Dinilai Tak Patuhi Perjanjian Kerjasama dengan UP Perparkiran, Ini Tanggapan CMA

Pintu masuk Pelabuhan Ikan Muara Angke yang tidak dilengkapi gate. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Bos CV CMA, Tri Waluyo, memberi penjelasan soal tudingan kalau pihaknya tidak mematuhi perjanjian kerjasama (PKS) dengan UP Perparkiran, sehingga unit kerja di bawah Dinas Perhubungan (Dishub) itu memintanya menghormati PKS tersebut.

Dalam keterangan yang diberikan. Tri memberikan data yang mengindikasikan bahwa ada yang tidak benar dalam keterangan yang diberikan Fadil Hilmi, pegawai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT) atau pekerja kontrak UP Perparkiran yang pada Agustus 2019 lalu dikaryakan di perusahannya, namun keluar karena merasa tak betah.

Pengelola parkir di Pelabuhan Ikan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, itu menyebut, mantan PKWT UP Perparkiran yang dipekerjakan di perusahaannya ada tujuh, bukan enam seperti keterangan Fadil. Mereka adalah Sukiyat, Samsudin, Karsiman, Mahfud, Junali, Fadil dan Ikbal

"Ketujuhnya saya terima, semua peralihan dari UP Parkir ke perusahaan kami," katanya melalui pesan WhatsApp, Kamis (21/11/2019).

Tri mengaku semua pegawai PKWT iti digaji sesuai upah minimum provinsi (UMP) DKI Jakarta.

"Untuk mereka yang bergabung kepada perusahaan kami, kami meminta lamaran mereka. Fadil, Ikbal dan Mahfud tidak memberikan lamaran. Tiga orang tersebut masih (kami terima) bergabung atau kerja di perusahaan kami," imbuhnya.

Meski demikian, Tri memberi gambaran sebagai berikut untuk Fadil, Ikbal dan Junali.

"Satu irang bernama JUNALI masih berusan (dengan)  hukum di Pengadilan Jakarta Utara terkait perjudian. MAHFUD pamt, tidak ikut gabung karena ada kesibukan lain," katanya.

FADIL sendiri, lanjut Tri, bertanya kepada dirinya secara langsung; "Pak saya ga punya ijazah gimana?", dan Tri menjawab; "Gak apa-apa, Bang Fadil yang penting mau kerja, Lagipula kan peralihan dari UP Parkir".

Beberapa hari kemudian, kata Tri lagi, Fadil pamit kepada Ega, staf admin CV CMA, dengan alasan karena sibuk mengurus usaha ternak bebeknya dan lain-lain.

"Saya gak paham dan gak ngerti kok Fadil seperti ini...
Untuk kerja 12 jam, tolong tanyakan kepada Fadil dengan menyebut nama Allah apakah Fadil pernah bekerja selama 12 jam per hari selama peralihan dari UP Parkir ke perusahaan kami," katanya.

Ia juga mengatakan kalau berdasarkan absensi perusahaannya,  Fadil  bekerja 8 hari selama sebulan dengan upah Rp1.500.000..

Seperti diberitakan sebelumnya, Fadil mengatakan kalau pada Agustus 2019 ia dan lima orang rekannya dikaryakan UP Perparkiran di CV MCA, namun tak betah karena selain sistem kerja yang tidak jelas, mereka juga digaji tidak sesuai UMP DKI.

"Kami di situ harus kerja 12 jam per hari, tidak ada shift, dan saat saya keluar setelah 14 hari kerja, saya hanya dibayar Rp1,5 juta. Padahal UMP DKI 2019 sebesar Rp3,9 juta," katanya kepada dekannews.com, Jumat (15/11/2019).

Fadil mengaku, dari enam pegawai kontrak UP Perparkiran yang dikaryakan di CMA, saat ini hanya dua orang yang masih bekerja di sana, karena empat di antaranya, termasuk dia, telah keluar.

Pada 11 Oktober 2019, Fadil menulis surat kepada pimpinan UP Perparkiran dan surat itu ditembuskan kepada Gubernur, DPRD dan kepala Dishub. Dalam surat itu, dia menjelaskan apa yang ia dan rekan-rekannya alami selama dikaryakan di CV CMA, serta mengutarakan keinginannya untuk kembali bekerja di UP Parkir, karena sejak keluar dari CMA pada Agustus 2019, setelah 14 hari kerja, dia masih menganggur.

Pada Rabu (20/11/2019), UP Perparkiran mempertemukan Fadil dan Tri di kantornya, Jalan Perintis Kemerdekaan, Pulogadung, Jakarta Timur, agar mendapatkan informasi yang berimbang. Hasilnya, UP Perparkiran meminta CMA agar menghormati perjanjian kerjasama (PKS) yang ditandatangani dengan pihaknya, dan meminta agar
CMA merekrut kembali para pegawai yang telah keluar, serta mengelola parkir di Pelabuhan Ikan Muara Angke dengan baik.

Sebelumnya, Fadil juga memgatakan kalau selain harus memberi gaji sesuai UMP, dalam PKS dengan UP Perparkiran, CMA juga diwajibkan memasang gate di pintu masuk Pelabuhan Ikan Muara Angke. Dari pantauan Dekannews pada Jumat lalu, gate itu tidak ada. (rhm)