Direktur IT BPN Prabowo-Sandi Dapat Ancaman Pembunuhan

Hashim Djojohadikusomo. (Foto: Int)

Jakarta, Dekannews- Nyawa Direktur Informasi dan Teknologi (IT) Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Agus Maksum, dikabarkan dalam kondisi terancam.

Direktur Media dan Informasi BPN Prabowo-Sandi, Hashim Djojohadikusomo, mengungkapkan, saat ini, terjadi rentetan ancaman pembunuhan terhadap penanggungjawab bidang IT di kubu 02 tersebut.

“Beberapa hari yang lalu terpaksa saya tugaskan beberapa sekuriti untuk jaga beliau 24 jam. Karena sejak pekan lalu, nyawa beliau diancam,” ungkap Hashim di Jakarta, Kamis (11/4/2019).

Hashim tak mengungkapkan ancaman pembunuhan terhadap Agus Maksum itu dilakukan oleh siapa, atau dari kelompok mana, namun adik kandung Prabowo Subianto itu mengatakan, istri dan anak-anak Agus Maksum juga diancam akan dibunuh.

“Saya bersaksi bahwa nyawa Beliau diancam oleh pihak-pihak tertentu,” tegasnya.

Hasyim menilai, ancaman terhadap Agus Maksum ada kaitannya dengan persoalan Pemilu 2019, karena selama ini Agus menjadi orang yang paling rutin melaporkan kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dan KPU tentang sejumlah kejanggalan dalam sistem IT penyelenggara pemilu, termasuk juga dalam penyisiran pemilih invalid menuju Pemilu 2019.


“Karena keterangan-keterangan Beliau, membuat banyak pihak yang tidak senang," jelas Hashim.

Lalu siapa sebenarnya Agus Maksum? Ia sebetulnya bukan tokoh yang tenar di internal BPN, namun ia menjadi aktor utama dalam pengungkapan 17,5 juta data invalid dari sekitar 196 juta daftar pemilih tetap (DPT) sementara Pemilu 2019. Data invalid temuannya itu ia sisir sejak Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) menyampaikan daftar pemilih potensial pemilu (DP-4) yang menjadi basis data DPT sementara bagi KPU.

Temuan 17,5 juta pemilih invalid tersebut tiga kali dilaporkan BPN kepada KPU, yakni pada Desember 2018, Februari 2019 dan jMaret 2019. Laporan tentang 17,5 juta data invalid versi BPN itu pula yang membuat KPU sampai hari ini belum menetapkan DPT final Pemilu 2019. Semestinya, KPU merilis DPT final pada 17 Maret lalu.

Data 17,5 juta pemilih invalid yang ditemukan Agus terdiri dari sekitar delapan kategori, namun dari delapan kategori tersebut, umumnya berada dalam tiga masalah utama, yaitu soal 9,8 juta data pemilih invalid yang bertanggal dan bulan lahir  seragam; 01/01.

Kedua, data pemilih invalid tanggal dan bulan lahir yang ; 01/07 sebanyak sekitar 2,5 juta. Dan ketiga, data pemilih invalid bertanggal dan bulan lahir seragam 31/12, sebanyak sekitar lima jutaan.

Selain itu, data invalid juga ada dalam kategori penggunaan NIK yang inkonsisten di beberapa nama calon pemilih, serta sejumlah kasus tentang temuan kartu keluarga manipulatif. (sumber: ROL)