Darurat Negara

Polisi menembakkan water cannon ke arah mahasiswa yang berdemo di DPR. (Foto: Ist)

MEREKA ITU adalah putra-putri bangsa yang kelak akan melanjutkan tongkat estafet negeri ini. Nurani mereka tumbuh seiring kenyataan yang mereka hadapi. Mereka bukan musuh negeri ini dan mereka bukan teroris.

Oleh: Steven Khmer
Ketua Badan Relawan Nusantara DKI Jakarta Raya

Belum selesai kita meratapi kesedihan atas meninggalnya sembilan saudara kita saat aksi unjuk rasa menolak hasil Pilpres 2019 pada 21-22 Mei lalu, dua hari terakhir ini kita disajikan aksi demonstrasi oleh mahasiswa dan rakyat, bahkan pelajar pun turut andil dalam rentetan aksi demonstrasi tersebut.

Di luar dugaan, massa membludak sampai ke daerah-daerah, menolak pemerintah dan DPR yang berencana mengesahkan beberapa rancangan UU yang dianggap merugikan rakyat.

Kenapa aksi-aksi tersebut cenderung anarkis? 

Selain akumulasi kekecewaan terhadap pemerintah dan DPR, juga faktor utamanya adalah akibat represifnya aparat dalam mengawal aksi demonstrasi, dimana mereka itu adalah putra-putri bangsa yang kelak akan melanjutkan tongkat estafet negeri ini.
Nurani mereka tumbuh seiring kenyataan yang mereka hadapi. Mereka bukan musuh negeri ini dan mereka bukan teroris.

Kekejaman dalam penanganan aksi menimbulkan banyak korban, dan pemerintah tak bergeming sedikit pun, bahkan lebih senang mengkambinghitamkan dengan memunculkan narasi bahwa gerakan tersebut ditunggangi. Ironis sekali..!!

Sungguh di luar ekspektasi, ternyata rakyat (mahasiswa, pelajar dan warga) melakukan perlawanan masif. Tentu hal ini perlu dianalisa secara mendalam mengapa aksi-aksi tersebut menimbulkan kerusuhan dimana-mana.

Dan jangan lupakan tragedi Wamena yang juga menimbulkan korban jiwa hingga 30 orang. Lalu mengapa Pemerintah masih pasif dan selalu menggunakan penanganan aksi dengan cara-cara kekerasan? Ini seperti kesengajaan membiarkan anak-anak bangsa untuk dijadikan tumbal kekuasaan.

Kami Badan Relawan Nusantara mengecam dan mengutuk keras kekejian dan kebrutalan aparat terhadap mahasiswa dan pelajar, serta meminta pucuk pimpinan kepolisian untuk MUNDUR.

Jika situasi seperti ini terus berlangsung dan semakin masif, bukan tidak mungkin rezim Jokowi akan runtuh dan bahkan bisa gagal dilantik pada 20 Oktober 2019, sehingga Jokowi gagal pula menjadi presiden untuk periode kedua, karena pemerintahnya gagal dalam menjalankan amanat perubahan pasca 98.

Kamis, 26 September 2019