BP Perparkiran Mengaku Sudah Memanggil CV CMA

Pos Pelabuhan Ikan Muara Angke yang tidak dilengkapi gate. (Foto: Dekan)

Jakarta, Dekannews- Badan Pengelola (BP) Perparkiran Dinas Perhubungan (Dishub) DKI Jakarta mengaku sudah memanggil CV Cahaya Muara Angke (CMA) terkait masalah pengelolaan parkir di Pelabuhan Ikan Muara Angke, Jakarta Utara, dan soal pegawai Perjanjian Kerja Waktu Tertentu (PKWT)  atau pekerja kontrak BP Perparkiran yang dikaryakan di perusahaan itu.

"Kami  sudah mengundang mereka tanggal 5 November," kata Ivan,  Humas BP Perparkiran, melalui pesan WhatsApp, kemarin.

Ia menjelaskan, saat mengundang CV CMA, yang dibahas membahas mengenai kesanggupan pihak CV CMA untuk memasang system gate parkir sesuai perjanjian kerjasama (PKS),  dan soal adanya Informasi terkait SDM.

"Pihak ketiga (CV CMA) sudah mengakomodir SDM yang sebelumnya terdaftar sebagai pegawai kontrak UP Perparkiran," katanya.

Ketika ditanya apa hasil pembahasanya, dan jika mamang diakomodir, mengapa pegawai PKWT BP Perparkiran yang dikaryakan di CV CMA tak betah karena harus bekerja selama 12 jam sehari dan dengan sistem yang dinilai tidak jelas? Ivan tidak menjawab.

Ketika ditelepon, Senin (18/11/2019), dia tidak mengangkat

Seperti diberitakan sebelumnya, UP Perparkiran DKI Jakarta dinilai telah melakukan tidakan yang tidak bertanggung jawab karena lepas tangan atas permasalahan yang dihadapi pegawai PKWT-nya yang dikaryakan di CV CMA.

Menurut Fadil Halimi, salah satu PKWT tersebut, ia dan lima rekannya pada Agustus 2019 dikaryakan di CV CMA, perusahaan yang mengelola parkir di Pos Pelabuhan Ikan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, tapi kebanyakan dari mereka tidak betah karena selain sistem kerja yang tidak jelas, juga mereka harus bekerja selama 12 jam/hari, tanpa shift.

Padahal, katanya, saat akan dikaryakan, CMA menjanjikan akan mempekerjakan dengan sistem shift.

"Saya hanya bertahan 14 hari, sementara teman saya ada yang satu hari sudah keluar. Sekarang ini yang masih bekerja di sana tinggal dua orang," kata Fadil kepada dekannews.com di Jakarta, Jumat (15/11/2019).

Pria 40 tahunan ini juga mengatakan bahwa janji CMA untuk menggaji mereka sesuai UMP DKI Jakarta yang pada 2019 ini sebesar Rp3,9 juta, teenyata juga bohong. Karena saat ia keluar, ia hanya diberi Rp1,5 juta.

Fadil mengaku kalau ia dan rekan-rekannya sempat dua kali ke UP Perparkiran untuk mengeluhkan nasib mereka, namun tidak digubris, sehingga sejak keluar dari CMA, hingga kini ia masih menganggur. .

"Karena itu tanggal 11 Oktober saya menulis surat kepada pimpinan UP Parkir dan surat itu saya tembuskan kepala Gubernur, DPRD dan kepala Dishub. Dalam surat itu saya jelaskan apa yang kami alami dan mengutarakan keinginan kami untuk kembali bekerja di UP Parkir," katanya.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, sebagai pengelola parkir di Pos Pelabuhan Ikan Muara Angke, CV CMA memang terkesan tidak profesional.

Seorang warga mengatakan, saat parkir di Pos Pelabuhan Ikan Muara Angke masih dikelola UP Perparkiran, situasi di Pelabuhan Ikan Muara Angke lumayan tertata, namun setelah dikerjasamakan dengan CV CMA, kondisinya berubah. Pasalnya, CMA hanya mengutip retribusi parkir di pos pelabuhan, namun tidak melakukan pengaturan terhadap kendaraan-kendaraan yang masuk. Akibatnya, tak sedikit kendaraan yang diparkir secara sembarangan di tepi jalan sehingga menimbulkan kesan semrawut, dan di beberapa titik terdapat kendaraan yang parkir di kiri dan kanan jalan, sehingga luas ruas jalan menyempit.

Selain hal tersebut, menurut Fadil, sesuai perjanjian dengan UP Parkir, CMA seharusnya memasang gate di pintu masuk sebagai salah satu bentuk profesionalisme dalam pengelolaan parkir, namun hingga kini gate itu tidak ada.

Seorang sumber yang enggan menyebutkan namanya mengatakan, jika CMA dapat mengelola parkir di Pelabuhan Ikan Muara Angke dengan baik dan profesional, pemasukan parkir dari kawasan ini dapat mencapai Rp300 juta/bulan.

"Tapi dari info yang saya dapat, pemasukan saat ini hanya Rp170 juta," katanya. (rhm)