Dinilai Mengandung Ajaran Liberal, FSI dan KH Luthfi Basori Tolak Film The Santri

Poster The Santri. (Foto: Int)

Jakarta, Dekannews- Film besutan sutradara Livi Zeng ini baru tayang pada Hari Santri 22 Oktober, namun meski baru thriller-nya yang tayang di akun YouTube NU Channel sejak 9 September 2019, film berjudul The Santri (2019) ini mendapat reaksi keras dari kalangan umat Islam, khususnya dari penganut Ahlussunah Wal Jamaah. 

Hingga Minggu (15/9/2019) sore ini pihak yang telah menyatakan menolak film itu adalah Front Santri Indonesia (FSI) dan KH Luthi Bashori, pengasuh Pesantren Ribath Al Murtadla Al Islami Singosari, Malang, Jawa Timur.

"Front Santri Indonesia (FSI) Menolak film The Santri (2019) karena tidak mencerminkan AKHKAQ dan TRADISI SANTRI yang sebenarnya," kata Ketua Umum FSI, Al Habib Muhammad Hanif Al Athas sebagaimana tertera pada poster yang tersebar di media sosial, Minggu (15/9/2019). 

Menantu Habib Rizieq Shihab ini menyitir penjelaskan KH Hasani Nawawi Sidogiri tentang HAKIKAT SANTRI. 

"SANTRI: Berdasarkan tindak dan langkahnya adalah orang yang berpegang teguh dengan tali Allah yang kuat (Al Qur'an) dan mengikuti sunnah Rasul SAW serta teguh pendirian dalam setiap keadaan. Ini adalah arti yang bersandar pada sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya". 

Penolakan KH Luthi Bashori diketahui dari poster yang dikirimkan Sekretaris Umum DPP FPI Munarman kepada media. 

Pada poster itu, KH Luthfi meminta kepada para santri dan jamaahnya agar tidak menonoton film The Santri karena dinilai tidak sesuai syariat Islam, dan tidak mengandung tradisi pesantren kalangan Ahlussunah Wal Jamaah.

"Film ini tidak mendidik, cenderung liberal. Ada akting pacaran, campur aduk laki perempuan dan membawa tumpeng ke gereja," katanya. 

The Santri merupakan film yang diproduksi Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan menggandeng sutradara Livi Zeng, sutradara Indonesia yang lama bermukim di Los Angeles. 

Film ini berkisah tentang kehidupan para santri yang sedang menuntut ilmu di sebuah pondok pesantren di Indonesia dan berupaya mewujudkan impiannya untuk sampai ke Amerika Serikat. 

Konon, film yang kisahnya ditulis oleh PBNU ini akan mengajarkan penontonnya tentang kesederhanaan, toleransi dan cinta Tanah Air, namun sayang ada beberapa adegan yang dinilai tidak sesuai dengan tradisi pesantren, bahkan kebablasan. 

Contoh adegan yang kebablasan adalah adegan yang mengajarkan tentang toleransi dimana dalam film ini terdapat adegan dimana dua orang santri yang diperankan Wirda Mansyur dan Veve Zulfikar, membawa tumpeng ke gereja untuk diserahkan kepada pastur yang sedang memimpin jemaatnya beribadah. (rhm)