Dahsyat! Sexy Killers Bongkar Sisi Gelap Bisnis Batubara di Indonesia

Poster film dokumenter Sexy Killers. (Foto: Int)

Jakarta, Dekannews- Film dokumentar dari rumah produksi Watchdoc Documentary ini cukup fenomenal, karena sejak dirilis pada Sabtu (13/4/2019) di YouTube, hingga Rabu (17/4/2019) pagi ini film berdurasi 1:58:26 ini telah ditonton hingga 10 juta kali.

Tak hanya itu, film ini juga membuat saham PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA), perusahaan milik Menko Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan yang disebut-sebut dalam film itu, Selasa (16/4/2019), jatuh hingga 44,65% atau 710 poin ke posisi Rp880/lembar saham.di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Apa hebatnya film ini?

Sexy Killers berkisah tentang rusaknya wilayah Indonesia, khususnya Kalimantan, akibat penambangan batubara yang dilakukan secara besar-besaran, termasuk oleh perusahaan Luhut.

Film dibuka dengan adegan sepasang pria dan wanita yang nampak seperti sedang berbulan madu, dan terdengar narasi dengan kalimat begini:

 

"Kita semua tahu adegan selanjutnya. Yang tidak kita tahu bagaimana listrik bisa sampai ke ruangan ini".

 

Adegan pun beralih dari terangnya listrik di wilayah perkotaan, kepada gelapnya warna batubara.

 

Narator menceritakan sedikit tentang batubara dan mengapa hal ini relevan dengan adegan sebelumnya.

Menurutnya, batubara merupakan sumber daya penghasil energi yang menghalirkan listrik, namun antara listrik dan batubara hanya bagian kecil dari cerita dalam film ini.

 

Penonton pun kemudian diajak ke suasana di pinggiran Kota Samarinda. Sejumlah petani subuk di sawah yang berada tak jauh dari tambang batubara.

 

Selama bertahun-tahun, para petani ini mengalami krisis air bersih, karena tambang batubara menghancurkan jalur air bersih yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun untuk bercocok tanam.

Praktis, para petani itu dan penduduk yang lain selama bertahun-tahun harus hidup berdampingan dengan lumpur yang merupakan limbah dari pertambangan, dan harus menghadapi kondisi kekurangan air bersih yang menyababkan munculnya berbagai penyakit.

 

Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan akibat kondisi ini, yang ditunjukkan dengan adanya kematian anak-anak akibat lokasi pertambangan batubara yang ternyata juga berada cukup dekat dengan sekolah.

 

Yang lebih memprihatinkan, proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) yang dibangun pemerintah di Batang dan dengan berbahan bakar batubara, juga menyengsarakan nelayan, karena proyek PLTU yang digadang-gadang sebagai proyek PLTU terbesar di Asia Tenggara, dan mampu mengakomodasi kebutuhan listrik 1-2 juta rumah tangga itu, dibangun di pesisir pantai.

Gangguan muncul karena kapal-kapal tongkang pemasok batubara ke PLTU itu mengakibatkan pencemaran dan terganggunya habitat ikan.

Pada adegan ini, penonton disuguhi testimoni warga setempat yang mengeluhkan dampak pembangunan PLTU itu.

 

Mereka mengatakan, akibat pencemaran, mata pencaharian mereka sebagai nelayan terganggu. Hidup mereka menjadi sulit.

Aksi protes atas pembangunan proyek itu pun mengemuka, namun berujung pada kriminalisasi.

Pada Mei 2014, Carman dan Cahyadi, warga setempat, menolak menjual tanahnya untuk proyek itu. Mereka dipidanakan, dan dIvonis tujuh bulan penjara.

Pembangunan pabrik batubara tahap II di Celukan Bawang, Bali, juga menyusahkan rakyat.

 

Seorang petani kelapa, Ketut Mangku, mengaku hasil panennya menurun drastis akibat proyek itu.

"Sebelumnya bisa 9000 kelapa per hari, sekarang hanya sekitar 2500," katanya.

Menurut hasil riset Greenpeace, pabrik itu menimbulkan polusi karena batubara yang diolah dari hasil penambangan, mengandung senyawa merkuri yang bersifat polutan. Senyawa ini juga berbahaya bagi kesehatan, karena partikel bernama PM2,5 dari batubara itu dapat bertahan di udara dalam jangka panjang Jika 650.000 penduduk Bali terus menerus terpapar partikel ini, kehidupan mereka akan terancam.

Sexy Killers lalu memperkenalkan penonton pada tokoh-tokoh di balik seksinya bisnis batubara. Ternyata oligarki perusahaan tambang batubara hanya dimiliki segelintir orang, dan mereka ada di lingkaran kubu capres dan ‎cawapres yang bertarung di Pilpres 2019.

Untuk proyek PLTU, di dalamnya ada PT Adaro dengan nama-nama pengusaha seperti Sandiaga Uno (cawapres 02), Erwin Suryadjaya, Teddy Rachmat, Benny Subianto, dan Garibaldi Thohir (saudara kandung Erick Thohir, juru bicara TKN 01). 

Di proyek ini juga ada nama PT Rakabu Sejahtera yang sahamnya pernah dimiliki Gibran Rakabuning, putra sulung Jokowi, yang jyga sekaligus sebagai komisaris, amun kemudian digantikan oleh Kaesang Pangarep, putra ketiga Jokowi.

 

PT Rakabu Sejahtera adalah perusahaan meubel yang mempunyai berbagai aktivitas seperti kontruksi, pembebasan lahan, hingga pengembangan wilayah transmigrasi, sehingga sering berhubungan dengan grup perusahaan tambang PT Toba Sejahtera yang dimiliki Luhut Panjaitan Jokowi.

Di PT TOBA, dua timses Jokowi duduk sebagai komisaris, yakni Fachrul Razi dan Suaidi Marasabessy.

 

Untuk bisnis pertambangan batubara, ada PT Total Orbit milik Oesman Sapta Oedang (penasihat TKN 01), ada grup Johnlin dengan bos bernama Andi Syamsudin Arsyad (pernah menjadi bendahara TKN 01), MNC Energy & Natural Resources milik Hary Tanoesoedibjo (penasihat TKN 01, ketua umum Perindo) dan Grup Kalla milik Wapres Jusuf Kalla.

Bisnis ini juga digeluti Prabowo Subianto (Capres 02) yang memiliki 8 perusahaan tambang di Kalimantan Timur,  PT Saratoga Investama Sedaya dan PT Adaro milik Sandiaga Uno, PT Hitam Perkasa milik Hasyim Djojohadikusumo (adik Prabowo, BPN 02) dan tiga perusahaan tambang di Berau milik Ferry Musyidan Baldan (BPN 02).

 

Sejumlah media melaporkan, pemutaran film ini yang hanya beberapa hari menjelang Pemilu 17 April 2019, menimbulkan guncangan bagi psikologi publik yang telah menonton, sehingga di beberapa tempat, seperti di Indramayu dan kampus UGM Jogjakarta, film ini dilarang diputar oleh Panwaslu karena dianggap dapat menggiring orang untuk Golput. (rhm)