BPS Sebut Triwulan III-2019 Pertumbuhan Ekonomi 5,02 Persen, Peneliti Inggris Curiga

Kepala BPS Suhariyanto (kanan) . (Foto: CNBC Indonesia)

Jakarta, Dekannews- Badan Pusat Statistik (BPS) merilis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan III-2019 sebesar 5,02%. 

Kepala BPS Suharyanto dalam keterangan pers di kantornya di Jakarta, Selasa (5/11/2019), menjelaskan, dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh hampir semua lapangan usaha, dengan pertumbuhan tertinggi dicapai Lapangan Usaha Jasa Lainnya yang tumbuh 10,72%.

Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) yang tumbuh sebesar 7,44%.

Ekonomi Indonesia triwulan III-2019 terhadap triwulan sebelumnya meningkat sebesar 3,06%. Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 4,94%.

Dari sisi Pengeluaran, pertumbuhan tertinggi dicapai oleh Komponen Ekspor Barang dan Jasa yang meningkat sebesar 10,87%.

Ekonomi Indonesia sampai dengan triwulan III-2019 (c-to-c) tumbuh 5,04%. Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh semua lapangan usaha, pertumbuhan tertinggi pada Lapangan Usaha Jasa Lainnya sebesar 10,49%.

Sementara dari sisi pengeluaran, pertumbuhan tertinggi pada Komponen PK-LNPRT yang tumbuh sebesar 13,15%.

Struktur ekonomi Indonesia secara spasial pada triwulan III-2019 didominasi oleh kelompok provinsi di Pulau Jawa dan Pulau Sumatera.

Kelompok provinsi di Pulau Jawa memberikan kontribusi terbesar terhadap PDB Indonesia, yakni sebesar 59,15%, diikuti oleh Pulau Sumatera sebesar 21,14 %, dan Pulau Kalimantan sebesar 7,95%. Sementara itu, Pulau Sulawesi dengan kontribusi sebesar 6,43% memiliki laju pertumbuhan tertinggi.

Namun kebenaran rilis data BPS ini dipertanyakan peneliti dari lembaga riset asal Inggris, Capital Economics. Peneliti tersebut, Gareth Leather, curiga data yang dirilis tersebut bukan data sesungguhnya, karena ia meragukan  pertumbuhan PDB Indonesia bisa stabil di angka 5% selama lima tahun terakhir. 

"Peneilitian kami yang khusus meneliti aktivitas Indonesia menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh pada kecepatan yang jauh lebih lemah," kata Gareth seperti dikutip dalam laman resmi Capital Economics, Selasa (5/11/2019).

Menanggapi kecurigaan ini, Suhariyanto mengatakan bahwa BPS tidak bisa asal dalam mengeluarkan data dan dia menjamin data yang sudah dirilis pihaknya sudah akurat.

"BPS ini dimonitor oleh forum masyarakat statistik. Teman-teman IMF (International Monetary Fund)  juga selalu datang ke BPS, minimal sekali setahun dengan timnya untuk check. Dan selama lima tahun berturut-turut, kita dapat statement bahwa data PDB akurat. Sekarang betul nggak bahwa kita stable? Tidak juga, dari 5,17% ke 5,02%, kan turunnya tajam," katanya seperti dilansir CNBC Indonesia

Pertumbuhan ekonomi triwulan III-2019 masih disumbang dari konsumsi rumah tangga, yang menyumbang 56,52% dari keseluruhan PDB, kemudian investasi 4,21%. Ditambah inflasi yang terjaga pada level 3,13% secara tahunan.

Dari semua indikator tersebut, Suhariyanto yakin bahwa PDB triwulan III-2019 yang sebesar 5,02% tersebut tidak salah.

"Data ini kan kita kumpulkan. Kalau saya sampai melakukan sesuatu akan ketemu IMF, dan kalau itu terjadi yang malu bukan hanya BPS, tapi kredibilitas dari negara," tegas dia. (man)