Dinilai Adu Domba Umat Islam, Ribuan Orang Dislike Film My Flag - Merah Putih Vs Radikalisme

Foto: Dekan

Jakarta, Dekannews- Sebuah film pendek yang dirilis di Kanal YouTube Nahdlatul Ulama (NU) pada Jumat (23/10/2020), menuai reaksi keras masyarakat karena dinilai mengandung konten yang berpotensi mengadu domba sesama umat Islam. 

Film pendek berjudul "My Flag - Merah Putih Vs Radikalisme" itu dirilis untuk merayakan Hari Santri Nasional yang jatuh pada Kamis (22/10/22/10/2020).

"Kawan-kawan tolong dibantu dislike video menjijikan ini. Tak usah kalian tonton, langsung dislike aja video pemecah belah umat Islam ini. Gue yang kafir aja merasa jijik melihat cuplikan video ini warawiri di TL sejak kemarin...," kata aktivis buruh Iyut VB melalui akun Twitter-nya, @kafiradikalis, Minggu (25/10/2020). 

"Jangan lupa direport juga manteman," imbuh dia. 

Permintaan yang sama datang dari pendiri Pepes Official, kelompok emak-emak militan pendukung Prabowo-Sandi di Pilpres 2019, Lisa Amartatara. 

"Yukkk semua kita dislike dan RAS... Kita gak mau Indonesia diprovokasi antar kita sendiri. Semua Muslim bersaudara!  Jangan mau diadu domba dan diprovokasi. Islam itu rahmatan lil alamin," katanya melalui @LisaAmartatara3.

Film itu menampilkan pemeran yang semuanya digambarkan sebagai santriwan dan santriwati. 

Pada awal-awal film ditampilkan sosok empat santriwan yang berkelakuan bandel dan empat santriwati berkelakuan sebaliknya. Para santriwati ini bahkan mengumpulkan barang bekas dan kemudian menjualnya. 

Uang penjualan barang bekas itu ditabung dan kemudian dibelikan bendera Merah Putih. 

Ada sosok ulama NU yang kontroversial dalam film ini, yakni Gus Muwafiq. Dia berperan sebagai kyai di pondok pesantren yang di sepanjang film pendek ini memberikan tausiyah kepada santriwan dan satriwatinya

Inilah yang dikatakan Gus Muwafiq di awal film:

"Keamanan sebuah bangsa dan negara itu yang akan menjamin kebaikan manusia dan keberlangsungan iman kita. Maka, sejauh mana iman kita, adalah sejauhmana kita menjaga bangsa dan negara. Untukmu benderaku, untukmu tanah airku, cintaku dan imanku". 

Film ini dengan sangat jelas ingin mendorong penonton agar mencintai Indonesia dan Merah Putih melebihi apapun, sehingga iman seseorang diukur berdasarkan cinta kepada bangsa, negara dan Sang Saka Merah Putih, bukan kepada Allah SWT. Padahal, iman merupakan kepercayaan dan keyakinan kepada sang Maha Pencipta dengan konsekuensi mematuhi dan menjalankan perintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya.     

Poin krusial pada film pendek ini yang memunculkan tudingan bahwa film ini mengadu domba sesama umat Islam dimulai pada menit ke-2 detik ke-35 kala muncul serangkaian adegan dengan narasi seperti ini:

"Dulu Merah Putih dipertahankan dengan darah dan nyawa, sekarang kita harus pertahankan Merah Putih dengan karya dan cinta. 

Selagi bangsa ini tetap berdiri, negara ini tetap berdiri, maka benderanya tetap merah dan putih. 

Tapi jangan pernah ditipu oleh pengasong-pengasong bendera yang lain. Silakan mengasong bendera, tapi jangan menandingi Merah Putih". 

Mengiringi narasi yang ketiga itu, muncul sekelompok santriwan dan santriwati yang membawa Ar-Rayah  dan Al-Liwa, yakni salah satu dari sekian banyak variasi bendera dan panji dalam Islam dengan ciri bertuliskan kalimat tauhid "Laillahailallhah Muhammadarasulullah" dalam huruf Arab dengan warna dasar putih dan hitam, dan sekelompok santriwan dan santriwati yang membawa  bendera Merah Putih. 

Dua kelompok santriwan dan santriwati itu berkelahi, dan kelompok santriwan dan santriwati yang membawa Ar-Rayah dan Al-Liwa kalah. 

"Sepakat... Sangat berpotensi konflik sesama Muslim di Indonesia, memecah belah dan mengadu domba anak bangsa, khususnya umat Muslim. RAS dan dislike," kata pemilik akun @zul_only. 

Hingga Minggu (25/10/2020) pukul 17:24 WIB, menurut cuitan @AghaEmery, telah ada 4.200 orang yang sudah men-dislike video film pendek itu. 

"Sekarang sudah 4,2 ribu dislike... Setengah jam lalu gue dislike baru 3,2 ribu. Moga2 tumbang. Kesel banget gue," katanya. (rhm)