasi, kelelahan yang dapat berefek pada serangan jantung, kondisi jalan yang tidak rata/berlubang, bersenggolan (physical related), mesin sepeda rusak (mechanical failure), dan yang terpenting yang harus diperhatikan Pemprov DKI adalah faktor hempasan angin (natural related crosswind) karena jalan tol yang diusulkan Pemprov DKI kepada PT Cipta Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) untuk digunakan oleh para pesepeda adalah jalan tol layang di sepanjang DI Panjaitan - Ahmad Yani. 

Menurut Prayudi, saat pengemudi sepeda mengayuh menaiki jembatan yang tinggi, pengemudi itu akan menghadapi hempasan angin. 

"Maka, jika kebijakan sepeda masuk jalan tol tetap akan diterapkan, salah satu faktor tepenting yang harus disiapkan adalah fasilitas paramedis," imbuhnya. 

Faktor lain yang juga harus diperhatikan sebelum merealisasikan kebijakan sepeda masuk tol, menurut Prayudi, adalah terlebih dulu mengevaluasi volume kendaraan yang biasa melintas pada jam-jam dimana pesepeda diizinkan memasuki jalan tol layang DI Panjaitan - Ahmad Yani; pengalihan arus lalu lintas pada jam-jam pesepeda boleh masuk jalan tol itu, karena jalan tol tersambung satu sama lain dan juga terhubung dengan jalan protokol; dan mengkaji faktor keselamatan pesepeda jika jalan tol juga digunakan bersama pengemudi kendaraan roda empat (mix) atau efeknya terhadap operasional PT CMP jika jalan tol ditutup. 

Menurut Prayudi, sebenarnya akan lebih baik jika Pemprov DKI memaksimalkan jalur sepeda yang telah ada, karena jika tujuan penggunaan tol layang DI Panjaitan - Ahmad Yani adalah untuk road bike yang lebih berorientasi untuk olahraga, maka jalur untuk sepeda hendaknya diperlebar, dibuatkan track dan dilengkapi traffic yang cukup dan memadai. 

Meski demikian Prayudi juga mengkritik jalur sepeda yang telah disediakan Pemprov DKI, karena kata dia, dari temuan DTKJ di lapangan juga diketahui kalau banyak jalur sepeda yang tidak clean dan clear, karena di jalur itu banyak ditemukan utilitas penutup kabel, air dan gas yang main hole-nya membuat jalur sepeda itu tidak rata. Contohnya jalur sepeda dari Cawang ke arah Grogol. 

"Itu berbahaya," tegasnya. 

Seperti diketahui, Pemprov DKI berencana menyediakan jalur sepeda di jalan tol layang DI Panjaitan - Ahmad Yani agar warganya tak hanya dapat berolahraga dengan bersepeda, tapi juga dapat menikmati keindahan panorama Jakarta saat matahari terbit dari jalan layang itu. 

Jalan tol layang DI Panjaitan - Ahmad Yani  dipilih karena pada pagi hari kendaraan roda empat yang melewati jalan tol layang itu sedikit. 

Jalan tol itu akan dipergunakan setiap akhir pekan pada pukul 06:00 - 09:00 WIB. 

Untuk rencana ini, Pemprov DKI telah menyurati PT CMNP, dan telah mendapat sinyal posotif. (rhm)