Cari Formula untuk Cegah Tawuran, Kesbangpol Jakut Gelar Dialog Interaktif

Dialog Interaktif Pencegahan Tawuran yang diselenggarakan Suku Badan Kesbangpol Jakarta Utara di Hotel Gumilang, Cipayung, Kahupaten Bogor, Jawa Barat. (Foto: eko/Dekan)

Jakarta Dekannews- Suku Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Jakarta Utara, sejak Kamis (8/8/2019) hingga Sabtu (10/8/2019) ini menggelar Dialog Interaktif Pencegahan Tawuran di Hotel Gumilang, Cipayung, Kahupaten Bogor, Jawa Barat. 

Kegiatan yang diikuti 100 peserta ini, di antaranya camat, lurah, Babinsa, Banbin kamtibmas, FKDM, RW/RT, mahasiswa, Ormas, guru dan Garda Sekolah ini bertujuan untuk mencari solusi agar tawuran yang kerap terjadi di wilayah Jakarta Utara dapat dihentikan. 

"Kegiatan ini perlu dilakukan mengingat hingga saat ini masih kerap terjadi tawuran antara pemuda hanya disebabkan salah paham. Bahkan tawuran yang kemarin terjadi di Tanjung Priok mengakibatkan dua orang meninggal dunia," kata Kepala Suku Badan Kesbangpol Jakarta Utara, Iyan Sopian Hadi, ketika membuka acara. 

Ia menambahkan, karena hal tersebut ia berharap melalui Dialog Interaktif Pencegah Tawuran, didapat formulasi yang jitu yang dapat menyatukan masyarakat dan mencegah terjadinya tawuran. 

Ia bahkan mengatakan berniat membuat Satgas Tawuran yang bisa meminilisir permasalahan di antara warga dan siswa sekola, sehingga ke depan tawuran di Jakarta Utara bisa dicegah. 

Sosiolog Musni Umar yang hadir sebagai salah seorang pembicara, menjelaskan, tawuran terjadi akibat tidak harmonisnya hubungan dalam keluarga, pengaruh lingkungan yang tidak baik, pengaruh ekonomi yang lesu yang mengakibatkan banyaknya pengangguran, dan faktor politik seperti perebutan kekuasaan yang menyebabkan melemahnya kondisi ekonomi suatu negara. 

“Pencegahan yang paling jitu adalah dengan membangun suasana rumah yang harmonis, membangun komunisasi antara warga dan semua kekuatan, memberi kesibukan kepada para pemuda dengan menciptakan lapangan pekerjaan, membangun kolaborasi antara tokoh agama dengan tokoh masyarakat, dan semua elemen masyarakat seperti FKDM, RW/RT, dan Karang Taruna harus peka terhadap lingkungan dan perkembangan sosial yang dapat mengganggu keamanan yang berpotensi menimbulkan tawuran,” tuturnya. 

Sedang Aris Merdeka Sirait, ketua Komnas Anak, menilai, tawuran terjadi karena pembiaran terhadap kehidupan anak oleh orang tua dan masyarakat yang dapat mempengaruhi karakter si anak, sehingga dapat mudah terpengaruh untuk melakukan tawuran. 

“Untuk itu para orangtua dan tokoh masyarakat yang sengaja melakukan pembiaran terhadap kehidupan anak dan sengaja tidak melakukan tindakan, dapat dikenai pasal dalam UU Perlindungan Anak dengan ancaman lima tahun perjara," tegasnya.  (eko)